Sejarah Baru, Indonesia Akhirnya Punya Pabrik Bahan Baku Baterai EV!

  • Whatsapp
Pabrik Bahan Baku Baterai EV-13
Potret kehadiran Kemenko Marves di kawasan industri PT IMIP. Sumber: dok. PT IMIP

Setelah bertahun-tahun Indonesia bermimpi untuk menjadi ‘pemain’ dari industri kendaraan listrik, kini akhirnya pabrik bahan baku baterai EV sudah berdiri di Indonesia. Pabrik bahan baku baterai EV tersebut diresmikan pada Senin (26/9) oleh Kemenko Marves RI Luhut B Pandjaitan yang bekerja sama dengan PT QMB New Energy Materials yang berlokasi di Kawasan Industri PT IMIP.

Dalam peresmian pabrik, hadir pula Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Septian Hario Seto, CEP PT IMIP, Alexander Barus, perwakilan dari Tsingshan Group, Direktur Operasional PT IMIP, Irsan Widjaja, PT Merdeka Tsingshan Indonesia, serta beberapa perusahaan yang berada di dalam Kawasan Industri PT IMIP.

Read More

Berbicara mengenai produksi, nantinya PT QMB New Energy Materials  akan memproduksi energi baru dari bijih nikel laterit dengan menggunakan jalur hidrometalurgi. Digadang-gadang, pabrik ini juga akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua secara global. 

Menteri Luhut memaparkan, PT QMB menjadi bagian kerja sama strategis One Belt One Road antara Indonesia dengan Tiongkok. LBP memaparkan kalau PT QMB banyak mendukung Indonesia khususnya sektor industri yang lebih maju. 

Pabrik Bahan Baku Baterai EV-14
Potret peresmian pabrik bahan baku baterai EV di kawasan industri PT IMIP. Sumber: dok. PT IMIP

“Hari ini kita tidak hanya meresmikan pabrik hijau dan teknologi cerdas, tapi kita juga menyaksikan museum industri sumber daya nikel yang pertama dalam sejarah Indonesia,” jelas Luhut Binsar Pandjaitan.

Karena momentum ini sungguh fantastis bagi Indonesia, Luhut menjelaskan kalau nantinya proyek hidrometalurgi bahan baku energi baru bijih nikel laterit ini akan dipresentasikan di forum G20 bersama update pengembangan kereta api cepat di Bandung. 

Di gelaran yang sama, Direktur PT QMB, Prof Xu Kaihua menjelaskan, peresmian lini produksi tahap pertama tersebut rupanya berkapasitas 30.000 ton per tahun dari proyek bahan baku energi baru dari bahan bijih nikel laterit berbasis hidrometalurgi. 

Proyek ini sudah berlangsung tiga tahun lamanya. Hal ini dikarenakan adanya wabah pandemi COVID-19 yang sebelumnya melanda dunia. Tak hanya line jalur produksi pabrik bahan baku baterai listrik, di dalam proyek ini juga terdapat museum industri nikel kelas dunia dan pusat penelitian teknologi hidrometalurgi dan teknologi bahan energi baru. 

“Proyek ini dirancang dan dibangun secara mandiri menggunakan bijih nikel laterit kadar rendah yang mengandung 0,8 – 1,3 % nikel yang tidak digunakan dalam proses pyrometallurgy. Memproduksi bahan baku utama untuk penggunaan energi baru dan sepenuhnya mendaur ulang nikel, cobalt, mangan, dan sumber daya lainnya. Serta mendorong nilai sublimasi bijih nikel laterit menjadi energi baru,” urai Prof Xu Kaihua.

Dalam gelaran tersebut, Menteri Luhut tak hanya menghadiri peresmian jalur produksi hidrometalurgi PT QMB New Energy Materials. Ia juga sowan ke pabrik nikel cobalt, PT HYNC, pabrik daur ulang baterai lithium, PT Indonesia  Puqing  Recycling Technology, dan pabrik yang akan memproduksi nikel matte, PT Zhongtsing New Energy.

Related posts