Menelusuri Klaster Pertama Penularan Covid-19 di Indonesia

  • Whatsapp

KOMPAS.com – Kasus Covid-19 di Tanah Air pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.

Read More

Sejak saat itu, virus corona SARS-CoV-2 terus menyebar dan hingga Kamis (22/10/2020), tercatat ada 377.541 kasus.

Berkaitan dengan kasus Covid-19 di Indonesia, bagaimana sebenarnya awal penyebarannya?

Tim gabungan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia Research Partnership on Infectious Disease (INA-RESPOND), bersama Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes baru saja menerbitkan laporan tentang klaster pertama kasus Covid-19 di Indonesia.

Dalam laporan yang terbit di jurnal The American Society of Tropical Medicine and Hygiene, tim berhasil mengidentifikasi 11 kasus pertama Covid-19 di Indonesia.

Klaster pertama Covid-19 di Indonesia

Dua bulan setelah China melaporkan kasus Covid-19, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengonfirmasi kasus Covid-19 pertama di Indonesia di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 2 Maret.

Kala itu, Jokowi mengumumkan dua orang WNI dikonfirmasi positif Covid-19.

Adalah wanita berusia 31 tahun (kasus #1) dan ibunya berusia 64 tahun (kasus #2) yang melakukan kontak dengan warga Jepang yang dinyatakan terjangkit virus corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia.

Kasus #1 dan #2 diketahui setelah mereka melakukan usap tenggorokan dan dahak untuk tes polymerase chain reaction (PCR) seperti yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam laporannya, Kasus #1 jatuh sakit setelah dua hari sebelumnya menghadiri acara menari. Dia mengunjungi klinik rawat jalan pada hari ke-4 karena mengalami demam dan batuk terus menerus.

Kasus #1 diberi pengobatan simptomatik (antipiretik dan sirup obat batuk). Pada hari ke-19 sakit, dia mengalami kesulitan bernapas dan dirawat di rumah sakit dengan diagnosis bronkopneumonia. Jumlah leukosit, limfosit, dan trombositnya normal.

Sementara kasus #2 bertemu #1, 2 hari setelah acara menari. Kasus #2 mengalami demam dan batuk pada hari ke-4.

NIAID/Flickr, CC BY 2.0/Science Alert Partikel virus corona Sars-CoV-2 di sel manusia.

Kasus #2 didiagnosis menderita demam tifoid dan dirawat di rumah sakit pada hari yang sama.

Setelah itu tracing dilakukan. Tempat-tempat yang dikunjungi kasus #1 dan kasus #2 didatangi untuk mengidentifikasi orang yang melakukan kontak dengan mereka.

Ada spesimen dari 113 kontak dekat termasuk pengemudi, pramusaji, peserta di acara dansa diuji, keluarga, teman, dan staf medis diuji.

“33 orang melakukan kontak dekat orang asing, termasuk supir, pemandu wisata, pramusaji di restoran, dan tamu atau peserta di acara dansa. Dan ada 80 orang yang melakukan kontak dengan kasus pertama di Indonesia, seperti keluarga, teman, dan petugas medis. Semuanya diuji,” tulis tim dalam laporannya.

Dari hasil pengujian, 11 kontak dekat itu dinyakatan positif. Sembilan kontak menunjukkan gejala sakit dan dua lainnya tanpa gejala.

Gejala demam dan kesulitan bernapas rata-rata muncul 3,2 hari setelah terpapar.

Dari 11 orang positif yang menunjukkan gejala, ada tujuh orang yang mengalami demam, tujuh orang mengalami batuk, empat orang mengalami radang tenggorokan, dan tiga orang mengalami sesak napas.

Selain itu, tidak ada gangguan pencernaan, sistem saraf, atau masalah kulit yang dilaporkan.

Ilustrasi ilmuwan mempelajari infeksi Covid-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2, jenis virus corona baru yang menyebabkan pandemi global. Ilmuwan Inggris akan menginfeksi orang sehat dengan virus corona untuk mempelajari infeksi Covid-19.SHUTTERSTOCK/Blue Planet Studio Ilustrasi ilmuwan mempelajari infeksi Covid-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2, jenis virus corona baru yang menyebabkan pandemi global. Ilmuwan Inggris akan menginfeksi orang sehat dengan virus corona untuk mempelajari infeksi Covid-19.

Untuk pengobatan, semua pasien hanya diberi multivitamin dan pengobatan simptomatik seperti antipiretik dan mukolitik. Antibiotik hanya diberikan kepada beberapa pasien.

Satu kasus simptomatik meninggal saat dirawat di rumah sakit 15 hari setelah sakit.

Di antara 11 kasus, 10 kasus kontak dengan orang asing, dan satu kasus kontak sekunder.

Hal ini menunjukkan bahwa penularan lebih mungkin terjadi di dalam ruangan yang padat atau lingkungan tertutup.

Tim juga melaporkan, RNA virus menurun dan menghilang rata-rata dalam 21,3 hari setelah gejala muncul. Pasien dianggap sembuh ketika tidak ada RNA virus terdeteksi daam dua hari berturut-turut.

Sementara itu, pengurutan langsung dari gen parsial SARS-CoV-2 dari spesimen kasus #1 dan kasus #2 menunjukkan kemiripan 100 persen dengan urutan gen dari virus corona yang terdeteksi di Wuhan.

Berdasarkan database Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) (S, V, G, dan klade lainnya), kedua sampel dikelompokkan pada klade / jenis L yang lain.

“Kami menjelaskan secara singkat temuan epidemiologi, klinis, dan virologis dari 11 kasus pertama di Indonesia yang terjadi di Jakarta, yang ditularkan oleh orang asing yang telah tertular di luar negeri,” tulis tim dalam laporannya.

“Karena kasus-kasus tersebut diidentifikasi 2 minggu setelah terpapar, investigasi kontak dekat telah dilakukan dan dapat mengidentifikasi lebih banyak kasus,” imbuhnya.

Laporan ini menggarisbawahi, pemantauan, pengujian, dan investigasi kontak lebih lanjut harus dilakukan untuk menghentikan transmisi di Indonesia.

Karena jumlah kasus yang terus meningkat, Indonesia harus mengambil tindakan tegas untuk menahan penyebaran virus corona, termasuk social distancing, isolasi diri bagi penderita dengan gejala pernafasan.

#Menelusuri #Klaster #Pertama #Penularan #Covid19 #Indonesia

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts