Harmoni Konservasi Tumbuhan Di Pulau Dewata

  • Whatsapp

Oleh: Rizmoon Nurul Zulkarnaen, S.Hut., M.Si.

Read More

Usia 62 tahun menjadikan refleksi besar terhadap eksistensi Kebun Raya “Eka Karya” Bali di tataran perkonservasian tumbuhan di Indonesia, bahkan dunia.

Yang perlu diketahui juga, Kebun raya ini merupakan warisan megah nan fenomenal, sebuah karya anak bangsa, Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo.

Tentu berbeda dengan kebun raya lainnya yang masih menjadi peninggalan sejarah jaman kolonial, seperti Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, dan Kebun Raya Purwodadi.

Pantas saja, nama kebun raya di Pulau Dewata ini bernama Eka Karya. Eka mempunyai arti yang pertama dan Karya adalah buah dari hasil pekerjaan/perbuatan.

Kebun raya yang merupakan karya pertama bangsa Indonesia. Sebuah karya fenomenal anak bangsa yang menjadi kebanggan hingga saat ini. Sebuah tema konservasi dan budaya dalam harmoni menjadi lekat dan tidak terpisahkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, kebun raya di Pulau Dewata tersebut juga sangat menonjolkan aspek budaya yang ke-Indonesia-an sekali.

Sebuah peninggalan sejarah yang tidak mungkin dapat dilupakan, karena semua ide dan gagasan serta pembangunan benar-benar dari anak bangsa.

Tidak hanya berkiblat dalam konservasi tumbuhan, namun merawat budaya bangsa melalui ilmu pengetahuan juga merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan kebun raya ini.

Dan dari sinilah, cikal bakal semangat pembangunan kebun raya daerah di seluruh penjuru Indonesia yang mengedepankan budaya lokal dalam setiap pembangunannya.

Sungguh menakjubkan, dalam publikasi “Review 10 Tahun Pembangunan Kebun Raya Indonesia” disebutkan juga, bahwa jumlah terkini kebun raya daerah yang aktif mencapai 36 kebun raya.

Sebuah capaian luar biasa, dalam dukungan dalam ke-konservasi-an tumbuhan Indonesia melalui pembangunan kebun raya daerah ini.

Satu hal yang menarik lagi adalah, bahwa kebun raya di Pulau Dewata ini juga dikenal sebagai Kebun Raya Bedugul. Tentu, hal ini berkaitan dekatnya dengan obyek wisata lainnya di kawasan Bedugul, Bali.

Integrasi konservasi dan wisata, serta penelitian menjadi kunci penting dalam perjalanan kesuksesan Kebun Raya Bedugul.

Siapa yang bisa menyangka, bahwa pada awalnya kebun raya yang dulunya merupakan kawasan khusus untuk uji coba tumbuhan, menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Pulau Dewata.

Padahal jika menelisik lebih dalam, kebun raya tersebut tetap masih menjadi kawasan eksisting konservasi eksitu, di mana objek tumbuhan didalamnya merupakan jenis-jenis tumbuhan yang tidak hanya berasal dari Bali saja, tetapi juga berasal dari luar Bali.

Bahkan, aspek penelitiannya pun masih menjadi primadona, terutama untuk tema-tema tumbuhan dataran tinggi.

 

Berpikir Positif

Dalam Perpres No 93 Tahun 2011, disebutkan bahwa fungsi kebun raya yaitu konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan.

Namun, di tengah kondisi pandemi yang sekarang, tentu fungsi wisata menjadi yang paling berdampak.

Di sisi lain, dari pandangan konservasi secara luas, justru menguntungkan. Kenapa demikian?

Hal ini tentunya sangat erat kaitannya dengan kondisi koleksi tumbuhan yang mungkin perlu sejenak merasa lega dan nyaman dari hiruk pikuknya wisatawan, polusi kendaraan, dan sampah tentunya.

Pilar konservasi juga menghendaki tumbuhan dapat bergenerasi dengan baik. Mungkin inilah saatnya yang tepat untuk mereka tumbuh dengan optimal.

Kemudian, fungsi jasa lingkungan yang menjadi semakin terasa. Suplai oksigen alam yang melimpah tanpa harus bersaing dengan polusi kendaraan. Begitu juga, upaya penyerapan air dan jasa-jasa lingkungan lainnya yang mungkin tidak bisa kita konversi dalam bentuk materi.

Ada kata-kata bijak, “selalu ada hikmah dalam setiap kejadian”. Mungkin saja, kejadian pandemi ini bisa menjadi hikmah tersendiri terhadap perkembangan konservasi secara umum di seluruh Indonesia.

Tentunya, segudang pekerjaan rumah (PR) menanti setelah pandemi ini berakhir. Para konservasionis dan praktisi, harus mempunyai langkah strategis yang perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan daya saing konservasi tumbuhan di Indonesia.

Dan belum lagi dengan kondisi penyatuan lembaga riset nasional dan daerah dalam wadah BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), juga seharusnya mampu menjadi momentum kebangkitan konservasi nasional.

Peluang

Langkah konservasi tumbuhan di Indonesia selalu menjadi sorotan dunia. Indonesia yang dikenal sebagai surganya tumbuhan tropis.

Namun, di sisi lain Indonesia juga termasuk dalam daftar top 25 negara dengan tingkat hotspot biodiversity yang tinggi.

Bahkan, Data terkini International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan ada sekitar 3.690 tumbuhan Indonesia yang masuk dalam list tumbuhan terancam, dan 831 di antaranyamerupakan jenis tumbuhan yang terancam kepunahan (CR (Critically Endangered), EN (Endangered), dan VU (Vulnerable)). Sebuah fakta yang mengejutkan tentunya.

Tetapi, semangat konservasi membara juga harus tetap berkobar tiada henti dan estafet konservasi juga perlu tertransfer secara menyeluruh kepada penerus konservasi di masa yang akan datang dengan tetap berprinsip pada Kelestarian (Suistainability) dan Pilar Konservasi.

 

Inilah mungkin yang menjadi salah satu makna yang terharmonikan dalam konservasi.

Peningkatan perubahan lahan, ancaman alam, dan manusia tentunya tetap menjadi ancaman terhadap keberadaan tumbuhan-tumbuhan asli Indonesia.

Ini tentu menjadi peluang sekaligus tantangan juga, terlebih khusus pada tumbuhan-tumbuhan dataran tinggi yang dimungkinkan sedang menghadapi ancaman perubahan tata bentangnya yang lebih besar.

Adanya lembaga konservasi tumbuhan eksitu bertemakan dataran tinggi, seperti Kebun Raya “Eka Karya” Bali, menjadikannya secercah harapan dalam eksistensi penyelamatan tumbuhan-tumbuhan khas dataran tinggi.

Dirgahayu Kebun Raya “Eka Karya” Bali ke 62. Tetap jaga semangat konservasi dan tetaplah menjadi garda terdepan konservasi untuk jenis-jenis tumbuhan dataran tinggi kering.

 

Rizmoon Nurul Zulkarnaen, S.Hut., M.Si.

Peneliti Konservasi Tumbuhan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

#Harmoni #Konservasi #Tumbuhan #Pulau #Dewata #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts