Bangkitkan Spesies dari Kepunahan, Bagaimana Potensi dan Urgensinya? Halaman all

  • Whatsapp

Oleh: Pangda Sopha

Read More

SUDAH hampir tiga dekade berlalu sejak film fiksi ilmiah Jurassic Park tayang untuk kali pertama pada tahun 1993. Saat itu, gagasan untuk menghidupkan kembali spesies yang sudah punah mungkin hanya terdengar seperti dongeng pengantar tidur bagi anak-anak. Namun, siapa sangka bahwa kini dongeng tersebut hampir terwujud menjadi kenyataan.

Gagasan yang dikenal sebagai de-extinction rupanya benar-benar ada dan terjadi di kalangan ilmuwan saat ini. Perkembangan teknologi molekuler dan reproduksi beberapa dekade terakhir menjadi katalisnya. Meskipun demikian, tidak ada kesepakatan di antara ilmuwan bahwa hal ini layak atau tidak dilakukan. Masih sangat banyak pro dan kontra.

Seperti yang kita tahu, setiap makhluk hidup tersusun oleh kode genetik asam nukleat bernama DNA.

Pada film Jurassic Park, dikisahkan para ilmuwan berhasil mendapatkan potongan DNA dinosaurus yang sudah punah jutaan tahun lalu. Potongan DNA tersebut didapatkan dari tubuh nyamuk yang terawetkan dalam sebuah batu amber. Dengan melengkapi bagian yang hilang pada potongan DNA tersebut, dinosaurus pun dapat dihidupkan kembali.

Upaya tersebut pula yang ditempuh tim ilmuwan pimpinan Prof. George Church dari Harvard University. Target yang paling memungkinkan saat ini adalah mamut berbulu (Mammuthus primigenius), salah satu spesies mamalia besar dengan populasi terbanyak pada era Plesitosen, sekitar 11.000 tahun yang lalu.

Bedanya, tidak hanya potongan DNA-nya yang sudah ditemukan, melainkan genom utuhnya. Bukan dari nyamuk, namun dari fosilnya langsung yang tertimbun di bawah tumpukan es Siberia. Temuan ini sudah dipublikasikan pada 2015 lalu di jurnal Current Biology.

Genom utuh ini ibarat cetak biru dari suatu spesies. Jika sudah terungkap, pekerjaan berikutnya tinggal masalah teknis untuk menghasilkan keturunan baru. Titik krusial ini punya dua opsi, yaitu kloning atau rekayasa genetik.

Kita tentu akrab dengan istilah kloning yang menjadi populer sejak lahirnya domba bernama Dolly dari metode ini pada dekade 90-an. Kloning dapat menghasilkan keturunan yang identik dengan spesies yang ditarget, namun memiliki keterbatasan.

Dibutuhkan sel hidup dalam kondisi baik dengan nukleus utuh, sehingga hanya dapat dilakukan pada spesies yang belum punah, atau setidaknya baru saja punah dengan sel yang terawetkan. Tentu tidak memungkinkan bagi mamut berbulu yang kini hanya tersisa fosilnya saja.

Dengan demikian, opsi kedua yang diambil. Langkah dimulai dengan menentukan spesies terdekat dari mamut berbulu, yaitu gajah Asia (Elephas maximus). Kemudian, DNA gajah Asia pada tahap embrio akan dimodifikasi agar sesuai dengan genom utuh mamut.

Tahap ini adalah yang tersulit dan belum berhasil dilakukan, meski pun teknologi saat ini sudah memungkinkan untuk memodifikasi DNA semudah menyalin dan menempel teks, misalnya saja dengan metode CRISPR-Cas9. Dengan bantuan enzim nuklease Cas9, basa nitrogen tertentu pada DNA dapat dipotong dan diganti dengan basa nitrogen lain sesuai keinginan para ilmuwan.

Jika embrio tersebut berkembang dan terlahir sebagai keturunan, secara fisik penampilannya akan seperti gajah Asia, namun membawa DNA mamut berbulu. Pada tahap ini, DNA gajah Asia masih dominan.

Selanjutnya, dengan mengawinkan keturunan-keturunan tersebut secara selektif, akan terlahir keturunan baru dengan DNA dan penampilan yang serupa dengan mamut berbulu. Segera setelah ini berhasil, status spesies mamut berbulu akan berubah dari “punah” menjadi “punah di alam”.

Di sinilah masalah muncul. De-extinction bukanlah kegiatan yang selesai hingga spesies terlahir kembali, tetapi masih ada tahap berikutnya. Tahap ini justru merupakan esensi dari keseluruhan upaya de-extinction, yaitu reintroduksi. Spesies harus dapat dilepaskan kembali ke habitat asalnya untuk mengisi relung ekologis yang telah ditinggalkannya.

Dengan demikian, konsekuensi melakukan de-extinction adalah tersedianya habitat yang sesuai dengan spesies tersebut dan penyebab kepunahannya di masa lalu telah dieliminasi.

Bagi spesies yang segera direintroduksi sebelum lama punah di alam, seperti kijang Arab (Oryx leucoryx) atau kondor California (Gymnogyps californianus), tentu tidak terlalu sulit. Habitatnya belum mengalami perubahan berarti dan relung ekologis yang ditinggalkannya akan dengan mudah ditempati kembali.

Mauricio Antón/Wikimedia Commons Ilustrasi mamut berbulu

Bagaimana untuk mamut berbulu? Reintroduksi ke habitat asalnya di masa sekarang justru berpotensi menimbulkan masalah. Jarak ribuan tahun dari kepunahannya hingga saat ini telah menciptakan banyak perubahan pada habitatnya, sehingga sulit untuk mendapatkan posisi pada tatanan ekosistem.

Mamut bahkan bisa saja menjadi spesies asing yang invasif dan memberikan dampak negatif bagi habitatnya saat ini. Hal tersebut tentu bertolak belakang dengan semangat konservasi yang mendasari dimulainya proyek ini.

Pun sebelum sampai ke sana, dibutuhkan banyak pengorbanan dari gajah Asia agar proyek ini berhasil. Keturunan mamut berbulu yang akan dikawinkan lagi harus berasal dari indukan gajah Asia yang berbeda untuk menghindari risiko kecacatan akibat perkawinan sedarah.

Dapat dibayangkan ratusan, bahkan mungkin ribuan gajah Asia betina akan digunakan sebagai mesin produksi mamut berbulu. Alih-alih mengembalikan mamut berbulu dari kepunahan, tindakan ini justru memberikan ancaman langsung pada kepunahan gajah Asia. Ironis dan tidak rasional.

Mayoritas ilmuwan berpendapat bahwa jika suatu spesies dihidupkan kembali hanya untuk menjadi satwa eksperimen dan hanya bisa hidup di kebun binatang, maka de-extinction lebih baik tidak dilakukan.

Oleh karena itu, sekelompok ilmuwan lain memilih jalan tengah dengan memanfaatkan gen unggul dari mamut berbulu untuk digunakan pada gajah Asia. Misalnya dengan merekayasa gajah Asia secara genetik agar memiliki rambut dan lemak yang lebih tebal, serta sel darah merah yang lebih efisien dalam menyalurkan oksigen agar dapat bertahan hidup di kondisi yang lebih dingin.

Agaknya, menghidupkan kembali mamut berbulu adalah hal yang kita inginkan, namun tidak kita butuhkan saat ini. Mengerahkan sumber daya dan teknologi yang ada untuk penyelamatan spesies terancam punah adalah yang lebih kita butuhkan, meski terdengar klise dan tidak terlalu fantastis.

Tidak tepat jika terpaku pada urusan teknis hingga melupakan konsekuensi dan hakikat dari de-extinction itu sendiri. Seperti yang sudah disinggung oleh Dr. Ian Malcolm dalam film Jurassic Park, “..your scientists were so preoccupied with whether or not they could, they didn’t stop to think if they should”.

Meski demikian, tidak dapat dimungkiri juga bahwa pencapaian ini berarti sangat besar bagi ilmu pengetahuan.

Pangda Sopha

Peneliti bidang zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI yang sedang menempuh pendidikan Magister di University of Tsukuba dengan studi Animal Reproductive Biology

#Bangkitkan #Spesies #dari #Kepunahan #Bagaimana #Potensi #dan #Urgensinya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts