[POPULER SAINS] Imun Anak Lebih Kuat Melawan Covid-19 | Cemas Picu Asam Lambung Naik Halaman all

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Studi menunjukkan anak-anak yang usianya di bawah 10-14 tahun lebih kecil kemungkinannya terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 dibanding mereka yang berusia 20 tahun ke atas.

Read More

Kalaupun anak-anak di usia tersebut terinfeksi Covid-19, gejala yang ditimbulkan ringan atau bahkan tanpa gejala.

Ini karena ternyata anak-anak punya sistem kekebalan yang lebih agresif melawan virus corona dibanding orang dewasa.

Studi ini menjadi salah satu berita populer Sains Kompas.com edisi Selasa (23/2/2021).

Berita menarik lainnya adalah penjelasan kenapa penyintas Covid-19 baru bisa menerima vaksin setelah 3 bulan sembuh hingga hubungan antara kecemasan dengan asam lambung naik.

Berikut ulasan berita populer Sains Kompas.com.

1. Imun anak lebih kuat dibanding orag dewasa dalam melawan Covid-19

Dalam studi terbaru menunjukkan, sistem kekebalan anak-anak menyerang virus corona lebih cepat dan lebih agresif daripada sistem kekebalan orang dewasa.

Para peneliti menganalisis sampel darah dari 48 anak-anak dan 70 orang dewasa yang tinggal di 28 rumah tangga di Melbourne, Australia, dan yang terinfeksi, atau terpapar, virus corona.

Tanggapan kekebalan peserta dinilai selama fase akut infeksi Covid-19 dan hingga dua bulan setelah itu. Dari analisis tersebut, rupanya anak-anak memiliki respons kekebalan tubuh yang lebih kuat terhadap virus daripada orang dewasa.

“Infeksi virus corona pada anak-anak ditandai dengan aktivasi neutrofil, sel darah putih khusus yang membantu menyembuhkan jaringan yang rusak dan mengatasi infeksi, dan pengurangan sel imun responden pertama seperti monosit, sel dendritik, dan sel pembunuh alami dari darah,” kata penulis studi Melanie Neeland, dari Murdoch Children’s Research Institute.

“Ini menunjukkan, sel-sel kekebalan yang melawan infeksi ini bermigrasi ke situs infeksi, dengan cepat membersihkan virus sebelum memiliki kesempatan untuk benar-benar bertahan,” katanya.

“Temuan itu juga menunjukkan bahwa sistem kekebalan bawaan, garis pertahanan pertama melawan kuman, sangat penting untuk mencegah Covid-19 parah pada anak-anak,” imbuh Neeland.

Menariknya, reaksi sistem kekebalan ini tidak terjadi pada tubuh orang dewasa.

Baca selengkapnya temuan baru ini di sini:

2. Kenapa penyintas Covid-19 baru divaksin setelah 3 bulan sembuh?

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt mengatakan, bukannya penyintas tidak boleh diberi vaksin.

Namun, penyintas Covid-19 bukan menjadi prioritas penerima vaksin karena di dalam tubuhnya sudah mengembangkan antibodi alami setelah terinfeksi.

“Sebelum 3 bulan (usai dinyatakan sembuh), orang masih ada kekebalannya. Jadi penyintas tidak diprioritaskan untuk menerima vaksin,” jelas Zullies dihubungi Kompas.com, Senin (22/2/2021).

“Tetapi setelah tiga bulan, antibodi memang sudah mulai menurun. Oleh sebab itu, disarankan untuk divaksin lagi setelah tiga bulan,” imbuh dia.

Selain itu, pemberian vaksin Covid-19 di Tanah Air, untuk sekarang, masih berdasarkan prioritas mana yang paling butuh mendapat vaksin.

Baca pertanyaan lain soal vaksin di sini:

3. Syarat penerima vaksin

Sebelum vaksinasi dilakukan, para penerima vaksin Covid-19 ini perlu memerhatikan beberapa hal.

Dalam keterangan tertulis melalui Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN0), Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi M.Epid menjelaskan syarat penerima vaksin Covid-10 di Indonesia antara lain:

  • Tidak punya riwayat penyakit
  • Tidak sedang hamil atau menyusui
  • Tidak memiliki kontak erat dengan keluarga yang suspek, konfirmasi atau sedang menjalani perawatan akibat Covid-19.
  • Suhu tubuh di bawah 37,5 derajat Celsius.
  • Tekanan darah di bawah 140/90
  • Penderita diabetes mellitus (DM) terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5 persen masih dapat diberikan vaksinasi.
  • Penderita HIV, bila angka CD4 di bawah 200 atau tidak diketahui maka vaksinasi Covid 19 tidak diberikan
  • Syarat untuk Penyakit paru
  • Syarat untuk penyakit lain non-screening

Ketahui syarat lengkap penerima vaksin Covid-19 di sini:

4. Kecemasan bisa picu asam lambung naik

Kecemasan dan stress memiliki kaitan erat dengan refluks asam lambung atau naiknya asam lambung.

Dalam beberapa kasus, kecemasan dan stress bisa menjadi faktor penyebab terjadinya asam lambung naik.

Sebaliknya, refluks asam lambung juga dapat memicu stres dan dapat menyebabkan kecemasan pada beberapa orang.

Orang dengan gejala refluks asam lambung yang mengganggu, yang tidak merespons perawatan di rumah harus segera menemui dokter.

Hubungan stres dan asam lambung naik bisa dibaca di sini:

#POPULER #SAINS #Imun #Anak #Lebih #Kuat #Melawan #Covid19 #Cemas #Picu #Asam #Lambung #Naik #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts