Citra Satelit Tangkap Astra Lakukan Deforestasi di Habitat Orangutan Tapanuli

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Citra satelit terbaru berhasil menangkap deforestasi atau perusakan hutan yang dilakukan Astra International pada pekan lalu di wilayah habitat orangutan tapanuli.

Read More

Hal itu disampaikan Mighty Earth, organisasi kampanye global, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (10/11/2021).

Dalam keterangan tertulis tersebut, dipaparkan bahwa sejak tanggal 9 hingga 29 Oktober 2021, anak perusahaan Astra International yakni PT Agincourt Resources tengah mengembangkan tambang emas Martabe di Sumatera Utara.

Tambang ini berada di wilayah habitat orangutan tapanuli yang merupakan spesies kera besar paling langka di dunia.

“Sejak bulan Februari, Astra berencana untuk menakar dampak tambang Martabe terhadap habitat orangutan tapanuli,” ujar Advokat Kampanye Indonesia Mighty Earth, Annisa Rahmawati dalam keterangan tertulisnya.

“Namun, bukti baru ini telah menunjukkan bahwa perusakan hutan terus berjalan ketika pembicaraan mengenai rencana masih berlangsung,” lanjutnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, orangutan tapanuli atau Pongo tapanuliensis diumumkan sebagai spesies orangutan baru pada tahun 2017. Spesies tersebut adalah kera berukuran besar baru pertama yang ditemukan oleh ilmuwan sejak tahun 1920-an.

Di Indonesia, orangutan tapanuli menempati ekosistem Batang Toru di jalur pegunungan hutan hujan Provinsi Sumatera Utara, dan Indonesia merupakan satu-satunya negara selain Republik Kongo yang memiliki tiga spesies kera besar.

Saat ini pun hanya tersisa kurang dari 800 orangutan tapanuli di seluruh dunia.

“Ekosistem Batang Toru di utara Sumatera merupakan satu-satunya habitat orangutan tapanuli dan sepanjang sejarah manusia, belum ada satu pun spesies kera besar yang punah. Satwa ini adalah salah satu kerabat terdekat umat manusia, dan saat ini kita tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan mereka,” kata Annisa.

Lebih lanjut, menurut Mighty Earth, Astra International sangat berperan di sektor kelapa sawit, serta memiliki kebijakan khusus dalam mengenai deforestasi.

Annisa menuturkan, Astra belum berkomitmen untuk mengadopsi sistem nol deforestasi, misalnya pada kegiatan operasional di tambang Martabe

“Padahal banyak pelanggan produk mereka seperti Hershey dan Unilever telah menerapkan komitmen No deforestasi lintas komoditas. Intinya, kelalaian di tambang Martabe ini dapat membahayakan seluruh operasi agribisnis mereka dan memperparah krisis iklim di bumi,” jelasnya lagi.

Dalam rilis yang sama, Roy Lumbangaol selaku Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumatera Utara mengatakn, perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah bagi perusahaan yang dinilai mengancam kehidupan hutan di Indonesia.

“Lanskap ekosistem Batangtoru adalah hutan alam terakhir di Sumatera Utara. Pemerintah harus mengevaluasi kembali seluruh ijin-ijin yang berada di lanskap ekosistem Batangtoru ini dan berani menindak tegas perusahaan yang mengancam keberlangsungan kehidupan di lanskap ekosistem ini,” tulisnya.

Di sisi lain, para ilmuwan memperkirakan bahwa populasi orangutan tapanuli telah menurun drastis sejak tahun 1985, dan kondisi tersebut akan terus berlangsung jika tidak ada perlindungan bagi mereka.

Para ahli biologi konservasi juga memproyeksikan, jika populasi orangutan dewasa berkurang lebih dari satu persen per tahunnya, keragaman genetik primata ini akan menurun hingga akhirnya punah.

Hal tersebut menyebabkan para peneliti dari International Union for the Conservation of Nature (IUCN) menyerukan pemberlakuan moratorium pengembangan proyek yang berdampak langsung pada habitat orangutan tapanuli.

Tidak hanya bagi orangutan tapanuli, Mighty Earth mencatat, lanskap ekosistem Batang Toru merupakan tempat tinggal bagi sejumlah hewan terancam punah lainnya termasuk harimau sumatra, trenggiling, rangkong, beruang madu, tapir, serow, serta beragam spesies langka lainnya.

Kompas.com telah mencoba menghubungi pihak Astra International Tbk terkait pemberitaan ini, namun hingga berita ini tayang, tidak mendapat tanggapan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Citra #Satelit #Tangkap #Astra #Lakukan #Deforestasi #Habitat #Orangutan #Tapanuli #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts