Tidak Bisa Mencium Bau Akibat Covid-19, Kapan Pulih Kembali? Halaman all

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Salah satu gejala yang paling umum dirasakan oleh penderita Covid-19 adalah hilangnya kemampuan untuk mencium bau.

Read More

Sebuah penelaahan yang diterbitkan pada bulan Juni tahun lalu terhadap 8.438 pasien Covid-19, misalnya, menemukan bahwa 41 persen di antara mengalami kehilangan penciuman.

Lalu, ada juga studi lain yang dipublikasikan oleh Shima T. Moein dari Institute for Research in Fundamental Sciences.

Dari 100 pasien Covid-19 yang dites kemampuan penciumannya, 96 persen mengalami gangguan dengan 18 persen di antara kehilangan kemampuan mencium sepenuhnya atau yang disebut anosmia.

Apa yang sebetulnya terjadi?

Hingga saat ini, para peneliti belum mengetahui secara lengkap bagaimana infeksi Covid-19 memengaruhi kemampuan mencium. Akan tetapi, konsensus ilmiah mengungkapkan bahwa virus corona menyerang sel-sel di hidung yang mendukung sel saraf indera penciuman.

Dilansir dari Nature, 14 Januari 2021; hal ini diungkapkan dalam studi terhadap jenazah Covid-19 yang dilakukan oleh tim peneliti pimpinan Sandeep Robert Datta, seorang pakar neurobiologi dari Harvard Medical School.

Seperti diketahui, virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menarget reseptor ACE yang berada di permukaan sel.

Nah, sel-sel sustentakular yang berada di hidung rupanya memiliki banyak reseptor ACE2 sehingga rentan diserang oleh virus corona.

Jika terlanjur diserang, sel-sel saraf penciuman di otak yang bergantung pada sel sustentakuler pun kekurangan nutrisi dan tidak bisa bekerja secara optimal. Akibatnya, kemampuan pasien Covid-19 untuk mencium pun menurun.

Namun, penelitian di Italia mengungkapkan cara lain virus ini bisa menganggu indera penciuman, yakni dengan menyerang otak secara langsung.

Tim peneliti menemukan bahwa hilangnya kemampuan mencium dan merasa terjadi ketika molekul penanda peradangan yang disebut interleukin-6 meningkat drastis di dalam darah.

Hal ini dikonfirmasikan dalam studi terhadap jenazah Covid-19 yang menemukan adanya peradangan, termasuk pembuluh darah bocor, pada struktur otak yang memengaruhi penciuman (bulbus olfaktorius).

Kapan kemampuan mencium kembali?

Untungnya, kemampuan untuk mencium pada pasien Covid-19 bisa kembali dengan sendirinya.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada bulan Juli tahun lalu menemukan bahwa 72 persen pasien Covid-19 yang mengalami disfungsi penciuman, menemukan kemampuan indera penciumannya setelah sebulan berlalu.

Hal serupa juga ditemukan oleh para konsultan THT di St Thomas’ Hospital, Inggris. Dari 202 pasien yang diamati, 49 persen mendapatkan indera penciuman mereka pulih total dalam waktu sebulan, sedangkan 41 persen lainnya melaporkan adanya peningkatan kondisi.

Sayangnya, memang ada pasien-pasien Covid-19 yang mengalami disfungsi penciuman lebih serius dan lama.


Ada yang berbulan-bulan belum pulih; sementara pada pasien yang anosmianya pulih secara perlahan, Claire Hopkins dari St Thomas Hospital mengkhawatirkan dampak yang tidak menyenangkan, yakni parosmia atau distorsi bau.

“Semuanya bau amis (bagi orang-orang ini),” ujar Hopkins.

Adakah terapinya?

Salah satu upaya untuk memulihkan kembali kemampuan mencium adalah olfactory training, di mana pasien diminta untuk mencium aroma yang diresepkan secara reguler untuk melatih kembali saraf penciumannya.

Namun, seperti diungkapkan Hopkins, terapi ini tidak mesti efektif untuk semua orang.

Sementara itu, upaya pengobatan untuk mengatasi anosmia lebih terbatas lagi

Hopkins berkata bahwa berdasarkan penelitian awal yang timnya lakukan, steroid mungkin bisa membantu pasien Covid-19 yang kehilangan indera penciuman pada tahap awal infeksi akibat peradangan di sel-sel hidung.

#Tidak #Bisa #Mencium #Bau #Akibat #Covid19 #Kapan #Pulih #Kembali #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts