Rahasia Alam Semesta: Apa Itu Nebula, Fenomena di Tengah Gelapnya Ruang Angkasa?

  • Whatsapp

KOMPAS.com– Nebula, satu fenomena yang memancar indah di tengah gelapnya ruang angkasa. Fenomena ini sudah cukup sering tertangkap oleh para astronom lewat lensa-lensa teleskop mereka.

Read More

Lantas, apa itu nebula dan bagaimana terbentuknya?

Nebula dalam kata latin “awan”, sebenarnya bukan hanya awan debu yang besar. Nebula berasal dari gas hidrogen, helium dan plasma yang kerap dikenal “pembibitan bintang” yang berarti tempat lahirnya bintang. 

Tetapi dari penjelasan tersebut memang belum menggambarkan seperti apakah nebula?

Memang bisa dikatakan nebula menipu manusia tanpa ada penemuan akhir, padahal peran mereka dalam pembentukan bintang, planet dan keanekaragamannya ada.

 

Dikutip dari Universe Today, Jumat (23/10/2020), pada saat ini astronom telah menyadari bahwa luar angkasa bukanlah ruangan yang sangat hampa. Ada partikel gas dan debu yang dikenal dengan Interstellar Medium (ISM).

Gas antar bintang terdiri dari atom dan molekul netral, serta partikel yang bermuatan (plasma), seperti ion dan elektron. Gas ini tersebar, jumlahnya akan bertambah dalam jarak yang jauh, pada akhirnya mereka akan menyatu dan membentuk bintang dan sistem planet.

Pada intinya, nebula terbentuk saat ada bagian medium antar bintang mengalami keruntuhan gravitasi. Tarikan gravitasi yang timbal balik menyebabkan materi mengumpul dan membentuk kepadatan daerah yang besar.

 

Hal inilah yang membuat bintang terbentuk meskipun materialnya runtuh, ada radiasi pengion ultraviolet yang menyebabkan gas di sekitar terlihat pada panjang gelompang optik.

Nebula lebih padat jika dibanding dengan ruang hampa yang ada di Bumi, ukuran nebula sangat besar hingga diameternya berukuran ratusan tahun cahya. Faktanya awan nebula ukurannya mirip dengan bumi.

Objek bintang yang dapat disebut sebagai Nebula berasal dari empat kelas utama, di antaranya sebagai berikut.

M Rayhan @rayhan_cygnus /Planetarium dan Observatorium Jakarta serta M D Danarianto/BPON LAPAN Nebula di langit utara Indonesia. Penampakan nebula ini diambil oleh LAPAN di Kupang.
  1. Nebula difus (Diffuse Nebulae), yang berarti tidak ada batas jelas yang dimiliki. Nebula ini terbagi dua yaitu kategori yang berdasarkan perilaku dengan cahaya yang nampak yaitu Nebula Emisi dan Nebula Refleksi.
  2. Nebula Gelap (Dark Nebulae), tidak memancarkan radiasi dan tidak diterangi oleh bintang, tetapi malah menghalangi cahaya objek dibelakangnya. Sama seperti Nebula Emisi dan Refleksi, Nebula gelap merupakan sumber emisi inframerah, dikarenakan ada debu di dalamnya.
  3. Nebula Sisa Supernova (Supernova Remnant Nebulae) terbentuk ketika sebuah bintang meledak yang kemudian meninggalkan “sisa” dalam bentuk benda padat yaitu bintang neutron dan awan gas dan debu yang terionisasi oleh energi ledakan. Hasil ledakan supernova itu yang menyebabkan terbentuknya nebula ini.
  4. Planetary Nebulae terbentuk saat bintang bermassa rendah memasuki tahap akhir hidupnya. Ketika bintang kehilangan material yang cukup, suhunya meningkat dan radiasi UV yang dipancarkannya mengionisasi material di sekitarnya.

 

Banyak objek yang tidak terlihat terlalu jelas di langit pada saat malam oleh astronom sejak zaman kuno klasik dan abad pertengahan.

Ketika Ptolemeus mencatat keberadaan lima bintang di Almagast yang tampak samar-samar di bukunya, hal inilah pengamatan pertama yang tercatat terjadi pada 150 M. Dia juga mencatat wilayah luminositas antara konstelasi Ursa Major dan Leo yang tidak terkait dengan bintang yang dapat diamati.

Pada 964 M yang ditulis dalam Book of Fixed Stars, astronom Persia Abd al-Rahman al-Sufi membuat pengamatan pertama dari nebula yang sebenarnya.

Menurut pengamatan al-Sufi, “awan kecil” terlihat di sebagian langit malam di mana galaksi Andromeda sekarang diketahui berada.

Gambar Cosmic Reef yang ditangkap oleh teleskop luar angkasa Hubble menunjukkan nebula merah raksasa (NGC 2014) dan nebula biru yang lebih kecil (NGC 2020.) NASA, ESA, dan STScI Gambar Cosmic Reef yang ditangkap oleh teleskop luar angkasa Hubble menunjukkan nebula merah raksasa (NGC 2014) dan nebula biru yang lebih kecil (NGC 2020.)

Pada tanggal 4 Juli 1054, supernova yang menciptakan Nebula Kepiting (SN 1054,) dapat dilihat oleh para astronom di Bumi, dan rekaman pengamatan yang dibuat oleh astronom Arab dan China telah diidentifikasi.

Peningkatan teleskop pada abad ke-17 mengarahkan pada pengamatan nebula pertama yang dikonfirmasi. Ini dimulai pada 1610, ketika astronom Prancis Nicolas-Claude Fabri de Peiresc membuat pengamatan pertama yang tercatat dari Nebula Orion. 

Jumlah nebula yang diamati mulai meningkat di abad ke-18, dan para astronom mulai menyusun daftar.

Mulai tahun 1864, astronom Inggris William Huggins mulai membedakan nebula berdasarkan spektrumnya. Sekitar sepertiga dari mereka memiliki spektrum emisi gas (Nebula Emisi) sedangkan sisanya menunjukkan spektrum kontinu, konsisten dengan massa bintang (Nebula Planet).

 

Pada tahun 1912, astronom Amerika, Vesto Slipher menambahkan subkategori Refleksi Nebula setelah mengamati bagaimana nebula yang mengelilingi bintang cocok dengan spektrum gugus terbuka Pleiades.

Pada tahun yang sama, Edwin Hubble mengumumkan bahwa hampir semua nebula dikaitkan dengan bintang dan iluminasi mereka berasal dari cahaya bintang.

Sejak saat itu, jumlah nebula sebagai lawan gugus bintang dan galaksi jauh telah berkembang pesat, dan klasifikasi mereka telah disempurnakan berkat peningkatan peralatan observasi dan spektroskopi.

Singkatnya, nebula bukan hanya titik awal evolusi bintang, tetapi juga bisa menjadi titik akhir dan di antara semua sistem bintang yang memenuhi galaksi dan alam semesta kita, awan dan massa samar pasti akan ditemukan.

#Rahasia #Alam #Semesta #Apa #Itu #Nebula #Fenomena #Tengah #Gelapnya #Ruang #Angkasa

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts