Studi: 4 Dari 10 Pasien Covid-19 Alami Pembekuan Darah

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Trombosis atau pembekuan darah muncul sebagai masalah utama bagi pasien yang telah sembuh dari infeksi Covid-19.

Read More

Bahkan untuk pasien yang mengalami pembekuan darah, kondisinya sering menjadi fatal dengan gumpalan yang menyebar ke otak, jantung, atau organ vital.

Melansir Times of India, sebuah studi menemukan bahwa secara global, prevalensi trombosis pada pasien Covid-19 ditemukan sebesar 38,8 persen atau hampir empat dari setiap 10 pasien mengalaminya.

Studi telah diunggah secara online untuk peer- review. Adapun penulisnya termasuk Komal Shah, VP Varna, dan Radhika Nimkar dari IIPH Gandhinagar, Dr Kamal Sharma, seorang ahli jantung yang berbasis di Ahmedabad, serta Hasmukh Shah dari Pramukh Swami Medical College di Karamsad.

Tinjauan tersebut mempertimbangkan 25 makalah peer-review yang diterbitkan PubMed antara Desember 2019- Agustus 2021, untuk menilai prevalensi tromboemboli vena (VTE), trombosis vena dalam (DVT), dan emboli paru (PE).

Ditemukan, prevalensi VTE sebesar 16,5 persen, DVT sebesar 10,8 persen, dan PE sebesar 11,5 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Asisten Profesor di IIPH-G Komal Shah mengatakan, penelitian ini merupakan yang pertama dari jenisnya, yang melihat secara spesifik pembekuan darah pada pasien Covid-19 yang sudah ada dan sembuh.

“Temuannya memiliki implikasi bagi dokter dan manajemen pasien pasca-pemulihan. VTE sering tidak terdengar pada pasien Covid-19, tapi karena membawa infeksi ke tingkat sangat lanjut, itu menimbulkan risiko kematian yang lebih besar,” ujar dia.

Dr Shah menambahkan, deteksi dini dan pengobatan seperti pemberian antikoagulan dapat menyelematkan nyawa saat jumlah kasus Covid-19 kembali meningkat di Gujarat dan di tempat lain.

Sementara itu, Direktur IIPH-G Prof Dileep Mavalankar menyampaikan, komplikasi tromboemboli pada Covid-19 ditemukan menjadi penyebab utama kematian dan kesakitan pada pasien.

“Dalam satu kasus, pada fase awal pandemi, seorang pria mengembangkan DVT dan gangren. Karena dia adalah pasien Covid-19 aktif, tidak ada yang siap untuk melakukan amputasi kaki. Ketika dia akhirnya berhasil mendapatkannya, dia tidak dapat bertahan hidup,” ujarnya.

Seorang ahli jantung Dr Kamal Sharma menjelaskan bahwa dibandingkan dengan bukti internasional, kasus di Ahmedabad menunjukkan jumlah emboli yang relatif lebih rendah.

“Saya yakin ini karena pengelolaan data dan tidak memperhatikan masalah, apalagi jumlah kasusnya sangat tinggi,” tutur dia.

“Namun, pembekuan darah pasca Covid-19 adalah masalah besar dan tidak boleh diabaikan,” lanjutnya.

Penelitian terkait tromboemboli vena pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, telah dipilih untuk dipresentasikan pada konferensi yang diselenggarakan oleh American College of Cardiology (ACC) tahun depan.

 

Gumpalan darah atau komplikasi tromboemboli pada pasien Covid-19, dikaitkan dengan peningkatan kadar berbagai protein yang menyebabkan darah menggumpal.

Melansir News Medical, sebuah studi yang dilakukan para peneliti Yale Cancer Center, menemukan terapi untuk merawat pasien dengan pembekuan darah terkait Covid-19.

Temuan tersebut dilaporkan pada Desember 2021 di Pertemuan dan Pameran Tahunan American Society of Hematology (ASH) 2021 di Atlanta, Georgia.

Penelitian dilakukan dengan mengambil darah dari 48 pasien rawat inap pada Desember 2020-Februari 2021.

Dari jumlah tersebut, 24 pasien mempunyai diagnosis infeksi Covid-19 yang dikonfirmasi dan tromboemboli arterti atau vena.

Sementara itu, sebanyak 17 pasien memiliki infeksi Covid-19 tanpa trombosis arteri dan tidak adanya tromboemboli vena dan 7 orang didiagnosis dengan tromboemboli arteri atau vena tanpa adanya Covid-19.

Para peneliti menemukan, kadar beberapa protein lebih tinggi pada pasien dengan Covid-19 yang juga mengalami pembekuan darah.

Salah satu protein secara klasik dikaitkan dengan cedera pada lapisan pembuluh (endotel). Dikarenakan lebih tinggi dalam darah pasien Covid-19, menunjukkan cedera yang lebih parah pada endotelium.

Tingkat protein lain, pentraxin-3, juga lebih tinggi pada pasien yang mengalami pembekuan darah dalam pengaturan Covid-19. Protein ini diproduksi oleh sel endotel selama peradangan, sehingga juga merupakan penanda cedera endotel.

Para peneliti juga menemukan dua protein tambahan, C2 dan C5a juga lebih tinggi pada pasien yang mengalami pembekuan darah dalam pengaturan Covid-19, lipocalin-2 dan resistin.

Penelitian sebelumnya telah mencatat, protein ini merupakan penanda aktivasi neutrofil pada pasien Covid-19, dan kadarnya yang lebih tinggi dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah.

Selain itu, kadar protein SAA dan PECAM-1 juga lebih tinggi pada pasien yang mengalami pembekuan darah akibat Covid-19. Kadar C2 dan C5a juga lebih tinggi pada pasien yang mengalami pembekuan darah dalam kondisi Covid-19, lipocalin-2 dan resistin.

“Ke depan, kami ingin mengevaluasi lebih banyak protein dan memasukkan lebih banyak pasien dalam penelitian kami,” kata Asisten Profesor Kedokteran (Hematologi) di Yale Cancer Center dan penulis senior studi Alexander B Pine, MD, PhD.

“Selain itu, pendekatan proteomik serupa dapat diterapkan untuk mengevaluasi mekanisme dan faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan trombosis pada penyakit inflamasi selain Covid-19,” lanjut dia.

Adapun penulis Yale lainnya dalam penelitian ini termasuk Kelly Borges, Marcus Shallow, Prerak Juthani, Stephen Wang, MD MPH, Akash Gupta, MD, Hyung Chun, MD, dan Alfred Lee, MD, PhD.

Penelitian ini didukung sebagian oleh hibah percontohan dari DeLuca Center for Innovation in Hematology Research.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Studi #Dari #Pasien #Covid19 #Alami #Pembekuan #Darah #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts