Menjadi Pebisnis Tak Mudah, Harus Waspada!

  • Whatsapp
menjadi pebisnis tak mudah
menjadi pebisnis tak mudah

Pukul 23.00 WIB. Saya masih berada di perjalanan pulang, pekerjaan hari ini terasa lebih berat jika dibandingkan hari-hari lalu. Menikmati angin malam sambil melamun, membuat saya akhirnya mengingat kejadian di masa lalu. Lembaran yang terbuka adalah peristiwa tujuh tahun lalu, dimana saat itu saya masih menjalani sebuah bisnis. Sebelumnya, saya ingin memberikan peringatan bahwa menjadi pebisnis itu tak mudah. 

Saya bangga pada sifat ambisius saya saat menjadi pebisnis yang memiliki tugas sebagai perantara transaksi jual-beli. Bukannya mau sombong, beberapa klien sangat puas dengan pelayanan saya. Semula hanya 8 klien, seiring dengan berjalannya waktu saya dan tim mengurusi ratusan klien.

Read More

Bisa dikatakan, saya adalah tipe yang tidak suka berburuk sangka kepada orang lain. Intinya, saya murni untuk berbisnis. Sampai akhirnya ada satu peristiwa yang membuat saya berpikir menjadi pebisnis itu tak mudah dan memutuskan untuk berhenti menjadi pebisnis. 

Berbagai tuduhan, cacian, hingga yang terburuknya pembatalan kerja sama dari klien mulai menimpa bisnis saya. Bahkan, 90 persen dari klien mengatakan bahwa saya tidak adil dalam hal jual-beli. Saya dan tim berusaha semaksimal mungkin untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari mereka, namun hasilnya nihil.

Sepi. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi bisnis saya saat itu. Sepanjang waktu, saya mencari tahu kebenarannya, akar dari masalah ini. “Bagaimana bisa saya dibilang tidak adil?”, pertanyaan tersebut selalu memenuhi pikiran saya.

Hingga akhirnya, saya menemukan jawabannya. Cukup mengejutkan, kawan saya yang juga profesinya sebagai pebisnis yang nekat menyebarkan fitnah kepada klien-klien saya. Kita sebut saja C.

Yang saya tahu, C adalah seseorang yang pekerja keras. Dirinya membangun usaha kecil hingga namanya besar sampai saat ini tidak main-main. Apa yang membuat C nekat untuk menyebarkan berita yang kenyataannya pun tidak benar?

Kami berdua sama-sama pebisnis, tujuannya tentu ingin memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa embel-embel politik di dalamnya. Namun sepertinya, C sudah melupakan tujuan utamanya. Dia gelap mata. Tidak ingin melihat bisnis saya berkembang.

Sepertinya C sudah gelap mata. Entah yang diincar saat ini keuntungan saja, atau kepentingan politik, ataukah…kekuasaan

Tidak terasa saya sudah tiba di depan rumah. Kenangan di masa lalu yang sebenarnya sudah saya maafkan, sayangnya masih sering diingat. Kira-kira, bagaimana dengan kabarnya ya? Apakah C juga menyikut pebisnis-pebisnis lainnya? Semoga saja sih sudah berubah. Menjadi yang lebih baik tentunya. Ya, menjadi pebisnis memang tak mudah. 

Related posts