Kesejahteraan Atlet dan Mantan Atlet: Antara Fakta dan Impian

  • Whatsapp

RIUH dan ingar bingar saat Indonesia memastikan medali emas badminton ganda putri di Olimpiade Tokyo 2020.

Terlebih lagi, ini adalah medali emas pertama olimpiade buat nomor ganda putri di sepanjang keikutsertaan Indonesia di olimpiade.

Itu tak berhenti dengan ucapan selamat dari beragam penjuru. Timbunan janji hadiah, bonus, dan apresiasi pun menyambut pasangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu.

 

Uang senilai miliaran rupiah, rumah dan apartemen, tanah, dan banyak lagi, masuk daftar janji-janji untuk Greysia dan Apriyani.

Sesaat, dunia olahraga mendadak tampak jadi bidang menjanjikan untuk ditekuni atas nama kesejahteraan hari ini dan bahkan hari tua.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, benarkah begitu? Apakah janji-janji untuk Greysia dan Apriyani adalah fakta bagi atlet dan mantan atlet secara keseluruhan? Ataukah, janji-janji untuk Greysia dan Apriyani itu malah impian yang jauh panggang dari api?

Kisah muram bertebaran

Belum lama berselang, sederet cerita muram kehidupan atlet dan mantan atlet mengemuka di media. Ada Karni, mantan atlet dayung berprestasi hingga kawasan regional Asia, kini menjadi hororer tukang sapu dan kebersihan di Blora, Jawa Tengah.

Lalu, ada kisah Ellyas Pical. Buat generasi 80-an, nama Ellyas Pical adalah idola dari dunia tinju, setelah menjadi juara dunia tinju kelas bantam yunior pada 1985.

Namun, bagi generasi 2000-an, nama Ellyas Pical nyaris tak terdengar. Harian Kompas edisi 25 Mei 2015 berjudul: Si “Raja KO” yang Ditinju Kenyataan, mengupas ringkas perjalanan Ellyas Pical.

KOMPAS/PRIYOMBODO Ellyas Pical, petinju pertama Indonesia yang meraih gelar juara dunia di kelas bantam yunior Federasi Tinju Internasional (IBF) berpose di kediamannya di kawasan Kunciran, Pinang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (10/3/2017).

 

Honor ratusan juta pada masa jayanya, ternyata hampir tak berbekas kalau saja istrinya belakangan tak menjadi manager Ely—nama panggilan Pical.

”Sebagian orang yang menjadi manajer saya lebih banyak memperdayai saya,” kata Ely, di situ.

Itu pun, pekerjaan yang bisa dia dapat selepas jadi petinju profesional adalah menjadi centeng kelab malam. Fakta ini terungkap saat dia ditangkap polisi karena perkara transaksi narkoba pada medio 2005.

Selepas kejadian itu, Ely mendapat pekerjaan sebagai pekerja honorer di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Pada 2017, Elyas Pical terkena serangan jantung. Kondisinya tak pernah benar-benar pulih sejak itu.

Mana yang menjadi perspektif arus utama baik di kalangan atlet dan mantan atlet maupun publik atas dua fenomena yang saling bertolak belakang ini?

Mereka bersuara

Nama-nama yang disebut di atas, adalah mereka yang telah menorehkan prestasi di tataran internasional. Itu pun ternyata tak jadi jaminan kehidupan lalu bersikap baik pada mereka.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang sudah berjuang pula membawa nama negara tetapi belum dapat mempersembahkan medali?

Lebih jauh lagi, bagaimana dengan mereka yang sudah memutuskan menempuh jalan hidup sebagai atlet tetapi langkahnya tak pernah sampai ke pentas dunia?

Atau bahkan, bagaimana dengan mereka yang telah mempersembahkan medali bagi Indonesia dari cabang-cabang yang tak sepopuler badminton?

Bagaimana juga dengan kehidupan mereka yang sudah tak lagi menjadi atlet, baik karena cedera maupun faktor usia?

Litbang Kompas menjajaki perspektif atlet, mantan atlet, dan masyarakat soal kesejahteraan atlet ini pada 1-10 September 2021.

Pengumpulan pendapat secara daring ini mendapati 330 responden berlatar belakang atlet dan mantan atlet dari 37 cabang olahraga di 34 provinsi. Adapun dari masyarakat, ada 506 responden berusia minimal 17 tahun dengan sebaran di 34 provinsi. 

Saat pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah atlet dan mantan atlet sudah sejahtera?”, mayoritas responden baik dari kelompok atlet dan mantan atlet maupun publik mengiyakan. 

Namun, saat digali lebih lanjut dengan pertanyaan “Apakah secara finansial atlet dan mantan atlet sudah sejahtera?” ada kesenjangan yang kentara dari jawaban atlet dan mantan atlet.

 

Buat catatan, responden dari kalangan atlet dan mantan atlet yang menyuarakan ini pun ternyata adalah mereka yang pernah menorehkan prestasi dari jenjang daerah, nasional, hingga internasional.

Definisi sejahtera menurut atlet dan mantan atlet yang menjadi responden survei ini juga tidak muluk-muluk. 

Tiga besar indikator definisi mereka soal sejahtera adalah:

  • Punya pekerjaan, penghasilan rutin (33,3 persen)
  • Memiliki tabungan, asuransi, dana pensiun, jaminan hari tua (25,8 persen)
  • Hidup berkecukupan, bisa makan layak (21,8 persen)

Indikator lain antara lain adalah kesempatan pendidikan bagi diri sendiri dan keluarga, punya usaha mapan, punya tempat tinggal, punya kendaraan bermotor, dan memiliki jaminan kesehatan.

Dengan definisi yang diberikan dan data—terutama setelah digali lebih dalam—hasil survei dari atlet dan mantan atlet di atas, jangan-jangan kesejahteraan bagi atlet memanglah masih sebatas impian.

 

Naskah dan infografik: KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI

#Kesejahteraan #Atlet #dan #Mantan #Atlet #Antara #Fakta #dan #Impian #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts