Melihat dari Dekat Aplikasi Biofertilizer dan Electrifying Agriculture Petani Krisan Gerbosari

  • Whatsapp

Oleh: Dwi Umi Siswanti*

KELURAHAN Gerbosari terletak di lereng Bukit Menoreh yang merupakan bagian dari Kapanewon (Kecamatan) Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

Gerbosari berjarak sekitar 33 kilometer dari Yogyakarta yang dapat dicapai dalam waktu satu jam perjalanan dengan mobil.

Perjalanan dari Yogya menuju Gerbosari setelah masuk Jalan Dekso-Samigaluh, kita akan disuguhi pemandangan hamparan sawah terasering yang dikelilingi Bukit Menoreh. Sejujurnya, inilah tempat yang cocok untuk menepi dari keriuhan kota. Indahnya tak bisa terkatakan. 

Apalagi, saat ini hamparan sawah itu sedang menghijau oleh tanaman padi yang hampir memasuki masa berbunga. Beberapa penggal sawah tampak diselingi bangunan kayu etnik yang menawarkan kopi menorah sebagai sajian utamanya.

Kawasan ini sedang menggeliat mengupayakan berputarnya roda perekonomian kembali dengan produk holtikultura, berupa kopi dan krisan. Ya, bunga krisan yang indah itu, tumbuh subur di daerah ini. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Senin (27/9/2021), Manager UP3 PLN Yogyakarta beserta Tim CSR meluncur ke Gerbosari dalam rangka penyerahan bantuan electrifying agriculture (bantuan instalasi penyiraman otomatis bertenaga listrik) untuk Kelompok Tani Bunga Krisan Guyub.

Bantuan diserahkan oleh Manager UP3 PLN Jogja, Ahmad Mustaqir, kepada Pemerintah Desa Gerbosari, Rudi Hartoyo dan Ketua Kelompok Tani Krisan Guyub, Suharso.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat berbasis Desa Binaan dari Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh penulis sendiri, Dwi Umi Siswanti, ikut serta dalam penyerahan bantuan ini. Tim Pengabdian UGM ini telah bekerjasama dengan petani bunga krisan Kalurahan Gerbosari sejak tahun 2016.

Pada awal tahun 2021 ini, Tim Pengabdian UGM kembali mendampingi Kelompok Tani Bunga Krisan Guyub dalam optimalisasi potensi bunga krisan dengan aplikasi biofertilizer dan pemasaran berbasis experimental economic. Tim ini digawangi oleh Dwi Umi Siswanti (Fakultas Biologi), M Ryan Sanjaya ( Fakultas Ekonomi dan Bisnis) dan Nafiatul Ummah (Fakultas Biologi).

Acara penyerahan bantuan ini juga dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kulon Progo yang diwakili oleh Kabid Holtikultura, Juliwati. Pada kesempatan ini Juliwati menyampaikan dukungan pada upaya petani krisan Gerbosari dalam budidaya krisan organik dengan aplikasi biofertilizer.

Juliwati juga mendukung upaya PLN dan Tim Pengabdian Masyarakat UGM dalam peningkatan produktivitas krisan dengan penggunaan cahaya artifisial (electrifying agriculture).

Krisan yang dibudidayakan secara organik akan dapat didiversifikasi menjadi produk teh bunga krisan, permen krisan, ataupun keripik daun krisan.

Tim Pengabdian Masyarakat UGM melalui penulis, menyampaikan komitmennya untuk mendampingi petani krisan dalam upaya peralihan budidaya krisan anorganik menjadi krisan organik.

Komitmen ini telah dibuktikan dengan pemberian pelatihan produksi biofertilizer dan pelatihan kewirausahaan di Pendopo Agrowisata Krisan pada bulan Juni dan Agustus serta aplikasi biofertilizer pada tanaman krisan milik kelompok tani.

Hasil aplikasi biofertilizer

Aplikasi biofertilizer 20 liter/ha pada tanaman krisan di kobung (greenhouse) krisan Gerbosari memberikan hasil kuantitatif berupa peningkatan tinggi tanaman (73,85 cm) dibanding tanaman krisan dengan aplikasi pupuk anorganik (58,2 cm) pada usia tanam 60 hari.

Tanaman krisan yang diberikan perlakuan biofertilizer juga menunjukkan jumlah daun yang signifikan lebih banyak (56 lembar) dibanding tanaman dengan aplikasi pupuk anorganik (43 lembar).

Apa itu biofertilizer? Bagi pembaca yang belum memahaminya, bisa cek di tulisan penulis sebelumnya

Secara morfologi, daun tanaman yang diberikan biofertilizeri lebih hijau, tebal dan tanaman lebih cepat muncul bunga. Hal ini senada dengan hasil penelitian Ummah dan Siswanti (2020) bahwa terjadi peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang pada tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L.) yang diberikan pemupukan biofertilizer sebanyak 20 liter/ha dan pupuk kandang sebagai pupuk dasar.

Peningkatan pertumbuhan tanaman yang diaplikasikan biofertilizer disebabkan oleh kemampuan mikrobia dalam biofertilizer yang mampu menyediakan hara (N, P, K), zat pengatur tumbuh (ZPT) dan dekomposer bahan organik.

Mikrobia yang digunakan dalam konsorsium mikrobia ini adalah Bacillus sp., Lactobacillus sp., Saccharomyces sp., Streptomyces sp., Pseudomonas sp., Azospirillum sp., Azotobacter sp., Rhizobium sp., dan bakteri penghasil hormon IAA. Nitrogen (N) yang ditambat oleh mikrobia di dalam biofertilizer dapat memacu pertumbuhan tanaman, terutama di fase vegetatif (sebelum pembungaan) serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak dan enzim.

Oleh karena itu, dapat dipahami bila daun tanaman krisan yang diaplikasikan biofertilizer mempunyai warna hijau lebih pekat, helaian lebih kuat dan mempunyai tinggi tanaman serta jumlah daun yang lebih baik dibanding tanaman dengan pemupukan anorganik.

Fosfor (P) bermanfaat dalam pembentukan protein dan mineral, merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, mempercepat pembungaan dan pembuahan. Unsur ini (P) juga sangat berperan dalam pembentukan tenaga (ATP) yang digunakan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan.

Mikrobia dekomposer salah satunya Lactobacillus sp., mampu merombak bahan organik menjadi bahan yang siap diserap oleh tanaman.

Kombinasi biofertilizer 10 liter/ha dan sludge biogas yang diberikan pada tanaman cabai merah keriting (Capsicum annuum L.) memberikan hasil berupa kandungan capsaicin (kadar kepedasan), struktur anatomi daun dan batang yang lebih baik dibandingkan tanaman yang diberikan pupuk anorganik (NPK) (Siswanti dkk, 2019).

Hasil tersebut menunjukkan adanya keunggulan biofertilizer dan sludge dalam penyediaan nutrien bagi tanaman. Kandungan nutrien yang lebih baik ini mendorong pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah keriting lebih cepat sehingga sintesis metabolit sekunder (capsaicin) juga lebih banyak.

Peningkatan kadar metabolit sekunder ini distimulus oleh peningkatan ketersediaan unsur N sebagai bahan penyusun alkaloid.

Apa itu electrifying agriculture?

Electrifying agriculture adalah pemanfaatan energi listrik untuk peningkatan produktivitas pertanian. Pada program pengabdian masyarakat ini, tenaga listrik akan dipergunakan untuk menyalakan lampu LED warna merah dan biru sebagai cahaya artifisial bagi tanaman krisan.

Tim Pengabdian Masyarakat UGM menawarkan teknologi penggunaan cahaya artifisial (merah-biru) untuk peningkatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan.

Cahaya merah yang memiliki panjang gelombang 620-750 nm dan cahaya biru dengan panjang gelombang 450-495 nm merupakan dua jenis cahaya dengan spektrum dominan diabsorb oleh tanaman (klorofil a, klorofil b maupun karotenoid).

Wahyuni dkk (2017) menyebutkan bahwa penggunaan lampu LED warna merah dan biru pada tanaman krisan mampu meningkatkan laju tinggi tanaman dan jumlah daun serta luas kanopi.

Rencana aplikasi penyinaran merah-biru di kobung krisan Gerbosari ini sejalan dengan program PLN Peduli untuk meluaskan jangkauan kemanfaatan listrik bagi pertanian (electrifying agriculture) (Kompasiana.com, 10/02/21).

Diharapkan, rencana kolaborasi Tim Pengabdian Masyarakat UGM dan CSR UP3 PLN Yogyakarta dalam pendampingan Kelompok Tani Krisan Guyub dengan aplikasi biofertilizer dan electrifying agriculture terwujud di tahun 2022. 

Pendampingan petani 

Aplikasi biofertilizer dan electrifying agriculture pada tanaman krisan Gerbosari diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan perluasan diversifikasi produk krisan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani krisan di Kalurahan Gerbosari.

Kelompok Tani Krisan Guyub Gerbosari dengan 120 kobung krisan (1,2 hektar) saat ini mengalami keterpurukan pendapatan akibat menurunnya permintaan bunga krisan imbas dari pandemi (1,5 tahun).

Bunga krisan organik disamping mempunyai pertumbuhan yang lebih baik juga menjadi bahan utama produk olahan krisan berupa teh bunga krisan, permen krisan, dan keripik daun krisan.

Ketiga produk makanan ini diharapkan menopang perekonomian petani krisan di masa pandemi. Tim Pengabdian Masyarakat UGM memberikan pendampingan produksi biofertilizer dan pendampingan pemasaran produk olahan bungan krisan dengan sistem pemasaran online atau pemanfaatan marketplace serta packaging produk olahan krisan.

Aplikasi hasil penelitian yang didukung oleh pendanaan dari CSR dan diawaki oleh tenaga terampil petani krisan serta dukungan pemerintah daerah (Dinas Pertanian dan Pemerintah Desa) menjadi suatu penopang peningkatan produksi bunga krisan dan produk olahannya. Bersama, petani berdaya. (*Dwi Umi Siswanti, Mahasiswa Program Doktor Fakultas Biologi, UGM)

#Melihat #dari #Dekat #Aplikasi #Biofertilizer #dan #Electrifying #Agriculture #Petani #Krisan #Gerbosari

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts