Bapak Arkeolog Indonesia Mundardjito Meninggal Dunia, Ini Sosoknya

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Kabar duka cita menyelimuti dunia arkeologi Indonesia. Bapak Arkeologi Indonesia, Prof. Dr. Mundardjito meninggal dunia hari ini, pada pukul 12.40 WIB di Rumas Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Read More

Prof. Mundardjito merupakan Guru Besar Purnabakti Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Dikatakan Ketua Departemen Arkeologi UI, Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi, M.Hum, prof. Mundardjito meninggal dunia karena penyakit asma yang telah dideritanya sejak lama.

“Terakhir menurut keluarga, banyak slam yang tidak bisa dikeluarkan, karena tenggorokannya sudah lemah, makan juga sudah susah, jadi slamnya terjebak tidak bisa dikeluarkan,” ujar Wanny kepada Kompas.com, Jumat (2/7/2021).

Menurut Wanny, Prof. Mundardjito atau yang kerap disapa Pak Oti ini adalah sosok yang bisa menanamkan rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap profesi arkeolog.

“Beliau jugakan seseorang yang sepanjang hidupnya tidak lepas dari upaya mendidik, bukan hanya di bidang arkeolog, tapi juga kebudayaan,” katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, Pak Oti juga menjadi sosok favorit yang dikagumi dan dihormati para mahasiswa, karena sikapnya yang selalu terbuka untuk berbagi ilmu dan mampu membangkitkan semangat.

Diakui Wanny, banyak momen kebersamaan yang telah dilalui dengan Pak Oti, sejak dari proses penulisan skripsi hingga selanjutnya dipercaya untuk mendampingi

“Dulu saat menyelesaikan skripsi S1, saya sempat stress karena harus menulis sesuatu yang belum pernah ditulis orang lain. Tapi beliau selalu mendorong dan meyakinkan saya sampai selesai. Sejak saat itu, saya diminta menjadi asisten beliau, membantu disertasinya, dan sampai sekarang saya yang menggantikan beliau di UI,” kenangnya.

Wanny juga menuturkan, Mundardjito selalu serius menyiapkan setiap materi yang akan disampaikan di kelas.

“Dari zaman dulu, saat masih menggunakan over head projector, beliau rajin menulis sendiri setiap materi yang akan disampaikan. Beliau bikin dengan tulisan warna-warni di lembaran transparant. Jadi, mudah dipahami materinya”

“Beliau juga selalu terbuka setiap kali ada yang bertanya tentang apa pun soal arkeologi, dengan lugas beliau akan memberi pencerahan. Ini salah satunya yang saya contoh sebagai pengajar,” pungkas Wanny.

 

Sekilas tentang Mundardjito

Mundardjito lahir di Bogor pada tanggal 8 November 1936, merupakan anak kedua dari enam bersaudara dari dokter hewan Soedarjo yang merupakan Kepala Kebun Raya Bogor.

Saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri Bogor pada tahun 1952 hingga 1955, Mundardjito mulai tertarik dengan arkeologi, karena gurunya merupakan seorang arkeolog yang berasal dari Jakarta.

Pada tahun 1956, Mundardjito memilih Jurusan Arkeologi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mundardjito lulus sebagai sarjana pada tahun 1963 dengan skripsi yang mengambil tema penelitian di Bayat, Klaten dan menjadi asisten dosen arkeologi di Universitas Indonesia.

Dia mendapatkan beasiswa untuk belajar metodologi arkeologi di Universitas Athens pada tahun 1969 selama dua tahun bersama Noerhadi Magetsari.

Pada tahun 1971, ia mengenalkan ilmu metodologi arkeologi yang dia pelajari dari Universitas Athens di Yunani, sekaligus membuat cabang ilmu baru, yaitu ekologi dalam arkeologi ruang pada tahun 1993.

Mundardjito juga mendapatkan beasiswa untuk belajar teori arkeologi di Universitas Pennyslvania, Amerika Serikat selama satu tahun.[5]

Mundardjito meraih gelar doktoral di UI pada tahun 1993 tanpa melalui pendidikan magister dengan gelar cum laude yang dipromosikan oleh Harsja W. Bachtiar dengan disertasi berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro.

Setelah menjadi dosen tetap UI sejak tahun 1964, ia diangkat menjadi Ketua Jurusan Arkeologi UI pada periode 1970 sampai 1972. Kemudian, sempat menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Sastra UI dari tahun 1972 hingga 1976.

Selanjutnya, Mundardjito diangkat sebagai Guru Besar UI pada tahun dan pada tahun 2001 memutuskan pensiun saat berusia 65 tahun.

Sepanjang hidupnya, Mundardjito telah mendapatkan beberapa penghargaan, sebagai berikut:

– Penghargaan satyalancana tiga puluh tahun dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 1994

– Gelar bangsawan Kanjeng Raden Haryo dari Paku Buwono XIII di Keraton Solo pada tahun 2010.

– Penghargaan Satyalacana Kebudayaan pada tahun 2013.

– Penghargaan Bakrie Award kategori pemikiran sosial pada tahun 2014.

Selamat jalan Bapak Arkeolog Indonesia!

#Bapak #Arkeolog #Indonesia #Mundardjito #Meninggal #Dunia #Ini #Sosoknya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts