Kenapa Jutaan Cerpelai Dimusnahkan Saat Pandemi Covid-19?

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Mutasi virus corona telah memicu pemusnahan jutaan ekor cerpelai di Denmark.

Read More

Beberapa bagian di negara itu memberlakukan karantina wilayah setelah pihak berwenang Denmark menemukan perubahan genetik yang mereka katakan dapat berdampak pada efektivitas vaksin Covid-19 di masa depan.

Lebih dari 200 orang telah terinfeksi galur virus corona yang ditemukan pada cerpelai.

Inggris melarang semua kunjungan dari Denmark, di tengah kekhawatiran soal galur baru virus.

Para ilmuwan Denmark sangat prihatin tentang satu jenis virus yang berhubungan dengan cerpelai, yang ditemukan pada 12 orang.

Para ilmuwan mengatakan virus itu bersifat kurang sensitif terhadap antibodi tubuh. Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang pengembangan vaksin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan laporan itu mengkhawatirkan, tetapi studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami implikasi perawatan dan vaksin.

“Kita perlu menunggu dan melihat apa implikasinya, tetapi saya tidak berpikir kita harus sampai pada kesimpulan apa pun tentang apakah mutasi khusus ini akan berdampak pada kemanjuran vaksin,” kata kepala ilmuwan, Soumya Swaminathan.

Virus corona, seperti semua virus pada umumnya, bermutasi dari waktu ke waktu, dan tidak ada bukti bahwa salah satu mutasi yang ditemukan di Denmark meningkatkan tingkat kebahayaan bagi manusia.

Marisa Peyre, seorang ahli epidemiolog dari lembaga penelitian Prancis Cirad, mengatakan perkembangan itu “mengkhawatirkan”, tetapi kami belum mengetahui gambaran lengkapnya.

“Setiap kali virus menyebar di antara hewan, itu akan berubah, dan jika terlalu banyak berubah dari yang beredar di dalam manusia saat ini, itu mungkin berarti bahwa vaksin atau pengobatan apa pun yang akan segera diproduksi mungkin tidak berfungsi sebagaimana mestinya, “jelasnya.

Yang terjadi saat ini merupakan rangkaian peristiwa yang sangat tidak biasa: yaitu virus yang awalnya berasal dari hewan liar – kemungkinan kelelawar – beralih ke manusia, yang kemungkinan melalui inang hewan yang tidak diketahui dan memicu pandemi.

GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Puluhan ribu cerpelai telah dimusnahkan di Belanda sejak wabah virus corona dimulai.

Cerpelai yang dipelihara dalam jumlah besar di peternakan cerpelai telah tertular virus corona dari pekerja yang terinfeksi. Dan, dalam sejumlah kasus yang kecil, virus itu telah “menyebar kembali” dari cerpelai ke manusia, sambil membawa perubahan genetik dalam proses itu.

Mutasi pada beberapa galur yang berhubungan dengan cerpelai melibatkan protein virus yang bertaji, bagian yang menjadi sasaran beberapa vaksin yang sedang dikembangkan.

“Jika mutasi ada pada protein tertentu yang saat ini ditargetkan oleh pengembang vaksin untuk memicu respons kekebalan pada manusia, itu berarti, galur baru virus dari cerpelai yang meloncat ke manusia, bahkan dengan vaksinasi, manusia akan mulai menyebarkannya dan vaksin tidak akan dapat melindungi,” kata Peyre kepada BBC News.

Lebih dari 50 juta cerpelai setiap tahun dikembangbiakkan untuk diambil bulunya, terutama di China, Denmark, Belanda, dan Polandia. Wabah telah dilaporkan di peternakan cerpelai di Belanda, Denmark, Spanyol, Swedia, Italia, dan Amerika Serikat, dan jutaan hewan harus dimusnahkan.

Cerpelai, seperti sepesies kerabat dekat mereka, musang, diketahui rentan terhadap virus corona. Seperti manusia, cerpelai dapat mengalami berbagai gejala, mulai dari tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit sama sekali hingga gejala parah, seperti pneumonia.

Para ilmuwan menduga virus menyebar di peternakan cerpelai melalui cipratan, pada pakan atau alas tidur, atau dalam debu yang mengandung kotoran.

Cerpelai telah terinfeksi virus itu dari manusia, tetapi penelusuran para detektif genetik menunjukkan bahwa dalam sejumlah kecil kasus, virus itu tampaknya juga menyebar dari arah sebaliknya, yaitu dengan virus yang menular dari cerpelai kembali ke manusia.

Ilustrasi cerpelaiSHUTTERSTOCK/Aleksandra Saveljeva Ilustrasi cerpelai

Cerpelai telah menjadi “waduk virus” dan pengawasan diperlukan pada hewan liar dan domestik lainnya yang mungkin rentan, kata Profesor Joanne Santini dari University College London.

“Cerpelai adalah yang ekstrim, tetapi itu bisa terjadi di luar sana dan tidak diketahui, dan itu adalah sesuatu yang perlu kami periksa,” katanya kepada BBC News.

“Apa yang kami tahu adalah bahwa cerpelai tertular virus itu dari manusia; mereka dapat terinfeksi dan mereka menyebarkannya di antara mereka sendiri dan juga kembali ke manusia.”

Para ilmuwan di Denmark sedang melakukan studi genetik pada galur yang ditemukan pada cerpelai, dan data genetik telah dibagikan dengan para peneliti lain, untuk memungkinkan penyelidikan lebih lanjut.

“Kami perlu mencari tahu di mana saja terdapat mutasi ini dan kami perlu melihat apa efek yang ditimbulkan pada penularan virus dan seberapa menularnya mutasi itu, karena jika itu berubah dan menjadi lebih menular atau memiliki jangkauan inang yang lebih luas, maka itu benar-benar cukup serem, tapi mungkin tidak, karena kami tidak tahu,” kata Santini.

Beberapa ilmuwan telah menyerukan restriksi baru pada produksi cerpelai, dan mengatakan bahwa pertanian cerpelai “menghalangi respons dan pemulihan kita dari pandemi”.

Dalam surat baru-baru ini kepada jurnal Science, tiga ilmuwan, dari Denmark, China dan Malaysia, menulis: “Sangat penting untuk memantau, membatasi, dan – jika memungkinkan – melarang produksi cerpelai.”

Organisasi Kesehatan Dunia telah meminta semua negara untuk meningkatkan pengawasan dan memperketat tindakan keamanan hayati di sekitar peternakan cerpelai.

#Kenapa #Jutaan #Cerpelai #Dimusnahkan #Saat #Pandemi #Covid19

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts