Gosip Jokowi – Kompas.com

  • Whatsapp

JUDUL tulisan saya yang cukup sensasional ini sebenarnya adalah salinan dari judul tulisan budayawan Garin Nugroho yang dimuat harian Kompas, 31 Mei 2015.

Read More

Tulisan ini juga dimuat dalam buku bunga rampai, atau kumpulan tulisan Garin, berjudul Negara Melodrama (halaman 55), yang diluncurkan di gedung Bentara Budaya Jakarta, Kamis 21 Maret 2019.

Peluncuran buku ini antara lain dihadiri dua orang pegawai yang sehari-hari bekerja di gedung utama kantor Sekretariat Negara, sebelah kiri Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta.

Sebelum menulis artikel ini beberapa kali saya minta ijin secara lisan kepada Garin untuk mengambil judul itu dan mencuplik beberapa kalimat dari tulisannya serta memparalelkan keadaan (”gosip”) saat ini.

Terakhir, saya minta ijin pada Garin dalam temu santai di pusat kajian dan penelitian Hang Lekir (HL) 717, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 7 Maret 2022 lalu. Garin bilang tidak keberatan dan mengijinkan.

Sebuah kalimat yang menarik dari tulisan Garin ini berbunyi begini. “Simak beragam gosip yang muncul seputar Jokowi. Sebut, gosip Jokowi yang tidak bisa kerjasama dengan Jusuf Kalla dan lebih pada poros Luhut. Alhasil, tersebar gosip bahkan pada wilayah mikro terdekat Presiden, terjadi keretakan dan perpecahan.”

Kemudian Garin memperlihatkan beberapa gosip yang dia dengar. “Sebut, gosip orang-orang sekitar Presiden yang tidak mampu melakukan negosiasi politik pada elit politikus yang berpengalaman untuk memecahkan krisis politik. Sebut juga, elit relawan Jokowi yang sering bekerja tidak lebih seperti event organizer, ……….Sebut gosip lain, yakni keluhan birokrat di berbagai kementerian karena tuntutan presiden yang tidak masuk akal pada pertumbuhan, ekspor, pajak, …hingga penurunan angka kemiskinan.”

Artikel Garin ini dibuka dengan kalimat berikut.

Jokowi sering melamun di Istana, wajahnya keruh dan kebingungan. Suasana Istana tampak kacau tidak seperti era SBY,” demikian Garin yang belum lama ini meluncurkan film barunya “Sepeda Presiden”.

“Inilah gosip yang muncul ketika saya bertemu dengan beberapa elit politik. Tentu saja gosip tentang Jokowi yang terus muncul, meluas di setiap kelompok elit politik,” kata Garin di Jalan Hang Lekir bulan lalu.

Garin sempat bilang, “apa yang saya tulis ini semakin muncul sama dengan situasi sosial politik saat sekarang (tiga tahun terakhir ini)”.

Benar apa yang dikatakan Garin. Kini pembicaraan (gosip) itu semakin ramai. Katakanlah (ini bukan kata Garin), soal presiden tiga periode, perpanjangan masa jabatan presiden dan pembangunan ibu kota baru Nusantara serta wali kota Solo dan Medan.

Juga birokrasi Istana yang semakin “gendut”, tapi tidak efektif. Lihat pula perbincangan masyarakat tentang pejabat Istana yang melakukan “campur tangan” dalam (intern) partai politik.

Sampai-sampai muncul perbincangan “pejabat Istana” yang mencampuri urusan intern parpol ini sedang menjalankan visi misi Jokowi.

Bahkan dari dengungan wacana “presiden tiga periode” dan “perpanjangan masa jabatan kedua” itu muncul ucapan: karena “beliau” juga mau. Itu kata seorang anggota DPR dari fraksi pendukung pemerintah.

Menurut Garin, gosip memang ringan dan sering disepelekan. Gosip sering diartikan sebagai desas desus atau selentingan berita yang tersebar luas dan menjadi rahasia umum, tetapi masih diragukan kebenarannya.

Para pakar menyebut, kata Garin, gosip menjadi ruang katarsis terbesar sebuah bangsa dalam dua wajah terbesarnya.

Pertama, gosip menjadi gaya hidup survival pada negara tirani seperti era Soeharto, ketika data dan fakta tidak dapat diakses serta kebenaran hanya muncul dari penguasa.

Bisa dicatat, ucapan Garin ini mungkin mirip “kebenaran seolah-olah” dari ucapan penguasa yang berdasarkan “big data” yang serupa gosip pula.

Kedua, lanjut Garin, gosip menjadi gejala hidup pada negara yang terbuka, tetapi kehilangan panduan nilai-nilai informasi serta nilai-nilai panduan kepemimpinan, sehingga setiap individu warga menjadi sumber berita.

Gosip makin luas, mudah muncul di publik, karena kemajuan teknologi informasi di masa milineal yang disukai penguasa saat ini.

Menurut Garin, gosip bukanlah data dan fakta, tetapi gosip dalam gaya hidup abad hiburan tidak bisa lagi disepelekan.

Waspadai, gosip yang bisa muncul dari siapa pun, termasuk dari yang punya kuasa yang dengan mudah mengatasnamakan “rakyat” atau “data besar”.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Gosip #Jokowi #Halaman #Kompascom

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts