Dibayangi Resesi, Wall Street Ditutup Melemah

  • Whatsapp

NEW YORK, KOMPAS.com – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah, Rabu (22/6/2022) waktu setempat. Perdagangan cukup volatile, karena pasar berjuang untuk mempertahankan posisi rebound sebelumnya.

Read More

Dalam perdagangan Rabu, sentimen rencana kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif kedepannya untuk menekan inflasi masih membayangi indeks. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 47,12 poin, atau 0,15 persen menjadi 30.483,13. Kemudian, S&P 500 turun 0,13 persen menjadi 3.759,89, dan Nasdaq Composite melemah 0,15 persen menjadi 11.053,08.

Sebelumnya, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bak central memiliki keputusan sebagai upaya untuk menekan inflasi yang melonjak ke level tertinggi dalam 40 tahun.

“The Fed memahami kesulitan yang disebabkan oleh inflasi yang tinggi. Kami sangat berkomitmen untuk menurunkan inflasi, dan kami bergerak cepat untuk melakukannya,” kata Powell kepada Komite Perbankan Senat mengutip CNBC.

Powell menambahkan, The Fed akan tetap di jalurnya sampai melihat ada bukti kuat bahwa inflasi dalam penurunan. Dia juga mengatakan untuk menekan inflasi, namun terbebas dari resesi ekonomi, merupakan hal yang menantang.

Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 0,75 poin persentase minggu lalu dan mengisyaratkan adanya peningkatan lagi pada bulan depan. Sikap bank sentral tersebut yang membuat investor bingung yang khawatir, bahwa bank sentral lebih suka mengambil risiko resesi daripada menanggung inflasi tinggi yang terus-menerus.

“Inflasi tetap menjadi risiko terbesar bagi aset keuangan, dan Jerome Powell telah membuat posisinya sangat jelas, dimana The Fed akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi mulai berkurang. Sampai saat itu, reli berkelanjutan untuk aset berisiko sulit dibayangkan,” kata Robert Schein, kepala investasi Blanke Schein Wealth Management.

Cara Pesan Tiket KRL di Aplikasi Gojek Tanpa Kartu Elektronik

Di sisi lain, ekspektasi dari resesi terus membayangi Wall Street minggu ini. Citigroup meningkatkan peluang resesi global menjadi 50 persen, yang merujuk pada data konsumen yang mulai menarik kembali pengeluarannya.

“Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa disinflasi sering membawa biaya yang berarti untuk pertumbuhan, dan kami melihat kemungkinan agregat resesi saat ini mendekati 50 persen,” kata analis Citigroup.

Sementara itu, Goldman Sachs percaya resesi menjadi semakin mungkin untuk ekonomi AS. Hal ini dinilai membaawa risiko yang lebih tinggi pada ekonomi AS kedepannya.

“Kami semakin khawatir The Fed akan merasa terdorong untuk menanggapi secara paksa inflasi utama yang tinggi dan ekspektasi inflasi konsumen, jika harga energi naik lebih jauh, bahkan jika aktivitas melambat tajam,” kata analis Goldman Sachs.

Saham energi terpukul karena harga minyak turun di tengah kekhawatiran ekonomi yang lebih lambat akan mengganggu permintaan bahan bakar. Sektor ini berkinerja terburuk pada indeks pasar saham dengan penurunan hampir 4,2 persen.

Saham Marathon Oil dan ConocoPhillips masing-masing ambles 7,2 persen, dan sekitar 6,3 persen. Sementara itu, Occidental Petroleum dan Exxon Mobil turun 3,6 persen dan hampir 4 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Dibayangi #Resesi #Wall #Street #Ditutup #Melemah #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts