Ahli Bikin Eksperimen Ekstrem, 40 Hari di Gua Tanpa Sinar Matahari

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Sebanyak lima belas sukarelawan terlibat dalam sebuah ekperimen ektrem bernama Deep Time.

Read More

Dalam proyek senilai $ 1,4 juta (sekitar Rp 20 miliar) ini, mereka diminta untuk menghabiskan 40 hari tanpa jam, telepon, dan sinar matahari.

Proyek yang dipimpin oleh Human Adaption Institute yang bertujuan untuk eksperimen isolasi manusia, mengeksplorasi batas-batas kemampuan manusia dalam kondisi tersebut.

Kelompok yang terdiri dari delapan pria dan tujuh wanita ini tinggal di gua Lombrives. Dan setelah 40 hari, ke-15 orang sukarelawan tersebut akhirnya menyelesaikan misi mereka, Sabtu (24/4/20221).

Mereka keluar gua sambil tersenyum dan bertepuk tangan meriah. Mereka juga mengenakan kacamata hitam khusus untuk melindungi mata setelah sekian lama berada dalam kegelapan.

Seperti dikutip dari Science Alert, Senin (26/4/2021) selama berada di dalam gua, para relawan tidur di tenda-tenda dan membuat listrik sendiri dengan sepeda kayuh karena tak ada cahaya alami. Mereka juga mengambil air dari sumur sedalam 44 meter di bawah bumi.

Berhubung tak ada sinar matahari, relawan harus mengikuti jam biologis mereka untuk mengetahui kapan harus tidur, makan, atau melakukan tugas sehari-hari.

Tak mengherankan jika mereka dengan cepat kehilangan kesadaran akan waktu. Seorang sukarelawan bahkan tak menyadari dan mengira baru berada di bawah tanah selama 23 hari.

Mereka juga tak berkomunikasi dengan dunia luar, karena tak menggunakan telepon maupun perangkat elektronik lainnya.

Seorang sukarelawan, guru matematika, Johan Francois mengatakan jika ia berlari sejauh 10 kilometer di dalam gua agar tetap bugar. Ia juga mengatakan kalau memiliki dorongan yang kuat untuk meninggalkan gua.

Namun, sukarelawan lain ada yang merasa berbeda dengan menyebut keinginan mereka untuk tinggal lebih lama di gua.

“Sekali dalam hidup, seolah-olah kita bisa melakukan jeda dan memiliki waktu,” ungkap Marina Lançon, salah satu dari tujuh wanita yang ikut serta dalam eksperimen tersebut.

Namun, Lançon mengaku merasa senang bisa berada di luar ruangan dan mendengar kicau burung lagi.

Ilmuwan Prancis dan Swiss dari Human Adaption Institute memantau para sukarelawan dengan cermat selama mereka berada di dalam gua. Mereka secara teratur memeriksa pola tidur tim, interaksi sosial, dan fungsi kognitif melalui sensor.

 

Aktivitas otak relawan juga dicatat sebelum dan sesudah mereka memasuki gua.

Para ilmuwan di balik proyek tersebut mengatakan, itu akan membantu mereka memahami bagaimana orang dapat beradaptasi dengan kondisi kehidupan yang ekstrim dan berada dalam isolasi total.

“Masa depan kita sebagai manusia di planet ini akan berevolusi. Kita harus belajar untuk lebih memahami bagaimana otak kita mampu menemukan solusi baru, apapun situasinya,” ungkap Direktur proyek Christian Clot, yang juga ikut tinggal di gua selama 40 hari.

#Ahli #Bikin #Eksperimen #Ekstrem #Hari #Gua #Tanpa #Sinar #Matahari #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts