Ahli: Varian Baru Virus Corona Bisa Terus Muncul Selama Mobilitas Tak Terkendali

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Prof dr Amin Soebandrio PhD, selaku Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute menyampaikan, bahwa varian-varian baru akibat mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab Covi-19 bisa terus terjadi selama mobilitas masyarakat tidak terkendali.

Read More

Menurut Prof Amin, mobilitas masyarakat yang terjadi secara masif dan tidak terkendali masih sangat memungkinkan terjadinya penularan virus, dari inang-orang yang satu ke inang-orang baru lainnya.

Padahal, setiap kali virus corona ini menemukan inang baru, atau setiap kali ditularkan ke orang lain, maka virus ini akan bereplikasi (memperbanyak diri).

“Nah, di situlah terjadi mutasi,” kata Prof Amin kepada Kompas.com, Sabtu (13/3/2021).

Untuk diketahui, mutasi merupakan fitur replika virus yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari.

Mutasi adalah kondisi di mana virus tersebut mengalami perubahan pada materi genetik virus.

Mutasi menjadi hal yang wajar dan bisa terjadi, karena banyak sekali faktor pendukungnya.

Bisa jadi berupa genetik ras, keturunan, patogen atau mikroorganisme penyebab penyakit lain di dalam tubuh dan lain sebagainya.

Mutasi yang terjadi pada virus, merupakan upaya penyesuaian atau adaptasi yang dilakukan virus untuk dapat bertahan hidup di sekitar inangnya (reseptor) dalam tubuh manusia.

“Setiap kali dia bertambah banyak dalam proses replikasinya itu, pasti terjadi mutasi secara acak,” jelasnya.

Sehingga, kata Prof Amin, jika kita bisa melakukan pembatasan dan membatasi ruang gerak virus corona, serta tidak menularkan ke orang lain, maka dengan sendirinya kita bisa menekan pertumbuhan dan replikasi mutasi dari virus corona.

Selama masih menularkan ke orang lain, berarti virus masih punya kesempatan untuk bermutasi. 

“Jadi itu seperti suatu lingkaran, kalau masih menular, berarti pandeminya belum selesai,” ucap dia.

Hal ini sama dengan yang disampaikan oleh Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University Australia Dicky Budiman pada pemberitaan Kompas.com, Rabu (10/3/2021).

Dicky menegaskan, jika masih terus tak terkendali, maka varian baru virus corona yang lain masih akan terus muncul.

Dikatakan Dicky, kehadiran varian baru virus corona di Indonesia baru tahap awal dari fase 1 pandemi, dan implikasi dari kehadiran umumnya memang belum begitu signifikan.

“Untungnya belum terlalu terkena ini (dampak varian baru), karena ini baru masuk fase awal sekali,” kata Dicky kepada Kompas.com, Selasai (9/3/2021).

 

Namun, jika ke depannya strategi pencegahan dan pengendalian pandemi tidak diperkuat secara optimal oleh semua kalangan dan lapisan masyarakat, dengan intervensi yang tegas dan jelas dari pihak-pihak berwenang, maka berpeluang akan muncul strain atau varian baru dari virus SARS-CoV-2, yang justru nanti lebih cepat menular dan lebih berbahaya dalam menginfeksi. 

“Kalau ini tidak ditingkatkan, artinya akan melahirkan siklus yang akan memperburuk keadaan. Juga kondisi pandemi yang tidak terkendali akan melahirkan juga mutasi-mutasi yang baru, yang pada gilirannya akan ada strain baru yang semakin merugikan,” tegasnya. 

Akibatnya, virus corona yang menyebar semakin banyak dan semakin leluasa menginfeksi manusia, bahkan bisa saja menyerang hewan.

Sebagai informasi, baru-baru ini sejumlah varian baru dari mutasi virus corona SARS-CoV-2 terdeteksi dan menjadi kekhawatiran masyarakat Indonesia, yaitu varian B.1.1.7 dan N439K.

Varian B.1.1.7 yang ditemukan banyak menyebar pertama kali di Inggris ini ,disebutkan lebih mudah menular dan berisiko lebih mematikan. 

Sedangkan, varian N439K adalah varian yang pertama kali ditemukan di Skotlandia dan terungkap lebih pintar dibandingkan varian-varian sebelumnya, karena lebih mudah menular serta bisa lolos atau kebal antibodi paska vaksinasi Covid-19.

 

#Ahli #Varian #Baru #Virus #Corona #Bisa #Terus #Muncul #Selama #Mobilitas #Tak #Terkendali #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts