Ilmuwan Ungkap Covid-19 Bisa Sebabkan Kabut Otak hingga Pengaruhi Fungsi Kognitif

  • Whatsapp

KOMPAS.com РMeski pandemi Covid-19 sudah hampir genap dua tahun, para ahli di seluruh dunia masih terus mempelajari berbagai kemungkinan efek samping yang mungkin disebabkan Covid-19. 

Read More

Ada satu efek samping khusus yang terus muncul pada pasien Covid-19, yakni kabut otak atau brain fog.

Melansir Health, Senin (25/10/2021) studi yang diterbitkan tahun 2021 di JAMA Network Open, menganalisis data dari 740 pasien Covid-19 dengan usia rata-rata 49 tahun yang telah sembuh dalam waktu sekitar hampir delapan bulan terakhir.

Para peneliti menemukan, bahwa sebagian besar dari mereka mengalami defisit kognitif atau kesulitan berpikir seperti kabut otak. Mereka mengamati perhatian, memori, kecepatan, pemrosesan, pengodean memori, daya ingat, dan pengenalan.

Secara keseluruhan, ditemukan bahwa defisit kognitif yang paling menonjol pada pengodean memori dan ingatan, yang masing-masing muncul pada 24 persen dan 23 persen dari peserta.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Icahn School of Medicine di Gunung Sinai sejak April 2020 pada pasien Covid-19, penulis studi Jacqueline H Becker mengungkap banyak pasien Covid-19 yang mengeluh kesulitan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kami mulai melihat bahwa, dari waktu ke waktu, begitu banyak pasien yang mengeluhkan kesulitan akibat hal ini (kabut otak),” ujarnya.

Becker mengatakan, dia bersama timnya awalnya mengira mereka akan melihat banyak pasien berusia tua, tetapi sebagian besar orang yang mengalami masalah kognitif ini rupanya pasien dengan usia yang cukup muda.

Kabut otak yang dipelajari Becker ini terkait dengan long Covid. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat bahwa kondisi pasca Covid-19 dapat muncul empat minggu atau lebih setelah tertular virus corona.

Bagaimana Covid-19 menyebabkan kabut otak?

“Ada banyak hipotesis, tetapi kami benar-benar belum memiliki jawabannya,” kata Becker.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah virus SARS CoV-2, virus penyebab Covid-19 yang dapat langsung menyerang sistem saraf pusat serta otak.

“Kami telah melihat ini dalam beberapa studi otopsi, tetapi hal itu bias karena (kabut otak) ditemukan pada orang yang tidak selamat dari Covid,” ungkap Becker.

Teori lain adalah bahwa kabut otak mungkin disebabkan oleh virus yang mengakibatkan peradangan kronis, bahkan setelah seseorang pulih dari Covid-19.

Teori terakhir, menurutnya adalah karena seseorang dapat mengembangkan hipoxia, kondisi kurangnya oksigen ke otak ketika terinfeksi Covid-19. Sehingga, menimbulkan efek samping seperti kabut otak.

“Disfungsi kognitif kemungkinan multi faktorial dan mungkin akibat dari efek virus corona langsung pada sistem saraf pusat, efek kekebalan, beberapa faktor risiko dasar atau kombinasi dari semuanya,” jelas ahli penyakit menular dr Amesh A Adalja.

“Pada pasien yang parah, obat penenang dan obat ICU lainnya mungkin berperan,” lanjutnya.

Berapa lama kabut otak bisa bertahan setelah terpapar Covid-19?

“(Kabut otak) kemungkinan menghilang dari waktu ke waktu pada kebanyakan pasien,” kata Adalja.

Penelitian yang khusus mengamati pasien Covid-19 setelah sembuh, masih menemukan kerusakan tingkat tinggi pada fungsi kognitif. Tapi kondisi ini dinilai bisa sembuh setelah 10 bulan atau lebih.

Meskipun ada banyak hal yang tidak diketahui saat ini, Becker dan timnya terus meneliti kabut otak pasca Covid-19 dan berharap mendapatkan lebih banyak jawaban yang spesifik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Ilmuwan #Ungkap #Covid19 #Bisa #Sebabkan #Kabut #Otak #hingga #Pengaruhi #Fungsi #Kognitif #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts