Vaksin AstraZeneca Tiba di Indonesia, BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat

  • Whatsapp

KOMPAS.com– Saat ini terdapat tiga jenis vaksin yang akan segera digunakan di Indonesia, yakni Sinovac, vaksin Covid-19 produksi PT Bio Farma dan AstraZeneca yang dikembangkan bersama peneliti di Universitas Oxford, Inggris.

Read More

Vaksin Astrazeneca baru tiba di Indonesia melalui skema COVAX dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (8/3/2021) sore.

Seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (9/2/2021) dari siaran YouTube resmi Sekretariat Presiden, vaksin buatan Oxford-AstraZeneca ini tiba sekitar pukul 17.45 WIB di Bandara Udara Soekarno-Hatta, Tangerang dengan jumlah sebanyak 1.113.600 vaksin, dengan total berat 4,1 ton.

Dengan hadirnya vaksin Astrazeneca ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) RI mengambil langkah kebijakan dengan menerbitkan Emergency Use Authorization ( EUA) atau izin penggunaan darurat di Indonesia untuk vaksin Astrazeneca ini pada 22 Februari 2021 lalu.

 

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyampaikan hal ini lewat Konferensi Pers Penerbitan Emergency Use Authorization Vaksin Astrazeneca, Selasa (9/3/2021).

“Proses pengadaan vaksin ini tentunya sudah melalui proses bersama dengan Badan POM yang dikaitkan dengan aspek keamanan, mutu, dan khasiat dari vaksin tersebut karena itu merupakan prioritas pemerintah,” ungkap Penny.

Lebih lanjut Penny mengatakan bahwa proses pemasukkan vaksin AstraZeneca yang akan digunakan di Indonesia ini sudah disetujui oleh Badan POM dengan diterbitkan proses pemasukkan vaksin secara khusus (Special Access Scheme/SAS) pada tanggal 6 Maret 2021.

 

“Seluruh vaksin ini langsung dikirim untuk kemudian disimpan digudang PT. Bio Farma Bandung,” lanjut Penny.

Pada hari ini, Selasa (9/3/2021) Badan POM akan melanjutkan pemeriksaan fisik ke PT Bio Farma, sekaligus untuk melakukan sampling dari vaksin virus corona tersebut untuk selanjutnya menerbitkan Sertificate of Release yang segera diberikan guna meyakinkan aspek mutu dari vaksin Covid-19 asal Inggris ini.

Vaksin AstraZeneca adalah vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Oxford University bekerja sama dengan AstraZeneca menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (ChAdOx 1).

“Vaksin AstraZeneca didaftarkan ke Badan POM melalui 2 jalur, yaitu jalur bilateral oleh PT. AstraZeneca Indonesia dan jalur multilateral melalui mekanisme COVAX Facility yang didaftarkan oleh PT Bio Farma”, jelas Penny.

SHUTTERSTOCK/rafapress Ilustrasi vaksin Oxford-AstraZeneca yang dinamai AZD1222. Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Oxford University dan AstraZeneca untuk melawan infeksi virus corona.

COVAX sendiri adalah salah satu dari tiga pilar akses untuk Access to COVID-19 Tools (ACT) Accelerator (Instrumen Percepatan Akses Alat-alat COVID-19).

Ini adalah inisiatif yang dikumpulkan pada bulan April 2020 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai respon bersama untuk mempercepat pengembangan, produksi, dan akses setara pada tes, pengobatan, dan vaksin Covid-19.

“Jadi pertama adalah pilar akses secepatnya pada vaksin, pilar lainnya ada percepatan dan penguatan pengadaan alat tes, dan pilar selanjutnya adalah penyediaan obat-obatan terapi untuk memastikan respon yang sama dan menyeluruh diseluruh dunia,” jelas Penny.

Sebagaimana vaksin Covid-19 yang sebelumnya telah memperoleh EUA, sebelum produk siap untuk digunakan, BPOM melakukan proses pelulusan produk (lot release) dan setelah diberikan pelulusan produk, maka vaksin tersebut siap untuk digunakan dalam program vaksinasi.

Dalam hal ini, BPOM berkomitmen untuk terus mengawal mutu vaksin corona sepanjang jalur distribusinya, mulai keluar dari industri farmasi hingga disampaikan kepada masyarakat melalui vaksinasi.

 

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan POM terus melakukan pengawasan dan pendampingan kepada Dinas Kesehatan dalam pengiriman dan penyimpanan vaksin Covid-19 agar sesuai dengan ketentuan Tata Cara Distribusi Obat (CDOB). 

Perlu diketahui bahwa vaksin Astrazeneca bukan termasuk vaksin gotong royong. Hal ini dikarenakan vaksin yang diberikan di dalam vaksin gotong royong harus berbeda brand-nya dengan vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi nasional.  

Meskipun program vaksinasi telah dilaksanakan tetapi masih diperlukan jumlah cakupan vaksinasi yang cukup memadai dan waktu untuk mencapi herd immunity atau kekebalan komunal.

“Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap perlu menjalankan protokol kesehatan, dengan terus menerapkan 5 M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas,” pungkasnya.

#Vaksin #AstraZeneca #Tiba #Indonesia #BPOM #Terbitkan #Izin #Penggunaan #Darurat #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts