PT IMIP Target Produksi 240.000 Metrik Ton Nikel di Klaster Baterai EV

  • Whatsapp
IMIP bangun klaster baterai EV
Nikel. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Persiapan Indonesia menjadi produsen kendaraan listrik dunia semakin terlihat. Dengan adanya klaster baterai EV di PT IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park) yang ditargetkan bisa memproduksi 240.000 metrik ton nikel ini dapat memenuhi kebutuhan katoda untuk kendaraan listrik tidak hanya di Indonesia namun juga dunia.

Klaster baru PT IMIP yaitu klaster baterai EV diungkap oleh Alexander Barus selaku CEO PT IMIP bakal dihuni oleh empat perusahaan berbeda yang akan memproduksi nikel sulfida (Ni-Silfide) dan nikel karbonil (Ni-Co), hasilnya akan berupa nikel kobalt mangan.

Read More

Lebih lanjut, CEO PT IMIP dalam acara webinar ‘Mineral for Energy’, pada Selasa (14/9),  juga mengatakan jika jumlah 240.000 metrik ton nikel termasuk besar di dunia jika melihat kebutuhan kedepan yang diperkirakan akan mencapai 1 juta. Jadi seperempatnya bakal diproduksi di Morowali.

“Untuk energi katoda baterai di Morowali ini adalah 240.000 metrik ton nikel. Ini termasuk besar di dunia, karena kebutuhan ke depan itu kira-kira 1 juta. Seperempatnya kita produksi di Morowali,” kata Alexander Barus saat webinar, Selasa (14/9).

Keempat klaster baterai EV baru yang ada di PT IMIP adalah PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitasi nikel karbonil mencapai 70.000 ton per tahun, PT QMB New Energy Material dengan produksi nikel sulfida serta nikel karbonil mencapai 50.000 metrik ton per tahun, PT Fajar Metal Industry memiliki kapasitas produksi 60.000 metrik ton nikel sulfida per tahun dan yang terakhir PT Teluk Metal Industry dengan 60.000 metrik ton nikel sulfida.

Proyek yang diketahui mempunyai nilai investasi sebanyak US$3 miliar atau setara Rp42 triliun ini sebenarnya telah direncanakan dari 3 tahun lalu dan akhirnya bisa dibangun.

Untuk sumber daya manusia, klaster baru PT IMIP ini akan memberdayakan pekerja sekitar. Dengan membangun Politeknik, nantinya masyarakat akan dilatih hingga akhirnya bisa mempraktekkan ilmu- ilmu  yang didapat di ranah industri, “Jadi tidak lagi kita kesulitan mencari tenaga kerja. Jadi di sini mereka praktek,” ungkap Alexander Barus.

Klaster baterai listrik baru ini nantinya tidak akan hanya memenuhi kebutuhan baterai listrik dunia namun juga bisa mengekspor kebutuhan industri baterai dalam bentuk barang jadi seperti kendaraan listrik yang permintaannya di dunia mulai naik. 

Related posts