Senja Kala Mal PTC: Dulu Jadi Favorit, Kini Mati Suri dan Menunggu Akhir

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Situasi senyap melingkupi Mal Pulogadung Trade Center (PTC) di Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jakarta Timur, saat Kompas.com mengunjungi pusat perbelanjaan tersebut pada Rabu (5/1/2021).

Read More

Kios-kios tampak berjejer dengan rolling door tertutup. Di depan sejumlah kios tertulis, “kios ini disewakan”, bahkan dengan harga murah.

Sebelum menjadi seperti sekarang ini, PTC pernah menjadi destinasi favorit warga Pulogadung, Cakung, hingga Bekasi di Jawa Barat.

Mal empat lantai tersebut kini tampak mati suri. Hanya segelintir orang berlalu lalang, dan para penjual tampak khawatir serta tak bergairah.

Hidayat (31), seorang operator karaoke koin, mengatakan situasi tersebut sudah berlangsung bahkan sejak pandemi Covid-19 melanda. Pandemi kemudian memperparah kondisi perdagangan di mal tersebut.

“Sebelum corona, tahun 2018 deh udah banyak (kios) yang tutup. Kalau tambah parahnya karena corona,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tentu saja, sepinya mal berdampak terhadap jumlah pengunjung tempat karaoke koin yang dijaga Hidayat.

Belum lagi pembatasan pengunjung yang harus diterapkan selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat jumlah pengunjung turun drastis.

 

KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA ACHMAD Mal Pulogadung Trade Center (PTC), Cakung, Jakarta Timur.

“Pokoknya menurun penjualannya. Turunnya drastis banget, paling rata-rata 10 orang masuk (ke karaoke per hari),” kata Hidayat.

Sebelum pandemi, tutur Hidayat, jumlah pengunjung karaoke koin bisa mencapai 70 hingga 80 orang per hari.

“Sekarang kan dibatasi juga, yang masuk ke dalam cuma 25 orang. Dulu mah nggak ada batasnya, satu ruangan bisa lima orang, sekarang kan cuma dua hingga tiga orang,” ujar Hidayat.

Salah satu penjual jajanan, Zakaria (40), juga merasakan dampak sepinya mal. Mau tidak mau, ia harus mengurangi dagangannya.

“Dulu dagangan saya mah banyak, kriuk camilan apa, belanja sampai seribu pieces. Sekarang semenjak Covid-19 yang (gelombang) pertama tuh udah bau tengik semua dagangan karena nggak laku,” ujar Zakaria.

“Tadinya banyak camilan, sekarang dagang begini aja apa adanya,” imbuh Zakaria.

Pasrah menunggu tutup

Sambil memegang kepala, staf promosi PTC Zainal mengatakan kalau kondisi perekonomian mal memang sudah hancur.

“Yang pasti sih hancur ya pasti paham lah semuanya,” kata Zainal saat ditemui di kantornya.

Namun, ia enggan berkomentar lebih lanjut soal sepinya mal karena dirinya hanya staf promosi.

“Bisa dilihat sendiri lah di lapangan,” ucap Zainal.

Zainal menyebutkan, pihaknya hanya bisa menaati peraturan pemerintah selama pandemi. PTC kini tinggal menunggu akhir.

“Udah sepi dicampur Covid-19 lagi, ya udah sih, kami nunggu (akhir),” ucap Zainal.

“Kami jalanin aja yang udah ada, karena kami juga bingung,” tutur Zainal.

Hal yang sama juga diungkapkan Hidayat. Yang ia bisa lakukan hanya menjalani pekerjaannya.

“Pokoknya mah jalanin aja lah. Entah ke depannya gimana, kita kan nggak tahu,” kata Hidayat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Senja #Kala #Mal #PTC #Dulu #Jadi #Favorit #Kini #Mati #Suri #dan #Menunggu #Akhir #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts