Kabarnya, Investor Kawasan Industri Morowali Pergi?

  • Whatsapp
investor kawasan industri morowali pergi
investor kawasan industri morowali pergi

Kabar burung baru saja saya dapatkan dari kawan yang berada jauh di Sulawesi Tengah, tepatnya di Morowali. Gosip saya dengan kawan saya menyatakan bahwa salah satu investor di kawasan industri Morowali pergi dan sebuah investasi batal masuk di kawasan industri Morowali. Entah karena apa, masih belum pasti. Namanya saja cuma gosip antara saya dan kawan saya itu.

Investor kawasan industri Morowali yang pergi itu berasal dari Negeri Panda. Investor tersebut membatalkan penanaman modalnya ke kawasan industri Morowali yang rencananya dalam bentuk baja canai panas atau HRC (Hot Rolled Coil) sebesar 4 juta ton. Wah, jumlah yang bukan main jika dikonversi ke rupiah. 

Read More

Jika diperjelas lagi, sebenarnya banyak faktor yang menghambat investasi tersebut hingga tidak jadi mengalir ke roda perekonomian Indonesia. Bisa saja, beberapa faktor tersebut yang membuat salah satu investor kawasan industri Morowali pergi dan tidak jadi berinvestasi. 

Salah satu faktor yang menghambat aliran investasi ke Indonesia, mungkin, adanya kebijakan serta birokrasi yang berubah-ubah. Selain berubah-ubah, ada juga yang tumpang tindih antara kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah tempat investasi tersebut mengalir. Bisa saja hal tersebut yang membuat salah satu investor kawasan industri Morowali tersebut pergi dan tidak jadi menanamkan modalnya dalam bentuk baja canai panas atau HRC (Hot Rolled Coil) sebesar 4 juta ton.

Kalau menurut opini saya yang merupakan masyarakat biasa, 

Menurut opini saya, bisa jadi juga karena HPM (Harga Patokan Mineral) yang diteken mulai April 2020 oleh Menteri ESDM. Bisa jadi, dengan adanya HPM tersebut investor menjadi jengah dan gerah karena birokrasi investasi di awal kesepakatan menjadi berubah di tengah berjalannya investasi. 

Namun perlu diingat kembali, ini hanyalah opini pribadi saya sebagai rakyat Indonesia yang (katanya) dapat bebas berpendapat.

Saya mengajak rekan-rekan pembaca sekalian merenung dan berdiskusi bersama. Apakah keadaan ini tidak perlu dikhawatirkan? Atau mengkhawatirkan? Saya sebagai masyarakat awam menjadi penasaran dengan kabar burung yang beredar ini. 

Namun saya berharap, keadaan ini tidak mengakibatkan kerugian bagi Indonesia terutama kesejahteraan masyarakat di Nusantara. Walaupun saya tidak menyembunyikan fakta, bahwa potensi terbukanya ribuan lapangan kerja lenyap begitu saja. Apalagi kesempatan besar mendapatkan devisa negara jikalau diekspor. 

Harapan saya yang mungkin bisa mewakili beberapa elemen masyarakat, entah itu guru, investor, nelayan, pengusaha, petani, atau sekadar supir ojek online: Kami berharap tidak terjadi apa-apa dengan keadaan semua ini. Semoga, iklim bisnis dan investasi di Indonesia tetap stabil sehingga tidak masuk ke dalam jurang resesi.

Related posts