4 Faktor Pemicu Banjir Manado, Cuaca Ekstrem hingga Labilitas Atmosfer Halaman all

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Banjir bandang dan tanah longsor terjadi di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, pada Jumat (22/1/2021).

Read More

Saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/1/2021), Humas Badan SAR Nasional (Basarnas) Manado, Feri mengatakan bahwa bencana banjir ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia, 1 orang masih dalam pencarian, dan 51 warga terdampak telah dievakuasi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, berdasar laporan BPBD Kota Manado, hujan dengan intensitas tinggi memicu debit air di daerah aliran sungai (DAS) Sawangan dan Tondano meluap. 

“Berdasarkan data BPBD setempat pada pukul 21.00 WIB, delapan kecamatan di Kota Manado terdampak banjir,” ujarnya sebagaimana dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (22/1/2021) malam.

 

Kedelapan kecamatan yang terdampak tersebut yakni Kecamatan Malalayang, Wanea, Sario, Paal Dua, Pikkala, Wenang, Tuminting, dan Singkil.

Untuk diketahui, sebelumnya banjir dan tanah longsor juga sempat melanda Kota Manado pada Minggu (17/1/2021) yang mengakibatkan 6 orang tewas dan 500 jiwa mengungsi.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), bencana hidremeteorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor itu disebabkan oleh 4 faktor pemicu.

1. Cuaca ekstrem

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Sam Ratulangi Manado, Rio Marthadi SSi dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa pada tanggal 22 Januari 2021 telah terjadi cuaca ekstrem yakni hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang yang berdampak banjir dan tanah longsor di sebagian besar wilayah Kota Manado dan sebagian Wilayah Minahasa.

Curah hujan dengan intensitas lebat tercatat di Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado pada tanggal 22 Januari 2021 65 mm.

Berikutnya, curah hujan intensitas ekstrem di Stasiun Geofisika Manado yang terletak di Kecamatan Winangun I sebesar 258.6 mm, Pos hujan Bailang sebesar 187.0 mm dan Pos hujan Paal 4 sebesar 259.5mm.

Diingatkan Rio, pada periode Januari- Februari diprakirakan hujan untuk wilayah Sulawesi Utara secara umum masih dikategorikan kategori menengah hingga tinggi (50mm-200mm/dasarian atau per minggu).

 

KOMPAS.com/SKIVO MARCELINO MANDEY TPU Winangun, Manado, Sulawesi Utara, longsor. Tampak makam mayat masih menutupi setengah basan jalan, Sabtu (23/1/2021) pukul 15.07 WITA

2. Pusat tekanan rendah

Rio menjelaskan, berdasarkan kondisi dinamika atmosfer terkini terpantau juga adanya pusat tekanan rendah (Low Preasure Area/LPA) 1008 hPa di Laut China Selatan dan LPA 998 hPa di Laut Timur.

Pusat tekanan rendah ini berperan membentuk sirkulasi sikonik yang menyebabkan pola gradiend angin di Sulawesi Utara yaitu konvergensi atau pertemuan massa udara dan perlambatan massa udara.

Massa udara yang bertemu dan melambat di Sulawesi Utara merupakan massa udara basah yang terbawa dari Samudera Pasifik sebelah barat.

3. Labilitas atmosfer

BMKG mengidentifikasi adanya labiliitas atmosfer (pengamatan udara atas) pada jam 00 UTC (08.00 WITA) memiliki indeks-indeks labilitas yang kuat dan memiliki energi besar untuk mendukung terjadinya pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado dan sekitarnya.

Seperti diketahui, awan cumulonimbus adalah jenis awan cumulus yang terkait dengan badai petir (thunderstorm) dan hujan lebat.

Kemunculan awan ini bisa memberi banyak dampak pada cuaca dan fenomena alam, seperti tornado, angin puting beliung, petir, badai guruh, gelombang tinggi, waterspout, serta hujan intensitas tinggi yang berpotensi terjadi bencana banjir bandang.

4. Kelembapan udara

Disebutkan bahwa kelembapan udara relatif menunjukkan wilayah tersebut kelembapannya dari bawah hingga lapisan atas sangat basah, sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan Cb di wilayah Sulawesi Utara.

Tercatat kelembapan udara relatif di lapisan 850 mb adalah 80 persen, 700 mb adalah 80 persen dan 500 mb sama dengan 100 persen.

“Kondisi atmosfer demikian mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir dalam durasi waktu yang lama,” ucap dia.

#Faktor #Pemicu #Banjir #Manado #Cuaca #Ekstrem #hingga #Labilitas #Atmosfer #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts