Virus Corona Varian Delta Dikhawatirkan Lebih Mudah Menyerang Anak-anak

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Varian baru virus corona yang pertama kali ditemukan di India, yakni varian Delta (B.1617.2), dikhawatirkan lebih menular di kalangan anak-anak.

Read More

Laporan CNBC.com pada Rabu (16/6/2021) mengungkap bahwa transmisi virus corona varian Delta, yang saat ini mendominasi di Inggris, meningkat di kalangan anak-anak usia 12 hingga 20 tahun.

Sementara laporan dari BMJ.com, sebuah situs penyedia informasi kesehatan global, menyingkap data yang mengejutkan dari Badan Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE).

PHE mencatat sebanyak 140 klaster penyebaran varian Delta di sekolah hingga akhir Mei 2021.

Varian Delta sendiri pertama kali teridentifikasi di India pada Oktober tahun lalu, dan kini sudah menyebar ke lebih dari 80 negara.

“Data dari PHE menunjukkan penularan tertinggi terjadi pada anak-anak usia sekolah menengah, yakni antara 10 hingga 19 tahun,” tulis BMJ.com.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kasus yang menyerang anak-anak di Jakarta

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan bahwa kasus aktif pada anak-anak cenderung meningkat belakangan ini.

Sekitar 16 persen dari 4.144 kasus aktif yang ditemukan di Jakarta pada Kamis kemarin, yakni 661 kasus, terjadi pada anak-anak.

Sebanyak 144 kasus di antaranya terjadi pada anak di bawah usia lima tahun.

“Tren kasus positif aktif pada anak di bawah usia 18 tahun meningkat. Untuk itu kami mengingatkan warga untuk menghindari keluar rumah membawa anak-anak,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Aman Bkahti Pulungan, Sp.A, mengatakan bahwa 11-12 persen kasus Covid-19 nasional menimpa anak-anak.

Ini termasuk kasus Covid-19 anak yang tertinggi di dunia.

Meski belum ada data yang valid tentang kaitan antara Covid-19 dengan kematian pada anak, IDAI mencatatkan kenaikan angka kematian anak hingga 50 persen selama pandemi.

Setidaknya ada 1.000 kematian anak di Indonesia setiap minggunya sejak pandemi Covid-19 melanda. Padahal, sebelumnya pada 2019, jumlah kematian pada anak cenderung menurun.

Kesulitan mendeteksi kasus Covid-19 pada anak terjadi karena testing atau pengujian yang minim.

“Pada Mei harusnya (testing) meningkat, tapi banyak orang takut ditesting. Dan pada anak juga banyak laporannya, orangtuanya tidak mau ditesting, anaknya tidak mau ditesting,” kata Aman.

Ketika jumlah pengujian sangat sedikit, maka sangat sulit untuk melihat data real.

“Ketika testing sedikit, kita seperti orang buta berjalan. Bagaimana kita berjalan kalau tidak ada yag menuntun. Menuntunnya bagaimana? Testingnya harus dibenahi,” tegasnya.

Varian baru di Jakarta

DKI Jakarta secara aktif melakukan pemeriksaan sampel whole genome sequencing (WGS) dan telah mengirim 980 sampel terduga mutasi virus.

Dari jumlah tersebut, 289 dinyatakan bukan merupakan variant of concern (VoC), 33 merupakan VoC, 438 masih menunggu hasil, 216 dinyatakan negatif Covid-19, 3 hasil WGS tidak dapat dianalisis, dan 1 invalid.

”Kami sudah menerima data 33 VoC dari Kemenkes. Dari data tersebut, kami identifikasi bahwa 25 kasus berasal dari orang yang melakukan perjalanan luar negeri, 3 kasus transmisi lokal di luar Jakarta karena bukan domisili Jakarta hanya saja melakukan pemeriksaan di Jakarta. Lalu, ada 5 kasus yang transmisi lokal di Jakarta dan kelimanya varian Delta,” kata Dwi.

Adapun 33 VoC terdiri dari 12 varian Alpha (B.117), 3 varian Beta (B.1.351), dan 18 varian Delta (B.1617.2), seperti dilansir Kompas.id.

#Virus #Corona #Varian #Delta #Dikhawatirkan #Lebih #Mudah #Menyerang #Anakanak #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts