Masjid Agung Al-Barkah Bekasi: Surau Markas Pahlawan, Disinggahi Soekarno Saat Diculik ke Rengasdengklok

  • Whatsapp

BEKASI, KOMPAS.com – Alun-alun Kota Bekasi masih lengang jelang waktu berbuka puasa, Jumat (23/4/2021).

Temaram memulas senja, melatari 4 menara yang berdiri menjulang seakan hendak menyundul langit. Empat menara setinggi 35 meter itu mengapit sebidang kubah berwarna biru safir yang tampak mencolok di antara warna-warna lain di sekitar alun-alun yang terasa monoton.

Azan maghrib kemudian bertalu merdu dari arah kubah dan menara itu: Masjid Agung Al-Barkah. Ia tampak perkasa di tengah kelembutan warna lembayung.

Kendati tampak gagah dari luar, namun ada suasana ramah dan sejuk ketika memasuki pintu besarnya yang bermotif ukiran kayu Jepara.

“Kalau di sebuah gedung ada elemen floralnya kelihatan sejuk, tidak pakai AC pun sudah sejuk karena di semua dinding dilapisi kayu. Itu akan lebih memberikan nuansa yang lebih menyejukkan hati kita,” kata Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Al-Barkah, Eko Purwanto, Jumat.

Seperti penampakan dan suasananya, Masjid Agung Al-Barkah memang istimewa. Ini salah satu masjid tertua di Kota Bekasi.

Masjid ini bermula dari sebuah surau yang dibangun pada era Hindia-Belanda, tepatnya tahun 1890. Pembangunan surau dipelopori penghulu Lanraad saat itu, Abdul Hamid, menggunakan tanah wakaf seorang warga bernama Bachroem seluas 3.370 meter persegi. Sejak awal, surau ini telah dinamakan Al-Barkah.

KOMPAS.com / VITORIO MANTALEAN Suasana Masjid Agung Al-Barkah, Kota Bekasi.

Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, menyebutkan bahwa surau itu kemungkinan besar dibangun tak begitu lama pemerintah kolonial Hindia-Belanda membangun alun-alun beserta gedung-gedung di sekitarnya, termasuk di antaranya kantor polisi dan pengadilan di tempat yang sama sampai sekarang.

“Pemerintah Hindia-Belanda kan menjajah tentu meminimalisasi perlawanan, maka apa yang kira-kira tidak mengganggu pemerintah, tapi bisa mengakomodasi keinginan masyarakat, di antaranya kan rumah ibadah. Bahkan itu justru konsepnya Snouck Hurgronje begitu. Jadi apa yang kira-kira tidak menganggu pemerintah, berikan saja,” ungkap Ali kepada Kompas.com, Jumat (23/4/2021).

Snouck Hurgronje merupakan seorang orientalis yang dikirim ke Hindia Belanda pada 1889. Ia melakukan etnografi terhadap masyarakat Aceh, termasuk soal pergolakan politik Islam di sana.

Dalam beberapa versi catatan sejarah, namanya kerap dijadikan kambing hitam atas takluknya Aceh oleh pemerintah Hindia-Belanda di akhir abad 19.

Saksi revolusi

Eko Purwanto mengonfirmasi bahwa surau ini memang sedari mula telah menyaksikan gigih perlawanan para pejuang atas pemerintah kolonial.

Kisah yang paling tersohor ialah tatkala salah satu founding fathers Indonesia, Soekarno, disebutkan pernah mampir menginjakkan kakinya ke dalam surau ini untuk beribadah.

Kunjungan Soekarno itu dilakukan bukan pada masa ketika ia duduk nyaman sebagai presiden pertama RI, melainkan justru pada detik-detik genting dalam penentuan nasib bangsa Indonesia.

“Banyak cerita, bahwa Soekarno itu mampir di sini untuk salat, sebelum beliau dibawa ke Rengasdengklok,” kata Eko.

Insiden yang dimaksud tentu saja penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta oleh golongan muda: Wikana, Aidit, dkk. pada 16 Agustus 1945 dini hari, untuk mendesak keduanya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Posisi surau yang berada di pusat kota Bekasi, tak jauh dari jalan utama Pantura yang kemungkinan dilintasi para pahlawan itu dari Jakarta menuju Rengasdengklok, menguatkan cerita itu.

“Ini pun sedang kita korek keterangan dari warga masyarakat yang mengatakan Soekarno pernah salat di sini dalam perjalanannya dari Jakarta ke Karawang saat itu,” kata Eko.

Lebih dari itu, Masjid Al-Barkah bukan sekadar jadi tempat singgah untuk menunaikan ibadah bagi para pejuang.

Seorang perempuan menunaikan salat di dekat pintu kayu berukir gaya Jepara di Masjid Agung Al-Barkah, Kota Bekasi.KOMPAS.com / VITORIO MANTALEAN Seorang perempuan menunaikan salat di dekat pintu kayu berukir gaya Jepara di Masjid Agung Al-Barkah, Kota Bekasi.

Sebagaimana galibnya beberapa masjid di era Kemerdekaan dan Revolusi, para patriot yang rata-rata muslim itu menggunakannya sebagai markas. Diskusi-diskusi soal politik, konsolidasi demi pergerakan, dilakukan di masjid. Tak terkecuali Masjid Al-Barkah yang kala itu masih berupa surau.

“Kyai Noer Ali (pahlawan nasional asal Bekasi) kan di antara orang yang menghidupkan Masjid Al-Barkah,” ucap Ali Anwar.

“Kalau mereka rapat itu biasanya cenderung pagi hari. Kalau generasi sekarang ngobrol-ngobrol, kongkownya kan sore hari, kalau mereka itu habis solat subuh. Mereka nongkrong sambil ngobrol tentang pergerakan, politik, macam-macam,” tambahnya.

Keyakinan sejenis pun diungkapkan oleh Eko. Berkaca pada posisi masjid yang strategis dan bersisian dengan alun-alun yang kerap dipakai sebagai lapangan apel, besar sekali kemungkinan masjid ini bukan sekadar masjid biasa.

“Dulu kalau umpamanya apel akbar KH Noer Ali, saya punya keyakinan, pasti surau atau langgar ini ini masih digunakan untuk salat para tentara atau pelajar pimpinan Kyai Noer Ali,” kata dia.

Meskipun demikian, bukan hanya manisnya buah perjuangan para patriot yang disaksikan langsung oleh surau ini.

Surau ini juga menelan getir-pahitnya perlawanan, ketika pada era Revolusi (1945-1949), tentara asing kembali menghujani Bekasi dengan serangan bertubi-tubi.

Lokasi surau tak jauh dari Kali Bekasi, yang pada era itu jadi salah satu titik tempur sengit mempertahankan kemerdekaan. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer bahkan menulis dua karya untuk peristiwa di sekitar masa-masa ini: (italic)Krandji & Bekasi Djatoeh serta (italic)Di Tepi Kali Bekasi.

Surau pernah hampir terancam lenyap ketika itu. Insiden berawal saat pesawat Dakota milik Inggris yang sedang terbang ke Semarang pada 23 November 1945 jatuh di Rawa Gatel akibat kerusakan mesin. Para pejuang setempat lantas menahan 26 tentara Inggris yang ada di dalamnya ke tangsi polisi.

Inggris meminta tentara-tentara itu dikembalikan, namun ditolak mentah-mentah. Tentara-tentara itu dihabisi. Aksi balasan pun pecah pada 13 Desember 1945. Bekasi dilalap api, dari mulai Kranji, Teluk Buyung, Teluk Pucung, sampai Bulak Kapal.

“Pada 13 Desember 1945, Bekasi, kota dan kampung-kampungnya, dibakar oleh tentara Sekutu. Alun-alun Bekasi itu habis dibakar,” ungkap Ali.

“Saya mendapat informasi, katanya (surau) dibakar, tapi tidak banyak bagian yang terbakar karena mungkin mereka masih berpikir kalau rumah ibadah itu masih bisa dihormati. Tapi, kalau yang lainnya, rata-rata habis sudah.”

Kini surau yang menyimpan banyak kisah itu sudah beralih rupa jadi sebentuk masjid megah bernama Masjid Al-Barkah. Tak ada jejak-jejak surau yang tersisa, kecuali tanah tempatnya berdiri. Atap bersusun seperti halnya langgar-langgar dengan pengaruh Hindu di banyak tempat di Jawa telah diganti dengan atap Timur-Tengah. Bagian dalam kubah dihias dengan kaligrafi asmaul husna–99 nama Allah.

Ukir-ukiran kayu Jepara menghiasi seisi masjid. Halaman masjid terbentang luas, sejumlah pohon kurma berdiri jangkung, membuat suasana Timur-Tengah masjid ini terasa komplet.

“Al-Barkah dari kata berkah,” tutur Eko.

“Dengan berkah ini, semua yang menjadi kontribusi surau, kemudian semi-masjid, kemudian masjid, lalu masjid agung, dirasakan oleh masyarakat menjadi berkah,” tutup Eko.

#Masjid #Agung #AlBarkah #Bekasi #Surau #Markas #Pahlawan #Disinggahi #Soekarno #Saat #Diculik #Rengasdengklok #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts