Hari Vitilago Sedunia, Perdoski Serukan Jangan Tutupi dengan Make Up

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Pertama kali diresmikan pada 2011, 25 Juni diperingati sebagai Hari Vitiligo Sedunia. Tanggal ini bertepatan dengan hari kematian penyanyi legendaris dunia, Michael Jackson, yang semasa hidupnya mengidap vitiligo.

Read More

Hari Vitiligo sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit langka yang jarang dikenali ini.

Indonesia melalui Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) atau Indonesian Society Dermatologu and Venereology (Insdv) mendapat kesempatan menjadi penyelenggara kegiatan World Vitiligo Day yang ke-11.

Apa itu vitiligo?

Vitiligo merupakan suatu penyakit depigmentasi yang ada di kulit, membran mukosa (lapisan kulit dalam), dan rambut.

Vitiligo memiliki karakteristik lesi khas berupa makula berwarna putih susu (depigmentasi) dengan batas jelas dan bisa bertambah besar akibat hilangnya melanosit fungsional.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Vitiligo bisa muncul saat seseorang beranjak dewasa. Ini disebabkan oleh matinya sel melanosit yang bertugas memproduksi warna kulit.

Penyebab matinya sel melanosit dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti genetik atau keturunan, penyakit autoimun, dan faktor eksternal seperti terbakar sinar matahari atau bahan kimia.

Sebenarnya saat seseorang menyadari vitiligo mulai muncul di kulit atau gejala awal terdeteksi, dan dia segera mendapat penanganan yang tepat, penyakit ini dapat dicegah agar tidak berkembang di tubuh penderita.

Prevalensi vitiligo di seluruh dunia sekitar 0,5 sampai 2 persen. Prevalensi yang sama juga terjadi di Indonesia.

“Prevalensi global vitiligo yaitu sekitar 0,5 sampai dua persen. Ini bukan penyakit berbahaya, tapi memberi dampak emosional yang membahayakan,” kata Menkes Budi Gunadi dalam webinar perayaan Hari Vitiligo Dunia ke-11 yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelanin Indonesia (Perdoski) pada Jumat (25/6/2021).

Menkes Budi pun mengatakan, kolaborasi dari berbagai pihak mulai dari dokter kulit hingga keluarga akan sangat membantu dalam mengoptimalkan perawatan pasien vitiligo.

SHUTTERSTOCK Vitiligo dapat terjadi di sejumlah area tubuh, bahkan rambut.

Populasi laki-laki dan perempuan yang mengalami penyakit ini seimbang.

Namun pada pasien perempuan dan anak, masalah psikososial lebih terlihat dan menjadi masalah.

“Kunci bagi pasien adalah penerimaan diri. Warna kulit kita tidak menentukan kecantikan kita. Beda itu cantik,” kata Budi.

Dalam acara Webinar bertajuk Embracing life with Vitiligo itu, Pengurus Perdoski Dr dr Reiva Farah Dwiyana, SpKK(K), PhD, FINSDV, FAADV, mendorong pasien-pasien vitiligo agar tetap optimis.

Dia pun mengkampanyekan istilah dare to bare atau atau berani untuk menunjukkan vitiligonya, bukan ditutupi dengan make up atau baju.

Dia pun menyadari, penerimaan pada penyakit vitiligo hingga berani menunjukkannya sangat sulit.

“Tetapi dengan menerima dan merangkul vitiligo dengan penuh ikhlas, akan menumbuhkan rasa percaya diri untuk terus berusaha,” kata Reiva di kesempatan yang sama.

“Berikhtiar secara medis, psikologis, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, akan membantu menumbuhkan rasa self love. Menerima kondisi tubuh apa adanya dan berteman dengan Vitiligo,” imbuh dia.

Dengan begitu, diharapkan pasien vitiligo dapat lebih produktif, sehat, dan terjadi repigmentasi spontan akibat menurunnya kadar oksidan di dalam tubuh.

Dia menyampaikan, stres juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat vitiligo semakin melebar di permukaan kulit.

#Hari #Vitilago #Sedunia #Perdoski #Serukan #Jangan #Tutupi #dengan #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts