Gunung Es Covid-19 di Jakarta: 91,9 Persen Tak Terdata, Separuh Penduduk Terinfeksi

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi penyebaran Covid-19 di wilayah DKI Jakarta pada saat ini layaknya fenomena gunung es. Sebab, kasus-kasus yang ditemukan hingga kini, dianggap baru bagian permukaan atau puncaknya saja.

Read More

Di sisi lain, masih banyak lagi kasus penularan Covid-19 di Ibu Kota yang sampai saat ini belum atau bahkan tidak terungkap. Walaupun, DKI Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan tingkat surveilans tertinggi.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat, ada penambahan 12.920 orang yang dinyatakan positif Covid-19 pada Sabtu (10/7/2021). Dengan demikian, total kasus Covid-19 di Ibu Kota sebanyak 649.309 kasus.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia menjelaskan, penambahan kasus tersebut merupakan hasil dari tes swab PCR kepada 29.002 orang.

“Hasilnya 12.920 positif dan 16.082 negatif,” kata Dwi dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Dari total kasus positif, sebanyak 543.867 di antaranya dilaporkan telah sembuh. Tingkat kesembuhan sebesar 83,8 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, tercatat ada 9.357 orang yang dilaporkan meninggal dunia akibat Covid-19 dengan Tingkat kematian sebesar 1,4 persen

Sehingga, kasus aktif di DKI Jakarta sampai hari ini berjumlah 96.085 orang, baik yang masih dirawat atau isolasi mandiri.

Namun, riset yang dilakukan Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) bersama Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia mengungkapkan, separuh penduduk di DKI Jakarta pernah terpapar Covid-19.

7 kali lebih banyak

Epidemiolog FKM UI Pandu Riono menjelaskan, riset ini berupa sero survei berbasis populasi, dengan metode stratified multistage sampling design. Pengambilan data dan spesimennya dilakukan pada periode 15-31 Maret 2021.

Jumlah sampel sebanyak 4.919 orang usia 1 tahun lebih yang tersebar di 100 kelurahan di 6 kota/kabupaten di DKI Jakarta. Deteksi antibodi Sars-Cov-2 menggunakan tes Tetracore-Lumimex.

“Hasilnya, bisa dilihat bahwa separuh penduduk DKI Jakarta sudah pernah terpapar Covid-19,” kata Pandu dalam pemaparan hasil survei secara virtual, Sabtu (10/7/2021).

Berdasarkan hasil survei itu, kata Pandu, ada 44,5 persen penduduk DKI Jakarta yang pernah terpapar Covid-19 sampai 31 Maret 2021. Artinya, ada 4.717.000 orang dari total 10.600.000 juta jiwa penduduk DKI Jakarta yang terpapar Covid-19.

Berbanding terbalik dengan jumlah total kasus Covid-19 di Ibu Kota hingga 31 Maret 2021 sebanyak 382.055. Sehingga, kasus Covid-19 yang terdeteksi hanya sebesar 8,1 persen.

Jakarta Pusat menjadi wilayah yang warganya paling banyak terpapar Covid-19 (53,7 persen). Disusul Jakarta Barat (45,4 persen), dan Jakarta Utara (44,5 persen).

Kemudian Jakarta Selatan (44,4 persen), Jakarta Timur (40,9 persen), dan Kepulauan Seribu (39,3 persen).

91,9 persen tak terdeteksi

Di sisi lain, kata Pandu, sebesar 91,9 persen kasus Covid-19 di DKI Jakarta tidak terdeteksi. Meskipun, jumlah testing terkait Covid-19 yang dilakukan di Ibu Kota sudah cukup tinggi.

Pandu mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat deteksi kasus Covid-19 tersebut. Salah satunya adalah banyak orang yang terpapar Covid-19 tanpa gejala, sehingga membuat deteksi kasus menjadi lebih sulit.

“Walau testing DKI tinggi, itu belum banyak bisa mendeteksi karena memang sebagian besar tidak bergejala,” ucap Pandu.

“Kalau dia tidak bergejala, kan tidak dites. Bahkan mungkin banyak yang bergejala juga tidak berobat,” sambungnya.

Dalam riset tersebut diketahui bahwa warga DKI Jakarta yang tinggal di permukiman kumuh lebih banyak terpapar Covid-19.

Pandu mengatakan bahwa proporsi penduduk yang pernah terinfeksi Covid-19 di wilayah kumuh lebih tinggi.

Dari seluruh sampel warga yang tinggal di wilayah kumuh, sebesar 48,4 persennya pernah positif Covid-19. Sementara warga yang tidak tinggal di wilayah kumuh dan terpapar Covid-19 jumlahnya sebesar 37,5 persen.

“Ini jumlahnya memang tidak terlalu jauh, tapi bisa dilihat perbedaan angkanya,” kata Pandu.

Pandu menduga faktor penyebabnya mulai dari perilaku masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan hingga sulitnya melakukan isolasi mandiri di wilayah kumuh.

Harapan kekebalan komunal

Menanggapi hasil survei tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, 44,5 persen dari total penduduk Ibu Kota yang terpapar Covid-19 bisa mempercepat terbentuknya herd immunity.

“Artinya separuh dari penduduk di Jakarta sudah memiliki eksposur, mudah-mudahan (muncul) kekebalan di dalam urusan Covid-19,” kata Anies.

Anies mengaku, telah menyerahkan hasil riset sero survei pandemi Covid-19 di DKI Jakarta itu kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Hasil survei itu juga diserahkan kepada Luhut Binsar Panjaitan yang kini ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa – Bali.

“Hasil ini sudah saya teruskan kepada Menkes, saya teruskan juga kepada ketua pelaksanaan PPKM darurat, untuk bisa menjadi bahan bagi mereka dalam melihat perspektif nasional,” ungkap Anies.

Selain itu, Anies juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mempercepat vaksinasi Covid-19 untuk mendorong kekebalan komunal.

Dia mencatat, sudah ada 5,4 persen warga di DKI Jakarta yang sudah menjalani vaksinasi hingga Sabtu (10/7/2021).

“Dengan mobilitas penduduk yang tinggi, baik mobilitas intra maupun lintas antar wilayah karena kotanya terbuka, maka tidak ada pilihan bagi Jakarta kecuali memastikan penduduknya punya kekebalan,” pungkas Anies.

#Gunung #Covid19 #Jakarta #Persen #Tak #Terdata #Separuh #Penduduk #Terinfeksi #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts