Bumi Menyerap 2 Kali Lebih Banyak Panas Dibanding 2005, Ini Penyebabnya

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Menurut studi terbaru, saat ini Bumi menyerap panas dua kali lebih banyak dibanding 16 tahun lalu atau 2005.

Read More

Para ahli khawatir, tren ini dapat meningkatkan kemungkinan percepatan perubahan iklim.

Untuk penelitian tersebut, peneliti melihat data dari instrumen Clouds and the Earth’s Radiant Energy System (CERES), bagian dari Earth Orbiting System milik NASA.

CERES ini didesain untuk mengukur intensitas cahaya matahari yang dipantulkan dari dan emisi radiasi yang dipancarkan oleh permukaan atmosfer dan permukaan bumi.

Dari sinilah peneliti mengukur berapa banyak energi yang diserap Bumi dalam bentuk sinar matahari dan berapa banyak energi yang dikembalikan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi sinar merah.

Dilansir dari Live Science, Senin (28/6/2021), selisih antara energi yang diserap masuk dan energi yang keluar tidak seimbang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penelitian menemukan bahwa pada periode 2005 hingga 20019, ketidakseimbangan energi besarnya dua kali lipat lebih besar.

Para ilmuwan menggunakan data tambahan dari Argo, jaringan sensor robotik internasional yang tersebar di seluruh lautan di dunia, yang mengukur tingkat pemanasan lautan.

Para peneliti mengatakan, dengan membandingkan data CERES dengan Argo dapat membantu memperkuat bukti. Ini karena lautan global diketahui menyerap hingga 90 persen kelebihan energi (panas) yang terperangkap bumi.

“Dua cara yang sangat independen untuk melihat perubahan ketidakseimbangan energi Bumi benar-benar cocok, dan keduanya menunjukkan tren yang sangat besar ini,” kata Norman Loeb, penulis utama studi baru dan penyelidik utama untuk CERES di NASA Pusat Penelitian Langley di Hampton, Virginia.

“Tren yang kami temukan cukup mengkhawatirkan,” tambahnya.

Loeb dan timnya menyimpulkan bahwa peningkatan energi panas yang diserap bumi adalah hasil dari proses yang terjadi secara alami dan buatan manusia.

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana di atmosfer bumi menyebabkan lebih banyak panas yang terperangkap oleh planet kita.

Sementara itu, ukuran lapisan es yang menyusut, yang disebabkan oleh pemanasan planet, menyebabkan lebih sedikit energi yang masuk dan dipantulkan dari permukaan planet.

Tetapi para peneliti menemukan bahwa pola berulang alami yang disebut Pacific Decadal Oscillation (PDO) juga berkontribusi.

Siklus PDO menyebabkan fluktuasi reguler pada suhu Samudra Pasifik dengan bagian baratnya menjadi lebih dingin dan bagian timur memanas selama sepuluh tahun, mengikuti tren yang berlawanan satu dekade setelahnya.

Fase PDO yang luar biasa intens yang dimulai sekitar tahun 2014 menyebabkan pengurangan pembentukan awan di atas lautan, yang juga mengakibatkan peningkatan penyerapan energi yang masuk oleh planet ini, kata para ilmuwan.

“Ini kemungkinan campuran dari kekuatan antropogenik dan variabilitas internal,” kata Loeb, mengacu pada efek aktivitas manusia pada pertukaran panas antara atmosfer Bumi dan lingkungan ruang sekitarnya dan variasi alami dalam perilaku ekosistem planet.

“Selama periode ini keduanya menyebabkan pemanasan, yang menyebabkan perubahan yang cukup besar dalam ketidakseimbangan energi Bumi. Besarnya peningkatan belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan ini.”

Loeb menambahkan bahwa sementara penelitian ini hanya menangkap waktu yang singkat, tingkat penyerapan panas menunjukkan bahwa iklim Bumi bahkan lebih tidak seimbang daripada yang diperkirakan sebelumnya dan bahwa efek yang lebih buruk dapat terjadi, termasuk suhu yang lebih curam dan kenaikan permukaan laut. Kecuali tren ini membaik.

Studi ini diterbitkan 15 Juni di jurnal Geophysical Research Letters.

#Bumi #Menyerap #Kali #Lebih #Banyak #Panas #Dibanding #Ini #Penyebabnya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts