Cegah Penyakit Kardiovaskular Melalui Pengelolaan Diabetes dan Dislipidemia

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Di tengah permasalahan pandemi yang menyita perhatian dari segala pihak, pencegahan komplikasi penyakit kardiovaskular melalui pengelolaan dislipidemia dan diabetes merupakan hal yang tidak kalah penting.

Read More

“Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), peningkatan kadar trigliserida serta penurunan High Density Lipoprotein (HDL)” kata Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, KEMD, Ketua Divisi Endokrin Metabolik dan Diabetes, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM dalam siaran pers Jakarta Endocrine Meeting (JEM) 2021 yang diterima Kompas.com, Kamis (12/8/2021).

Berdasarkan National Cholesterol Education Program Adult Panel III (NCEP-ATP III), seseorang dikatakan memiliki kadar lipid abnormal ketika terjadi peningkatan kolesterol total (≥240 mg/dl), peningkatan kadar kolesterol LDL (≥160 mg/dl), kadar kolesterol trigliserida (>200 mg/dl), atau rendahnya kadar kolesterol HDL (<40 mg/dl)1.

Profil lipid dalam hal ini dijelaskan sebagai tes kolesterol yang meliputi kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan trigliserida. Tujuannya adalah untuk mengetahui jumlah kolesterol dan trigliserida dalam darah seseorang.

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemeriksaan profil lipid rutin sangat dianjurkan pada pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, aterosklerosis pada pembuluh darah manapun dan keadaan klinis yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik.

“Pengelolaan dislipidemia memerlukan strategi yang komprehensif yang tidak hanya mengendalikan kadar lipid namun juga faktor metabolik lainnya seperti hipertensi, diabetes dan obesitas,” kata dr Tri Juli.

Pengobatan yang dimaksud terdiri dari terapi non farmakologis seperti aktivitas fisik, nutirsi, penurunan berat badan, berhenti merokok, serta terapi farmakologis melalui obat anti lipid.

Ia juga menambahkan bahwa aktifitas fisik yang disarankan berupa jalan cepat, bersepeda statis atau berenang setidaknya selama 30 menit sebanyak 4 sampai 6 kali seminggu disertai diet rendah kalori.

Di kesempatan yang sama, Dr. dr. Wismandari Wisnu, Sp.PD, KEMD Ketua Jakarta Diabetes Meeting 2021, mengatakan bahwa selain dislipidemia, diabetes juga merupakan penyakit yang memerlukan pengelolaan tepat untuk mencegah komplikasi kardiovaskular.

Ilustrasi pemeriksaan penyakit jantung koroner atau arteri koroner. Penyakit kardiovaskular.

Ia menjelaskan bahwa diabetes mengacu pada sekelompok penyakit yang disebabkan oleh adanya kelebihan gula dalam darah. Hal ini bisa memunculkan masalah kesehatan yang lebih serius.

“Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat prevalensi diabetes melitus menurut hasil pemeriksaan gula darah meningkat dari 6,9 persen pada 2013 menjadi 8,5 persen pada tahun 2018. Angka ini menunjukkan bahwa baru sekitar 25 persen penderita diabetes yang mengetahui bahwa dirinya menderita diabetes” ujar Dr. Wismandari.

Selain itu, prevalensi diabetes melitus pada penduduk berusia lebih dari 15 tahun mencapai 10,9 persen yang berarti hampir meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.

Menurut estimasi WHO tahun 2016, diabetes merupakan salah satu dari penyebab kematian terbanyak di Indonesia, dimana menyebabkan 6 persen dari seluruh total kematian.

Terapi utama pada penderita diabetes adalah dengan penggunaan insulin.

 

 

Insulin memiliki peran yang sangat penting terlebih ketika penggunaan obat-obatan tidak lagi memiliki efek baik. Penggunaan insulin juga aman digunakan oleh Ibu hamil.

Menurut WHO, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia pada tahun 2016, yakni sebesar 35 persen dari keseluruhan total kematian.

Penyakit kardiovaskular yang sering terjadi sebagai komplikasi pada diabetes adalah penyakit jantung koroner, stroke dan penyakit arteri perifer. Sementara kenaikan kolesterol LDL pada dislipidemia juga berhubungan langsung dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik.

Penelitian yang dilakukan oleh Hussain dkk, penyebab terbanyak dari penyakit jantung koroner di Indonesia pada laki-laki adalah karena merokok sebesar 28 persen, hipertensi 20,1 persen, kolesterol tinggi 7,7 persen, obesitas 7,7 persen dan diabetes sebesar 6,4 persen.

Sedangkan pada perempuan adalah hipertensi sebesar 24,1 persen, kolesterol tinggi 16,7 persen, kelebihan berat badan 12,1 persen, diabetes 12,0 persen, dan merokok 1,3 persen.

#Cegah #Penyakit #Kardiovaskular #Melalui #Pengelolaan #Diabetes #dan #Dislipidemia #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts