Ahli Sebut Varian Baru Corona dan Isu Penggumpalan Darah Bukan Alasan Menunda Vaksinasi Covid-19

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Program vaksinasi Covid-19 telah dijalankan di Indonesia sejak Januri 2021.

Read More

Hingga saat ini, sekitar 40 juta dosis vaksin Covid-19 telah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis maupun dalam bentuk bulk atau bahan baku.

Dengan jumlah dosis sebanyak itu, diharapkan proses vaksinasi Covid-19 dapat berjalan lancar, terlebih lagi dengan bertambhanya lokasi vaksinasi dan adanya vaksinasi drive thru yang melibatkan swasta.

Melihat hal tersebut, Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, ahli vaksin pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menilai, program vaksinasi Covid-19 di Indonesia yang dijalankan pemerintah sudah berjalan baik, dengan akses dan sarana yang bagus.

“Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, pogram vaksinasi Covid-19 sudah berjalan lancar. Pemda-pemda juga sudah menjalankan dengan baik,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (18/3/2021).

Sayangnya, menurut Sri Rezeki, masih banyak masyarakat yang belum berinisiatif dan memilih menunggu panggilan untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Padahal, saat ini tersedia jalur vaksinasi dengan pendaftaran, termasuk untuk orang lanjut usia (lansia).

Sri Rezeki mengingatkan, munculnya berbagai varian baru virus corona yang ditemukan di Indonesia dan adanya isu penggumpalan darah bukan alasan untuk menunda-nunda mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Apalagi, munculnya varian baru virus corona wajar terjadi, karena semua virus pasti akan bermutasi.

Selain itu, menurut Sri Rezeki dampak varian baru virus corona terhadap efek vaksin Covid-19 baru akan diketahui dalam jangka panjang.

Demikian pula dengan adanya penangguhan sementara penggunaan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca terkait isu penggumpalan darah.

Dijelaskan Sri Rezeki, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini sudah menyatakan aman. Kecuali, penggumpalan darah yang kerap terjadi pada orang lanjut usia (lansia) dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan hiperkolesterol.

“Tidak divaksin saja, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah. Vaksin apa saja (bukan hanya vaksin Covid-19) juga punya risiko tromboemboli,” ujarnya.

Angka kasus penggumpalan akibat vaksin Covid-19 juga terbilang sedikit, sekitar 1%. Perlu khawatir, jika kasus penggumpalan darah meningkat 2 kali setelah divaksinasi.

Sementara itu dokter Made Cock Wirawan, dokter umum yang berpraktik di Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar, Bali, meski mengakui vaksinasi Covid-19 yang dijalankan pemerintah sudah berjalan baik, menurutnya vaksinasi Covid-19 ini masih jauh dari harapan, karena jumlah vaksin yang digunakan masih terbatas.

Selain itu, proses vaksinasi juga relatif lambat bila dibandingkan dengan besaran sasaran yang ingin dicapai dan kecepatan yang diharapkan.

Ia menekankan perlunya percepatan vaksin Covid-19 untuk mencapai herd immunity, karena lama kekebalan yag ditimbulkan oleh vaksin belum diketahui.

Made berharap, temuan varian baru virus Covid-19, seperti varian B1.1.7, tidak mempengaruhi percepatan vaksinasi.

“Sebab dari beberapa penelitian dan pendapat ahli, vaksin yang saat ini dipakai masih bisa digunakan untuk (mencegah) varian baru Covid-19. (Jadi) Belum dperlukan penghentian vaksinasi,” jelas dokter yang terkenal dengan akun Twitter @blogdokter ini.

Sedangkan mengenai isu penggumpalan darah pada vaksin Covid-19 AstraZeneca, menurut Made perlu dilakukan review ulang terhadap studi klinis yang dilakukan AstraZeneca.

“Langkah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang melakukan review pemakaian vaksin AstraZeneca sudah benar, meski WHO dan AstraZeneca sudah memberikan penjelasan tentang kasus-kasus yang terjadi,” ujarnya.

Capaian Vaksinasi Covid-19

Sejauh ini data Kemenkes RI per 17 Maret 2021 menunjukkan bahwa 1.431.713 dari 1.468.764 tenaga medis sebagai penerima vaksinasi tahap pertama, sudah mendapatkan vaksinasi tahap pertama atau sekitar 97,48%.

Sedangkan yang sudah disuntik dosis kedua sebanyak 1.208.113 tenaga medis (82,25%).

Kemudian lansia yang menjadi penerima vaksin kedua berjumlah 21.553.118 orang. Namun yang sudah divaksin dosis pertama 836.628 (3,88%) dan yang telah menerima dosis kedua sebanyak 6.600 orang (0,03%).

Sementara itu, penerima vaksin tahap kedua yang berasal dari kelompok pekerja publik ditargetkan sebanyak 17.327.169 orang.

Dari jumlah tersebut 2.436.907 orang sudah divaksin dosis pertama (14,06%) dan sebanyak 661.427 orang yang baru divaksin dosis kedua (3,82%).

Bila ditotal, dari tiga kelompok tadi yang berjumlah 40.349.051 target, baru 4.705.248 orang yang sudah disuntik vaksin dosis pertama (11,66%) dan 1.876.140 orang (4,65%) yang sudah disuntik vaksin dosis kedua.

KOMPAS.com/MUHAMMAD NAUFAL Ilustrasi Vaksin Covid-19 (shutterstock).

Vaksin Covid-19 yang Akan Digunakan Pemerintah Indonesia

Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah orang divaksinasi terus dilakukan, seperti dengan memperbanyak lokasi vaksinasi dan menggandeng dunia usaha untuk melakukan vaksinasi drive thru.

Selain itu pemerintah juga mendatangkan sejumlah vaksin Covid-19 dari luar negeri, baik secara bilateral maupun multilateral seperti melalui lembaga internasional.

Vaksin yang akan digunakan oleh Pemerintah Indonesia, antara lain, dari Sinovac dan Sinopharm (China), Moderna dan Pfizer (Amerika Serikat), dan AstraZeneca (Inggris).

Sementara itu dari dalam negeri, sejumlah peneliti sedang mengembangkan vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara yang bertujuan membantu pemerintah dalam penyediaan vaksin Covid-19, sehingga dapat mempercepat penanggulangan pandemi Covid-19.

Sejauh ini kedua calon vaksin itu masih menjalani ujicoba untuk melihat efektivitas, efikasi, dan keamanan.

Meskipun kedua vaksin tersebut buatan dalam negeri, bukan berarti mendapatkan pengecualian dalam pemenuhan kajian ilmiah yang telah ditentukan oleh Badan POM.

Terpenting, pemerintah terus menegakkan pentingnya mematuhi 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker), dan gencar melakukan 3T (test, tracing dan treatment).

#Ahli #Sebut #Varian #Baru #Corona #dan #Isu #Penggumpalan #Darah #Bukan #Alasan #Menunda #Vaksinasi #Covid19 #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts