Luhut Minta Penjarakan Mafia Pelabuhan, KPK Bikin Kajian Titik Rawan Potensi Korupsi

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan membuat kajian-kajian terkait titik rawan korupsi pada pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia.

Read More

Hal itu, disampaikan Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri merespons Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan yang meminta lembaga penegak hukum menindak mafia yang ada di pelabuhan.

“Tentu dari kajian-kajian itu nanti kan baru kemudian ditemukan di mana titik rawannya untuk potensi korupsi,” ujar Ali, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/11/2021).

Ali mengatakan, KPK kini memiliki Direktorat baru khusus yang monitoring potensi titik rawan korupsi.

Nantinya Direktorat itu akan mengumpulkan data-data hingga laporan masyarakat terkait potensi korupsi.

“Dari sekian ribu laporan yang masuk ke KPK kalau kita mengacu tahun 2020 ada hampir 4.000, yang ditelaah hampir separuhnya dalam satu tahun,” ucap Ali.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Oleh karena itu, tentu nanti dari laporan-laporan yang ada akan ditelaah,” kata dia.

Namun demikian, lembaga antirasuah itu juga akan mengutamakan upaya pencegahan dari titik rawan korupsi tersebut.

“Jadi terkait dengan itu tentu upaya pencegahan terlebih dahulu yang kami sedang upayakan untuk dilakukan sebagai bagian dari pemberantasan korupsi,” tutur Ali.

Menurut Luhut, KPK, Kejaksaan, dan Polri bisa membentuk satuan tugas untuk memberantas dan memenjarakan mafia yang menghambat Indonesia menjadi negara maju.

“Saya mohon KPK dengan kejaksaan, polisi ayo kita ramai-ramai bentuk task force untuk memonitoring ini. Ini saya kira bagus dipenjarakan,” ujar Luhut dalam webinar Stranas PK ‘Memangkas Waktu dan Biaya di Pelabuhan’, Kamis (11/11/2021).

Luhut menuturkan, berdasarkan hasil monitoring di lapangan, mafia-mafia di pelabuhan masih belum dapat perhatian.

Hal itu terjadi karena belum ada aturan yang ada sesuai dengan pelaksanaan di pelabuhan contoh, seperti Tanjung Priok.

Ia mencontohkan digitalisasi pelabuhan yang belum mencapai level seperti di Tanjung Priok.

“Sudah jelas orang begini masih macam-macam, saya sudah bilang Pak Pahala (Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK) ayo kita bawa orang ini sudah jelas merusak sistem, kita diganti atau dipenjarakan,” ucap Luhut.

Luhut pun mengajak semua pihak untuk terlibat dalam membangun Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia agar lebih efisien.

Ia juga meminta KPK mengawasi pengefisiensian di pelabuhan.

Sebab, apabila hal itu berhasil, maka Indonesia akan menjadi lebih baik.

“Kalau kita kerja sama, bisa. Lewat sudah masa-masa lalu yang kita maling saja di mana-mana,” ucap Luhut.

“Ini saya kira success story luar biasa buat republik ini, buat KPK, kalau bisa membuat pelabuhan yang efisien,” tutur dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

#Luhut #Minta #Penjarakan #Mafia #Pelabuhan #KPK #Bikin #Kajian #Titik #Rawan #Potensi #Korupsi #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts