3 Varian Virus Corona yang Masuk ke Indonesia, Kenali Gejala hingga Bahayanya

  • Whatsapp

KOMPAS.com- Virus corona terus bermutasi sejak pandemi penyakit yang kemudian disebut Covid-19 ini merebak awal 2020 lalu. Varian-varian virus corona ini pun mulai menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Read More

Kementerian Kesehatan telah mengonfirmasi adanya tiga varian baru virus corona yang telah masuk ke Indonesia. Ketiganya di antaranya berasal dari Inggris yang disebut varian B.1.1.7, varian B.1.351 dari Afrika Selatan dan varian Covid-19 India yang dikenal sebagai B.1.617.

Mutasi virus corona SARS-CoV-19 telah diketahui sejak pertengahan tahun 2020. Di tengah wabah semakin banyak menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia.

Seperti diberitakan Kompas.com, Jumat (8/5/2020), Oscar MacLean, seorang Bioinformatika di Pusat Penelitian Virus University of Glasgow, Inggris mengatakan bahwa mutasi virus adalah fitur replikasi virus yang pasti terjadi.

“Ini tidak bisa dihindari. Meskipun penting untuk memantau mutasi virus, tapi bukan berarti jadi satu-satunya perhatian,” kata dia seperti dilansir dari Newsweek.

 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Virus SARS-CoV-2 telah bermutasi, tapi ilmuwan menilai bahwa itu bukan suatu hal yang mengejutkan. Sebab, mutasi suatu virus adalah siklus yang normal. Berikut ini tiga varian virus corona di Indonesia, dari bahayanya hingga gejalanya.

1. Varian Inggris B.1.1.7

Varian B.1.1.7 adalah salah satu mutasi virus corona yang kali pertama muncul di Inggris.

Lonjakan kasus Covid-19 di beberapa wilayah di Inggris, membuat para ilmuwan mencoba mengidentifikasi penyebabnya.

Para ilmuwan kemudian menemukan mutasi virus corona membuat virus SARS-CoV-2 menjadi lebih menular. Kendati telah melakukan lockdown ketat, namun akhirnya varian virus corona Inggris ini menyebar ke sejumlah negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (1/5/2021), varian virus corona B.1.1.7 dari Inggris ini teridentifikasi di Indonesia untuk kali pertama pada awal Maret 2021.

AP PHOTO/RAJESH KUMAR SINGH Anggota keluarga memberi penghormatan terakhir kepada kerabat mereka Rajendra Prasad Mishra, seorang pria berusia 62 tahun yang telah kehilangan nyawanya karena infeksi virus corona sebelum dikremasi di Sungai Gangga di Phaphamau di Prayagraj, India, Sabtu (8/5/2021).

Ditemukan enam kasus yang tersebar di Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Mutasi virus SARS-CoV-2 yang pertama kali terdeteksi di wilayah Kent, Inggris ini, adalah salah satu varian yang dikhawatirkan, terutama di kalangan peneliti di Inggris.

Sebab, seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (4/3/2021), mutasi virus pada varian ini membuatnya lebih mudah memasuki sel manusia.

Artinya, jika seseorang menghirup udara yang mengandung partikel virus corona di dalamnya, maka partikel ini akan lebih mungkin masuk menginfeksi beberapa sel di sinus atau hidung, dan akhirnya masuk ke paru-paru.

Varian baru virus corona Inggris ini juga disebut yang paling bertanggung jawab pada lonjakan kasus Covid-19 di Thailand beberapa waktu lalu.

 

Gejala Covid-19 Inggris ini, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan infeksi Covid-19 pada umumnya, antara lain seperti.

  • Batuk dan sakit tenggorokan
  • Demam
  • Kelelahan dan nyeri ototo
  • Hilang rasa dan indra penciuman
  • Sesak napas
  • Sulit berpikir jernih
  • Pusing, malaise dan mual

Varian baru virus corona B.1.315 adalah mutasi virus corona yang muncul di tengah lonjakan kasus di Afrika Selatan.

Untuk pertama kalinya, varian corona Afrika Selatan ini terdeteksi di Teluk Nelson Mandela pada Oktober 2020.

Ilustrasi varian B.1.617 yang pertama kali terdeteksi di India. Hingga 20 Mei 2021, Kemenkes mencatat ada 10 kasus Covid-19 dengan varian B.1.617 di Indonesia.SHUTTERSTOCK/Fabio Berti Ilustrasi varian B.1.617 yang pertama kali terdeteksi di India. Hingga 20 Mei 2021, Kemenkes mencatat ada 10 kasus Covid-19 dengan varian B.1.617 di Indonesia.

Diberitakan Kompas.com, Kamis (6/5/2021), mutasi virus corona dari Afrika Selatan ini disebut dapat memengaruhi netralisasi beberapa antibodi.

Namun demikian, varian B.1.315 yang belum lama ini terdeteksi di Indonesia, belum diketahui apakah mampu meningkatkan risiko keparahan Covid-19.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa varian B.1.351 dengan mutasi virus yang disebut E484K ini diduga dapat memengaruhi penurunan efikasi vaksin Covid-19.

Sama seperti varian B.1.1.7, varian virus corona Afrika Selatan tersebut juga memiliki kemampuan menular lebih cepat.

Gejala Covid-19 dari infeksi varian virus corona Afrika Selatan ini tidak jauh berbeda dengan infeksi Covid-19 pada umumnya, tetapi mutasi dari varian ini tergolong cukup berbahaya.

 

3. Varian India B.1.617

Lonjakan kasus infeksi virus corona di India, membuat negara mengalami tsunami Covid-19 yang mengerikan.

Negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa tersebut telah mencatatkan rekor kasus Covid-19 tertinggi berturut-turut. Sedikitnya, 3000-4000 kasus perhari, dilaporkan India.

Bahkan, angka kematian akibat Covid-19 di negara ini juga sangat tinggi. Kasus baru Covid-19 tercatat mencapai lebih dari 400.000 kasus.

Desember 2020 lalu, varian ini pertama kali terdeteksi di India. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeskripsikannya sebagai ‘variant of interest’, seperti diberitakan Kompas.com, Minggu (2/5/2021).

Kerabat menyiapkan jenazah seseorang, yang meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19), untuk dikremasi di tempat krematorium di New Delhi, India, Rabu (28/4/2021).ANTARA FOTO/REUTERS/DANISH SIDDIQUI Kerabat menyiapkan jenazah seseorang, yang meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19), untuk dikremasi di tempat krematorium di New Delhi, India, Rabu (28/4/2021).

Mutasi virus corona ini membuatnya lebih menular dan menyebabkan penyakit yang lebih parah, serta menghindari kekebalan yang dibuat oleh vaksin.

Selain itu, varian B.1.617 disebut juga sebagai varian dengan ‘mutasi ganda’ dengan label L452R di California, dan berlabel E484Q di Afrika Selatan dan Brasil.

Dua mutasi virus India tersebut, pada L452R dikhawatirkan dapat meningkatkan transmisi virus atau lebih menular, dan mengurangi kemanjuran antibodi dalam melawan infeksi.

Sedangkan mutasi virus berlabel E484Q, dikhawatirkan dapat membuat virus memiliki pengikatan sel yang lebih baik dibandingkan sebelumnya yang berpotensi dapat menghindari kekebalan.

 

Varian virus corona India ini dilaporkan telah masuk ke Indonesia.

Seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (20/5/2021), Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta Ngabila Salama mengatakan varian Covid-19 India, B.1.617 terkonfirmasi ada di satu wilayah di DKI Jakarta.

Satu kasus dengan varian mutasi dari India itu, diketahui terjadi akibat transmisi lokal, bukan kasus impor dari luar negeri.

Adapun gejala Covid-19 yang disebabkan infeksi dari varian virus corona India ini antara lain seperti batuk terus menerus, suhu tubuh tinggi hingga kehilangan indra perasa dan penciuman.

 

#Varian #Virus #Corona #yang #Masuk #Indonesia #Kenali #Gejala #hingga #Bahayanya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts