Hiu Eksis di Bumi sejak 450 Juta Tahun Lalu, Apa Rahasianya?

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Hiu bukanlah hewan baru di planet ini. Sebagai sebuah kelompok, mereka telah ada setidaknya selama 450 juta tahun.

Read More

Bahkan predator ini mampu selamat dari empat kepunahan massal yang salah satunya memusnahkan dinosaurus nonavian 66 juta tahun lalu pada akhir Zaman Kapur.

Hal tersebut membuat hiu lebih tua dibandingkan dengan dinosaurus yang baru muncul sekitar 240 juta tahun yang lalu. Bahkan pohon, baru berevolusi di Bumi sekitar 390 juta tahun lalu.

Namun, bagaimana mereka bisa eksis selama itu sebagai sebuah kelompok? Apa yang menjadi rahasia kesuksesan mereka?

Dikutip dari Live Science, Selasa (26/7/2022) salah satu penjelasannya adalah hiu mampu memodifikasi fisiologinya sebagai respons terhadap kondisi lingkungan, seperti menyusutnya ukuran tubuh saat suhu meningkat.

Kemampuan ini memungkinkan spesies untuk dengan cepat beradaptasi dengan relung ekologi yang berubah dengan cepat.

Hiu sendiri merupakan kerabat dekat skate, pari, dan chimera yang semuanya termasuk dalam kelompok ikan yang dikenal sebagai chondrichthyes, yang berbeda, karena sebagian besar kerangka mereka terbuat dari rulang rawan.

Salah satu bukti yang menunjukkan bentuk adaptasi itu adalah studi ekspresi gen pada skate, yang mengungkap kemampuan beradaptasi ketika air yang mereka huni berubah menjadi beberapa derajat suhunya.

Populasi skate musim dingin (Leucoraja ocellata) yang tinggal di Teluk selatan St. Lawrence, Kanada mampu beradaptasi dengan suhu air yang meningkat hingga 10 derajat Celcius dalam kurun waktu 7000 tahun.

Adaptasi itu dilakukan dengan mengurangi ukuran tubuh sebesar 45 persen. Dalam evolusi, 7000 tahun adalah waktu yang singkat. Hal itu lah yang membuat para ilmuwan berpikir, bahwa perubahan ukuran skate yang cepat disebabkan oleh respon epigenetik.

Respons epigenetik terjadi di mana ekspresi gen diubah, karena faktor lingkungan daripada seleksi alam secara bertahap.

Sementara, Christopher Lowe, profesor biologi kelautan dan direktur Shark Lab di California State University Long Beach menuturkan, bahwa beberapa hiu unik karena mereka memiliki genom yang sangat besar.

Genom tersebut mungkin mengandung gen yang meskipun tak berguna sekarang, mungkin bermanfaat untuk mentoleris kondisi iklim masa lalu.

 

Selain itu, beberapa spesies elasmobranchii, subkelas dari kelompok ikan bertulang rawan yang mencakup hiu juga dapat berpindah antara lingkungan air tawar dan air asin.

Contohnya saja, hiu banteng yang terkenal agresif adalah salah satu hiu paling terkenal yang mampu hidup di lingkungan air tawar dan asin.

Kemampuan tersebut, membantu spesies hiu masa lalu ketika suhu global berubah dan sejumlah besar air tawar memasuki lautan karena lapisan es yang mencair, dan menopang umur panjang hiu sebagai kelompok.

Kita juga mengenal hiu sebagai karnivora eksklusif, tetapi menurut studi yang dipublikasikan tahun 2018 di jurnal Proceedings of the Royal Society B, hiu adalah pemakan yang lebih beragam.

Mereka bisa melahap berbagai makanan termasuk plankton, ikan, kepiting, anjing laut, dan bahkan paus.

Kemampuan adaptasi ketika mencari makanan itu juga yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup di masa kelangkaan.

Tetapi, meski hiu telah berhasil menghindari kepunahan massal sebelumnya dengan kemampuan berdaptasi mereka, saat ini hiu menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya: aktivitas manusia.

“Hiu telah mampu menghadapi perubahan iklim di masa lalu dengan cukup baik, tetapi tantangan terbesar bagi hiu dan pari dunia saat ini adalah penangkapan ikan yang berlebihan,” kata Gavin Naylor, direktur Florida Program for Shark Research.

“Tidak ada trik pintar yang bisa digunakan hewan-hewan ini untuk menghadapi penangkapan ikan di air,” tambahnya.

Masih ada lagi. Efek polusi, kontaminan, dan hilangnya habitat juga menjadi faktor hilangnya mereka di beberapa tempat.

Peran hiu dalam ekosistem laut secara keseluruhan tak dapat diremehkan. Berhubung begitu banyak hiu yang merupakan predator puncak, mereka kemungkinan memainkan peran penting dalam mengatur stabilitas organisme yang lebih rendah dalam rantai makanan.

“Jika Anda menyingkirkan pemangsa puncak, itu akan menganggu dan mengakibatkan segala macam perubahan dalam sistem,” papar Naylor.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Hiu #Eksis #Bumi #sejak #Juta #Tahun #Lalu #Apa #Rahasianya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts