Memperingati Hari Asma Sedunia: Menyibak 9 Mitos Asma yang Tak perlu Dipercaya

  • Whatsapp

Oleh : Dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K)

Read More

Hari ini kita memperingati hari asma sedunia. Jumlah penderita asma di dunia menurut data WHO mencapai hampir 340 juta pasien.

Di Indonesia sendiri, menurut data ISAAC, penderita asma mencapai kurang lebih 5% dari total penduduk Indonesia atau mendekati angka 13 juta pasien.

Asma menjadi masalah kesehatan serius di berbagai negara terlepas dari kondisi perekonomian negara tersebut.

Asma adalah penyakit kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan penyempitan saluran napas, peradangan, dan peningkatan respons saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas.

Gejala lain yang dapat timbul mencakup nyeri dada, batuk, dan mengi dapat dirasakan oleh pasien yang datang ke dokter paru.

Dalam mendiagnosis penyakit asma, dokter akan melakukannya secara komprehensif mulai dari pencatatan gejala yang dialami dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang juga perlu dilakukan untuk menetapkan terapi apa yang akan diberikan.

Terlepas dari tingginya prevalensi asma di Indonesia dan dunia, hingga saat ini masih banyak mitos tentang asma yang tersebar luas di masyarakat.

Dengan mengusung tema: “Uncovering Asthma Misconception” di hari asma sedunia tahun ini, ada beberapa hal yang menjadi mitos di tengah masyarakat mengenai penyakit asma yang perlu dikoreksi :

1. Mitos: Asma ada penyakit yang muncul pada masa anak-anak saja dan akan sembuh sendiri seiring dengan pertambahan usia pasien

Kenyataannya: Gejala asma bisa muncul di usia berapapun. Ketika gejala muncul dan anak masih berusia di bawah 5 tahun, dokter tidak bisa mendiagnosis pasti itu asma. Biasanya diagnosis dokter adalah “mungkin asma”.

Karena untuk mendiagnosis pasti asma diperlukan pemeriksaan spirometri.

Spirometri adalah metode evaluasi fungsi paru-paru dimana dokter akan meminta pasien untuk bernapas dengan alat ini. Akan dilihat seberapa banyak udara yang masuk dan keluar dari dan ke paru-paru.

Sehingga evaluasi dengan spirometri biasa dilakukan pada pasien berusia di atas 12 tahun untuk mendapat diagnosis asma. Jadi, mitos pertama ini tidaklah benar.

2. Mitos: Asma adalah penyakit kambuhan yang timbul bila stress atau kelelahan

Kenyataannya: Gejala asma telah dikaitkan dengan kecemasan dan depresi, tetapi asma bukan semata-mata kondisi psikologis.

Asma adalah akibat dari peradangan kronis di paru-paru, yang menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas. Peradangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk genetik dan paparan pencetus di lingkungan anda.

Pencetus asma meliputi infeksi saluran pernapasan bagian atas (flu, masuk angin), polusi, debu, merokok atau terpapar asap rokok orang lain, udara dingin, kecemasan (psikologis), gaya hidup yang tidak sehat, dan lain-lain dapat berbeda per individu.

Shutterstock/Akkalak Aiempradit Ilustrasi asma

3. Mitos: Asma dapat sembuh atau hilang dengan sendirinya

Kenyataannya: Asma sering dianggap sebagai penyakit masa kanak-kanak yang hilang seiring bertambahnya usia.

Memang benar asma sering terjadi pada anak-anak. Di Amerika Serikat, sekitar 5,5 juta orang di bawah usia 18 tahun menderita asma.

Serangan asma juga lebih sering terjadi pada anak-anak. Meskipun begitu, asma tidak benar-benar hilang.

Penelitian membuktikan bahwa gejala asma dapat berubah atau menjadi lebih jarang dari waktu ke waktu, namun kondisinya tetap ada.

Kondisi yang dimaksud yakni hiperaktifitas saluran napas yang dapat menimbulkan penyempitan dan peradangan kronis.

Asma juga dapat terjadi pada orang dewasa yang tidak pernah mengalami gejala saat kecil, biasanya akibat paparan pemicu asma yang diterima terus-menerus atau dalam jangka waktu lama.

4. Mitos: Steroid inhalasi yang digunakan untuk mengobati asma berbahaya

Kenyataannya: Steroid merupakan salah satu tatalaksana gold standard yang telah diakui secara global untuk menangani asma.

Tapi steroid mendapat reputasi buruk karena banyak orang berspekulasi bahwa kortikosteroid yang dihirup dapat menghambat pertumbuhan anak-anak atau menjadi kecanduan.

Banyak juga yang mengira bahwa steroid yang digunakan untuk tatalaksana asma sama dengan steroid anabolik yang digunakan untuk membangun otot.

Faktanya, steroid yang digunakan untuk tatalaksana asma adalah kortikosteroid yang sebenarnya mirip dengan hormon yang diproduksi oleh tubuh.

Kortikosteroid yang rutin digunakan juga merupakan kortikosteroid inhalasi, yakni metode hirup sehingga langsung menargetkan saluran napas, dosisnya sangat kecil dibandingkan dosis obat minum sehingga tidak melalui saluran cerna ataupun masuk ke dalam pembuluh darah.

Kortikosteroid inhalasi ini berfungsi untuk menekan peradangan yang terjadi pada asma. Penggunaan kortikosteroid inhalasi juga tentunya harus dalam pengawasan ketat dari dokter.

5. Mitos: Tidak aman bagi penderita asma untuk berolahraga

Kenyataannya: Olahraga dengan intensitas tinggi yang berlebihan adalah pemicu asma yang umum, sehingga tidak heran jika banyak orang percaya bahwa tidak aman untuk berolahraga atau berolahraga jika Anda menderita asma.

Tetapi asma bukanlah alasan untuk tidak menjalani gaya hidup sehat. Faktanya olah raga dengan intensitas yang sesuai, serta pasien menggunakan terapi pengendali yang dianjurkan oleh dokter parunya sesuai dengan dosis dan dengan cara yang tepat, maka proses peradangan yang menjadi dasar dari penyakit asma ini dapat dikendalikan.

Sehingga pasien dapat melakukan aktivitas sehari-harinya, bahkan berolahraga dengan baik tanpa gangguan dan juga dapat membantu menurunkan kejadian serangan asma.

Olahraga untuk meningkatkan kesehatan paru-paru, seperti berenang, jalan ringan hingga jogging juga ditemukan terkait dengan peningkatan kualitas hidup dan gejala asma yang lebih sedikit.

Dalam sebuah studi tahun 2015, penderita asma yang berpartisipasi dalam aktivitas fisik selama waktu luang mereka hampir 2,5 kali lebih mungkin untuk menghindari serangan asma dibandingkan mereka yang tidak berolahraga.

David Beckham adalah contoh pemain sepak professional yang menderita asma. Paul Scholes rekan setimnya yang merupakan pemain berprestasi juga menderita asma.

Bahkan, penderita asma seperti Tom Dolan yang merupakan perenang sekalipun bisa menjadi peraih medali Olimpiade Internasional.

Jadi, penderita asma tidak boleh berolahraga hanyalah mitos belaka.

Ilustrasi asmacatinsyrup Ilustrasi asma

6. Mitos: Suplemen makanan atau jamu-jamuan dapat membantu meringankan gejala asma.

Kenyataanya: Tidak ada bukti bahwa nutrisi khusus membantu mengobati asma, menurut National Center for Complementary and Integrative Health.

Telah dilakukan penelitian terhadap berbagai herbal dan suplemen, namun tidak ada yang ditemukan dapat memperbaiki gejala asma.

Beberapa penelitian terdahulu (lebih dari 10 tahun lalu) menunjukkan bahwa suplemen kedelai dapat membantu meringankan gejala asma, namun penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi Mei 2015 menyimpulkan bahwa hal tersebut tidak benar.

Bagi penderita asma, sangat disarankan untuk mengonsumsi diet seimbang dengan protein yang cukup.

Protein merupakan salah satu komponen gizi penting dalam imun tubuh seseorang, dan dapat mencegah seseorang terjangkit penyakit.

Seperti yang diketahui, beberapa penyakit infeksi seperti influenza (flu) dapat menyebabkan serangan asma.

7. Mitos: Obat asma berhenti bekerja seiring waktu.

Kenyataannya: Obat asma ada beberapa jenis dan hanya akan memberikan efek yang maksimal serta efektif bila digunakan dibawah pengawasan dokter.

Obat asma pengontrol atau jangka panjang digunakan untuk mencegah terjadinya kekambuhan dan harus digunakan secara teratur.

Dosis obat asma pengontrol dapat berubah (menurun atau meningkat) sesuai dengan kondisi pasien dibawah pengawasan dokter.

Obat asma kerja cepat sifatnya sebagai pelega atau jangka pendek hanya digunakan bila terjadi serangan asma.

Dosis yang digunakan dan durasi penggunaan obat asma kerja cepat juga harus dibawah pengawasan dokter.

8. Mitos: Masker tidak aman untuk penderita asma

Kenyataannya: Anda mungkin pernah mendengar bahwa masker menyebabkan penumpukan karbon dioksida (CO2) yang berbahaya yang akhirnya Anda hirup.

Hal tersebut tidak benar, partikel CO2 sangat kecil sehingga mudah melewati masker bahkan masker pelindung khusus seperti N95.

Penelitian juga telah membuktikan bahwa penggunaan masker tidak menurunkan saturasi oksigen dalam darah.

Faktanya, semua penderita penyakit paru disarankan untuk memakai masker.

Menggunakan masker mungkin memang terasa tidak nyaman, namun penggunaan masker yang bersamaan dengan social distancing, serta menjaga kebersihan dapat melindung diri Anda dan orang lain dari terjangkit penyakit infeksius yang dapat memicu serangan asma.

 

9. Mitos: Asma hanya dapat dikontrol dengan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi

Kenyataannya: Penderita asma itu ada tingkatannya mulai dari asma yang ringan, sedang dan berat.

Dosis kortikosteroid akan diberikan sesuai dengan tingkat keberatan asmanya. Jika pasien merupakan pasien asma berat, maka memang dosis kortikosteroid inhalasi yang diberikan akan tinggi.

Namun jika pasien merupakan pasien asma ringan, maka dosis kortikosteroid inhalasi yang diberikan adalah dosis kecil.

Oleh karena itu, mitos bahwa semua asma hanya dapat dikontrol dengan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi adalah tidak benar.

Hari asma sedunia tahun ini diwarnai dengan situasi pandemi Covid-19. Lalu apa yang harus dilakukan oleh penderita asma dalam situasi seperti ini ?

Pasien asma yang mendapat terapi pengontrol semprot atau hirup dari dokter paru harus tetap di konsumsi setiap hari dan terapi pelega hanya untuk serangan asma saja.

Pasien asma juga dianjurkan untuk melaksanakan protokol Kesehatan dengan menjalankan program 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai pembersih dengan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi serta interaksi.

Bagaimana dengan Vaksinasi Covid-19 pada penyandang asma ?

Penyandang Asma dapat diberikan vaksinasi Covid dengan syarat selama 2 bulan penuh asma nya terkontrol penuh. Bagaimana mengetahui asmanya terkontrol atau tidak?

Ada questioner yg bisa menentukan Asma nya terkontrol atau tidak yakni dengan Asthma Control Test (ACT).

Asthma control test (ACT)Dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K) Asthma control test (ACT)

Asthma control test (ACT) adalah suatu alat praktis yang dapat diterapkan oleh klinisi atau penyandang asma sesuai dengan rekomendasi GINA.

ACT mudah untuk digunakan dan memberikan skor numerik yang dapat membantu dalam pemantauan gejala kontrol setiap waktu, bermanfaat untuk memprediksi kategori asma yang terkontrol atau tidak terkontrol berdasarkan definisi GINA.

 

Oleh : Dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K)
Dept Paru dan Kedokteran Respirasi FKUI – RSUP Persahabatan, Jakarta

#Memperingati #Hari #Asma #Sedunia #Menyibak #Mitos #Asma #yang #Tak #perlu #Dipercaya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts