Wall Street Ditutup Menguat di Akhir Pekan

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada Jumat (1/4/2022) waktu setempat. Penguatan tersebut ditopang oleh optimisme pasar memasuki kuartal baru, dan menurunnya harga minyak mentah.

Read More

S&P 500 naik 0,34 persen menjadi 4.545,86, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,29 persen menjadi 14.261,5. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 139,92 poin, atau 0,4 persen, menjadi ditutup pada 34.818,27.

Harga patokan AS West Texas Intermediate turun di bawah 100 dollar AS per barel karena pemerintahan Biden berjanji untuk melepaskan lebih banyak cadangan minyak strategis.

Seperti diketahui, harga energi melonjak awal tahun ini karena invasi Rusia ke Ukraina mengganggu pasokan global. Kondisi geopolitik ini menimbulkan kekhawatiran kenaikan harga dan mengacaukan pertumbuhan ekonomi.

Neil Birrell, kepala investasi di Premier Miton Investors mengatakan, data tenaga kerja juga turun dari ekspektasi yang diharapkan, tetapi tidak seburuk yang dikhawatirkan banyak orang. Lowongan pekerjaan masih diisi dan pertumbuhan upah tetap kuat, yang menunjukkan bahwa ekonomi dalam kondisi yang baik.

“Itulah yang terjadi untuk saat ini. Kuncinya adalah dampak pada pasar kerja dan ekonomi secara luas karena suku bunga melonjak lebih tinggi dan pertumbuhan melambat,” ujar Neil seperti dikutip dari CNBC.

Saham seperti Freeport-McMoRan naik lebih dari 2 persen, dan Newmont naik hampir 4,2 persen. Saham perawatan kesehatan, utilitas dan energi juga menguat, saham Edwards Life Sciences dan Illumina naik lebih dari 4 persen, dan saham Walmart juga naik lebih dari 1 persen.

Keith Lerner, co-CIO dan kepala strategi pasar di Truist Advisory Services mengungkapkan, investor mengabaikan sinyal resesi dari pasar obligasi yang dipicu setelah penutupan bursa di hari sebelumnya.

Sentimen resesi ini terjadi setelah imbal hasil Treasury AS 2 tahun dan 10 tahun terbalik untuk pertama kalinya sejak 2019. Imbal hasil Treasury 10 tahun AS naik lebih dari 4 basis poin di 2,371 persen, dan imbal hasil Treasury AS 2 tahun melonjak 15 basis poin lebih tinggi pada 2,432 persen. Hasil tersebut berbanding terbalik dengan harga dan 1 basis yang sama dengan 0,01 persen.

Bagi beberapa investor, ini adalah sinyal bahwa ekonomi sedang menuju kemungkinan resesi, meskipun kurva imbal hasil terbalik, tidak memprediksi dengan tepat kapan itu akan terjadi, dan sejarah menunjukkan hal tersebut bisa pulih lebih dari satu tahun lagi atau lebih lama.

“Ini adalah peringatan, apakah The Fed akan dapat mengatasi ini dengan benar, dan saya pikir itu kekhawatiran yang valid. Tetapi sebagian besar data dengan sendirinya menunjukkan kurva imbal hasil itu sendiri bukanlah sinyal jual jangka pendek,” kata Keith Lerner, co-CIO dan kepala strategi pasar di Truist Advisory Services.

Sementara itu, saham perbankan mengalami tekanan, seperti Citigroup yang turun 2 persen, Intel melemah hampir 3 persen, dan Advanced Micro Devices kehilangan sekitar 1 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Wall #Street #Ditutup #Menguat #Akhir #Pekan #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts