1,7 Juta Kasus Covid-19 di RI, Potensi Gelombang Kedua serta Kesenjangan Distribusi Vaksin Negara Maju dan Berkembang

  • Whatsapp

JAKARTA, KOMPAS.com – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan, hingga Sabtu (22/5/2021), total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1.769.940 kasus.

Read More

Jumlah kasus Covid-19 ini terjadi setelah adanya penambahan 5.296 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Sementara itu, pasien yang tutup usia setelah terpapar Covid-19 bertambah 132 orang, sehingga angka kematian mencapai 49.025 orang, terhitung sejak awal pandemi.

Selain itu, jumlah pasien sembuh bertambah sebanyak 3.353 orang. Dengan demikian, jumlah pasien sembuh mencapai 1.629.495 orang.

Potensi lonjakan kasus

Satgas Penanganan Covid-19 mengatakan, gelombang kedua kasus Covid-19 berpotensi terjadi di Indonesia.

Kenaikan kasus tersebut berpotensi terjadi di Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kemungkinan gelombang kedua itu bisa saja terjadi. Saat ini kenaikan kasus positif sudah mulai terjadi,” ujar Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Hari B Harmadi dalam diskusi virtual, Sabtu.

Faktor penyebab kenaikan kasus Covid-19 adalah lemahnya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan dalam sebulan terakhir.

Kemudian, mobilitas masyarakat naik karena arus mudik, libur Idul Fitri, dan arus balik serta motivasi untuk mematuhi protokol kesehatan naik-turun.

Secara terpisah, Presiden Joko Widodo mengingatkan, belum ada tanda-tanda pandemi Covid-19 akan berakhir.

Jokowi mengingatkan, gelombang kedua kasus Covid-19 bisa lebih mematikan.

“Dokter Tedros Dirjen WHO menyampaikan bahwa pada tahun kedua pandemi dampaknya bisa jauh lebih mematikan dibanding tahun pertama. Perkembangan varian-varian baru virus Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia,” kata Jokowi saat berbicara dalam Global Health Summit 2021 yang ditayangkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (21/5/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Jokowi juga mengkritik kesenjangan distribusi vaksin Covid-19 antarnegara yang terlihat nyata.

Kepala negara menyebutkan, 83 persen dari jumlah dosis vaksin Covid-19 secara global telah diterima negara-negara kaya.

“Kesenjangan itu sangat nyata terlihat. Negara-negara berkembang hanya menerima 17 persen (dari jumlah vaksin Covid-19 secara global),” kata Jokowi.

Padahal, 17 persen vaksin yang diterima negara berkembang itu diperuntukkan bagi 47 persen populasi dunia.

Selain itu, menurut Jokowi, sejumlah negara sudah memulai vaksinasi untuk kelompok berisiko rendah seperti anak-anak dan usia belia.

Namun, hanya ada 0,3 persen suplai vaksin untuk negara berpenghasilan rendah.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menguatkan fakta bahwa kesenjangan global atas akses vaksin Covid-19 masih lebar hingga saat ini.

Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya akses vaksin yang adil dan merata bagi semua negara.

“Untuk itu kita harus melakukan langkah-langkah nyata, yaitu dalam jangka pendek kita harus mendorong ini lebih kuat lagi dosis sharing (vaksin Covid-19) melalui skema Covax facility. Ini merupakan bentuk solidaritas yang harus didorong dan dilipatgandakan khususnya dalam mengatasi masalah rintangan suplai,” ujarnya.

Terakhir, Jokowi mendorong untuk jangka menengah dan panjang dunia harus melipatgandakan produksi vaksin untuk memenuhi kebutuhan global.

Untuk itu, diperlukan peningkatan kapasitas produksi secara kolektif melalui alih teknologi dan investasi.

“Jika isu kapasitas produksi dan distribusi vaksin tidak segera ditangani, saya khawatir akan semakin lama kita dapat menyelesaikan pandemi,” pungkasnya.

#Juta #Kasus #Covid19 #Potensi #Gelombang #Kedua #serta #Kesenjangan #Distribusi #Vaksin #Negara #Maju #dan #Berkembang #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts