Korea Selatan Ramaikan Perlombaan Misi ke Luar Angkasa

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Setelah China, India dan Arab Saudi, kali ini misi perlombaan luar angkasa diramaikan dengan kehadiran Korea Selatan. Negeri Gingseng ini luncurkan roket buatan sendiri untuk jelajahi luar angkasa.

Read More

Korea Selatan telah melakukan uji peluncuran pertama roket buatan dalam negerinya, untuk bergabung dengan negara-negara penjelajah luar angkasa yang maju, seperti dilansir dari Aljazeera, Sabtu (23/10/2021).

Presiden Korea Selatan Moon Jae In mengatakan roket tiga tingkat berbendera Korea Selatan yang diluncurkan sambil membawa satelit tiruan, semestinya diluncurkan pada Kamis lalu dari lokasi peluncuran di Goheung, tetapi gagal menempatkan muatannya ke orbit.

Roket ini dinamai Korea Space Launch Vehicle II NURI (KSLV-II NURI). Nama roket luar angkasa Korea Selatan tersebut memiliki arti ‘dunia’, yang memiliki berat hingga 200 ton, panjang 47,2 meter dan dilengkapi dengan enam mesin berbahan bakar cair.

Dikembangkan selama 10 tahun dengan biaya hingga 2 triliun won, roket tiga tingkat tersebut dirancang untuk dapat menempatkan muatan seberat 1,5 ton ke orbit berjarak 600 km hingga 800 km di atas Bumi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Korea Selatan adalah negara dengan kekuatan ekonomi ke-12 di dunia. Negeri Gingseng ini juga dikenal sebagai negara berteknologi maju, namun sayangnya, Korea Selatan masih tertinggal dalam dunia penerbangan luar angkasa.

China, Jepang, dan India, telah memiliki program luar angkasa yang maju.

Bahkan, tetangga Korea Selatan yang bersenjata nuklir, Korea Utara, telah menempatkan satelit seberat 300 kg ke orbit Bumi pada tahun 2012 lalu, mesik dikecam negara-negara Barat sebagai uji coba rudal terselubung.

Misi Korea Selatan menuju luar angkasa

Diawasi oleh Korea Aerospace Research Institute (KARI), roket NURI dipindahkan ke landasan peluncurannya pada hari Rabu dan diangkat ke posisinya.

Dalam sebuah gambar televisi menunjukkan roket NURI dinaikkan ke atas dari lokasi peluncuran di NARO Space Centre di Goheung, yang berlokasi sekitar 500 km di selatan ibukota Korea Selatan, Seoul.

SHUTTERSTOCK/Vadim Sadovski Ilustrasi astronot di luar angkasa

Rencana peluncuran luar angkasa telah menjadi masalah sensitif sejak lama di Semenanjung Korea, di mana Korea Utara menghadapi sanksi atas program rudal balistik nuklirnya.

Sementara, Korea Selatan mulai menyerukan rencana masa depan mereka untuk menjelajahi luar angkasa, dengan rencana misi penyelidikan dan pendaratan di Bulan pada tahun 2030 mendatang.

Rencana misi luar angkasa Korea Selatan ini juga mencakup peluncuran satelit militer, tetapi para pejabat masih menyangkal bahwa roket KSLV-II NURI memiliki kegunaan sebagai senjata.

“Salah satu keuntungan awal terbesar yang berpotensi dengan sistem peluncuran ini adalah bahwa hal itu akan memberikan Korea Selatan kemampuan untuk menempatkan satelit ke luar angkasa yang menyediakan kemampuan untuk memiliki sistem pengawasan atas Korea Utara,” kata Jon Grevatt, seorang analis industri pertahanan.

“Dan ini akan memberi Korea Selatan kemampuan untuk memantau potensi peluncuran rudal balistik dan jelajah milik Korea Utara,” imbuhnya.

Rencana tahap pertama dari peluncuran perdana misi luar angkasa Korea Selatan, Grevatt mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, negara ini berencana untuk mengembangkan dan mulai mengoperasikan serangkaian peluncuran kendaraan luar angkasa dari NARO Space Center.

“Dan kendaraan peluncuran ini akan menempatkan kendaraan kecil ke orbit yang lebih rendah, yang semakin meningkatkan kemampuan pertahanan ruang angkasa Korea Selatan,” katanya.

Program luar angkasa Seoul memiliki rekor tidak tetap, dua peluncuran pertamanya pada tahun 2009 dan 2010, yang sebagian menggunakan teknologi Rusia, keduanya berakhir dengan kegagalan, yang kedua meledak dua menit setelah penerbangan.

Sedangkan peluncuran pertama yang berhasil dilakukan yakni pada tahun 2013, yang terjadi setelah beberapa kali penundaan dan beberapa kegagalan dalam pengujian. Roket itu juga dikembangkan Korea Selatan bersama dengan Rusia.

Kepada kantor berita Reuters, para pejabat mengatakan bahwa dengan memiliki kendaraan peluncuran sendiri akan memberi Korea Selatan fleksibilitas untuk menentukan jenis muatan dan jadwal peluncuran, serta melindungi muatan “rahasia” seperti satelit mata-mata.

“Roket adalah satu-satunya sarana yang tersedia bagi umat manusia untuk pergi ke luar angkasa,” kata Lee Sang-ryul, direktur Institut Penelitian Dirgantara Korea, kepada surat kabar Korea Selatan Chosun Biz.

“Memiliki teknologi seperti itu berarti kami telah memenuhi persyaratan dasar untuk mengikuti perlombaan eksplorasi luar angkasa ini,” kata Lee.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Korea #Selatan #Ramaikan #Perlombaan #Misi #Luar #Angkasa

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts