Ancaman Tenggelam dan Pentingnya Digitalisasi Air di Jakarta

  • Whatsapp

TAK kurang dari Bill Gates dan Men Keuangan Sri Mulyani mulai gencar menyerukan soal ancaman nyata perubahan iklim global yang destruktif dan lebih mematikan tinimbang pandemi Covid-19.

Masih lekat dalam ingatan kolektif kita pada 27 Juli 2021 lalu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut DKI Jakarta terancam bakal tenggelam 10 tahun lagi.

 

Biden juga mengelaborasi bahwa perubahan iklim bakal menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan kehidupan.

Apakah tengara Biden ini bermuatan politis demi menyudutkan Gubernur DKI, tentu jauh panggang dari api. Telah banyak kajian empiris terkait perubahan iklim beserta dampaknya dijalankan secara komprehensif, rigid metodologis dan berbasis data, bukan hoaks.

Ambil contoh, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang menyatakan bahwa jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim (climate change), meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tak hanya itu, deretan bencana global ini juga telah merenggut lebih dari 2 juta nyawa serta mengakibatkan tak kurang kerugian material senilai total 3,64 triliun dolar AS atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200 per dolar AS).

Dalam laporan terbarunya, organisasi di bawah naungan PBB itu mengatakan mereka melakukan tinjauan paling komprehensif tentang kematian dan kerugian ekonomi akibat cuaca, air, dan iklim ekstrem yang pernah dihasilkan.

Dalam kajian terbarunya, lembaga ini melakukan telaah komprehensif atas sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara 1979-2019, termasuk bencana besar seperti kekeringan 1983 di Ethiopia, peristiwa paling fatal dengan 300.000 kematian.

Termasuk di dalamnya adalah hantaman badai Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005 yang membuat kerugian 163,61 miliar dolar AS.

Mirisnya, laporan penelitian tersebut menunjukkan adanya tren bencana yang semakin banyak terjadi. Jumlah bencana meningkat hampir lima kali lipat dari 1970-an hingga dekade terakhir.

WMO mengaitkan frekuensi yang meningkat dengan perubahan iklim dan pelaporan bencana yang lebih baik.

Biaya dari peristiwa tersebut juga melonjak dari 175,4 miliar dolar AS pada 1970-an menjadi 1,38 triliun dolar AS pada 2010-an ketika badai seperti Harvey, Maria dan Irma melanda AS.

Ini menambah tanda-tanda bahwa peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering dengan tenggat jeda antar bencana yang kian pendek durasinya. Sementara bahaya bencana menjadi lebih mahal.

Jumlah kematian tahunan turun dari lebih dari 50.000 pada tahun 1970-an menjadi sekitar 18.000 pada tahun 2010. Ini menunjukkan bahwa perencanaan yang lebih baik, lebih terukur dan valid, serta makin efektifnya mitigasi risiko bencana yang dijalankan.

Sistem peringatan dini multi-bahaya yang ditingkatkan telah menyebabkan penurunan angka kematian yang signifikan, demikian salah satu simpulan kajian tersebut.

WMO berharap laporan tersebut digunakan untuk membantu pemerintah dalam mengembangkan kebijakan yang melindungi masyarakat dengan lebih baik.

Dalam 40 tahun mendatang tingkat kematian dari perubahan iklim akan sama dengan Covid-19. Pada akhir abad ini jika pertumbuhan emisi tetap tinggi, perubahan iklim dapat menyebabkan 73 kematian tambahan per 100.000 orang.

Dalam skenario emisi yang lebih rendah, tingkat kematian turun menjadi 10 kasus per 100.000 orang.

Dengan kata lain, pada 2060 mendatang, dampak perubahan iklim bisa sama mematikannya dengan Covid-19, serta pada tahun 2100 kelak bakal berpotensi lima kali lebih mematikan dari Covid-19 sebagaimana ditulis Bill Gates dalam blog pribadinya.

Dari sisi kerusakan ekonomi, dampak perubahan iklim cukup bervariasi tergantung model ekonomi yang digunakan.

Tetapi kesimpulannya satu, dalam satu atau dua dekade ke depan kerusakan ekonomi yang disebabkan perubahan iklim akan sama dengan pandemi Covid-19. Namun pada akhir abad ini, jika emisi tidak dikendalikan, bisa lebih buruk dari itu.

Menurutnya, cara untuk menghindari iklim yang makin memburuk adalah dengan mempercepat upaya kita sekarang, bahkan saat dunia juga bekerja untuk mengatasi virus Corona.

DKI Jakarta dan ancaman tenggelam

Seirama dengan keprihatinan global tersebut, fenomena pemanasan global menjadi penyebab para ahli, ilmuwan, dan akademisi memprediksi DKI Jakarta dan 112 kota di Jawa bagian utara bakal tenggelam pada 2030.

 

Salah satunya adalah Kepala Environmental Engineering, Universitas Airlangga, Dr Eko Prasetyo Kuncoro, ST, DEA yang menekankan bahwa secara rasionalitas pemanasan global ini tidak dapat terelakkan dan memiliki efek yang sangat banyak.

Salah Satu efek yang sangat dirasa oleh masyarakat dunia terkait dengan pemanasan global adalah perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan temperatur air laut sehingga menyebabkan muka air laut relatif mengembang dan memiliki volume banyak.

Pada gilirannya, air laut yang meninggi akan merendam 112 kota di pesisir pantai utara Jawa.

Selain itu, patut dicamkan bahwa ancaman “atlantisasi” (merujuk tenggelamnya kota Atlantis ke dasar lautan) pesisir Utara Jawa tak hanya terjadi dikarenakan kenaikan permukaan air laut tetapi juga terdapat faktor lain yakni, pemakaian air tanah yang memicu penurunan muka tanah.

Dalam prosesnya, permukaan tanah turun di tahap awal kemudian permukaan air lautnya naik. Kombinasi inilah yang menyebabkan sebagian besar kota-kota pesisir tersebut bakal tenggelam jika tak dilakukan upaya preventif nan komprehensif.

Salah satunya yang telah dilakukan sejak 2016 lalu oleh Singapura adalah proses digitalisasi air.

 

Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa digitalisasi air (digitazing water)adalah pemanfaatan dan intervensi teknologi digital dalam proses pengelolaan dan preservasi serta efisiensi sumber daya air guna mengurangi dampak buruk eksploitasi air tanah.

Melalui implementasi artificial intelligent, misalnya, dapat dipetakan titik-titik kebocoran saluran air secara cepat dan terukur sehingga bisa segera dilakukan perbaikan guna menghindari pemborosan air secara sia-sia.

 

Inovasi dan investasi Singapura di sektor air ini telah menjadikannya kota yang diakui secara internasional untuk pengelolaan air terpadu, serta hidrohub global yang sedang berkembang.

Negara kota ini telah dan sedang menjadi pusat terkemuka untuk peluang bisnis dan keahlian dalam teknologi air, dengan ekosistem yang hidup dan berkembang dari sekitar 180 perusahaan air serta lebih dari 20 pusat penelitian air yang mencakup seluruh rantai nilai air yang terintegrasi.

Pendekatan holistik yang diadopsi telah menghasilkan ketergantungan yang lebih rendah pada sumber air eksternal melalui diversifikasi, termasuk melalui desalinasi, penyimpanan air hujan dan air daur ulang berkualitas tinggi.

Digitalisasi tata-kelola air juga akan memperluas menu pilihan dalam mengatasi masalah seperti banjir bandang yang pernah menerpa Singapura pada tahun 2019 lalu.

Kita masih terbayang betapa hujan lebat telah menyebabkan banjir bandang di Craig Road serta Orchard Road sebagai urat nadi perdagangan.

Sementara solusi konvensional adalah dengan memperlebar saluran air di jalan atau membangun gorong-gorong.

Analisis data yang dikumpulkan selama hujan dan pemodelan komputer menunjukkan perbaikan yang jauh lebih tidak mengganggu kepentingan publik. Yakni dengan mendirikan bendung. Hanya perlu waktu satu hari. Ketika hujan deras mengguyur daerah itu beberapa bulan kemudian, tidak ada banjir bandang.

Dengan digitalisasi, Singapura memiliki lebih banyak pilihan informasi untuk dipilih dan dieksekusi cepat, serta menghindari banyak pekerjaan yang tidak perlu.

Tambahan pula soal pompa air, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap utilitas air. Singapura memiliki lebih dari 2.000 pompa air, termasuk pompa transfer di stasiun pompa, pompa proses, dan pompa dosis pra dan pasca-kimia dalam proses pengolahan.

Sejak 2018, negara ini telah menggunakan sensor getaran murah oleh Proaspect Solutions di Chestnut Avenue Water Works (CAWW) untuk menguji efektivitasnya dalam memantau dan memprediksi kondisi set pompa.

Sensor mengambil pembacaan secara teratur dan menghasilkan peringatan melalui SMS ke teknisi ketika nilai ambang batas getaran terlampaui. Contoh ini dianalisis lebih lanjut untuk memprediksi kegagalan komponen yang akan datang.

Selain itu, sensor ini juga memantau set pompa selama start-up, di mana mengukur dan meninjau karakteristik set pompa selama fase start-up dapat mengungkapkan masalah atau kesalahan start-up yang akan datang bahkan lebih awal, serta memungkinkan tindakan dini untuk mencegah kegagalan peralatan.

Hal ini menjadi penting bagi DKI Jakarta tatkala menghadapi musim hujan mendatang agar tak kembali berpolemik dibumbui politik.

Sejatinya proses digitalisasi air sudah pula dijalankan oleh Telkom dan perusahaan air minum di beberapa daerah.

Akhir tahun lalu, misalnya, pihak Telkom dan PDAM Kabupaten Bandung mewujudkan solusi digital smart metering melalui sistem billing terintegrasi, basis data yang terpusat, dan dashboard tata-kelola air.

Perlu ditindak-lanjuti lebih menyeluruh dalam tata kelola sumberdaya air, distribusi, hingga proses pemeliharaan agar hemat dan ramah lingkungan.

Dalam konteks DKI Jakarta, upaya-upaya di atas jelas menjadi urgent dan perlu segera diwujud-nyatakan mengingat prediksi waktu tahun 2030 tenggelam kian mendekat.

#Ancaman #Tenggelam #dan #Pentingnya #Digitalisasi #Air #Jakarta #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts