Prioritas Jokowi untuk RI 5 Tahun ke Depan

  • Whatsapp
prioritas Jokowi 5 tahun
prioritas Jokowi 5 tahun

Hilirisasi nikel di Tanah Air sudah digalakkan presiden Joko Widodo sejak Agustus 2020 lalu. Bukan tanpa alasan, prioritas Jokowi untuk 5 tahun ke depan ada di industri hilirisasi nikel. Adanya hilirisasi diyakini dapat memperbaiki current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan, mengurangi penggunaan energi fosil yang sewaktu-waktu dapat habis, hingga meningkatkan peluang kerja bagi rakyat Indonesia. 

Sebelum memulai hilirisasi nikel, pemerintah telah mengeluarkan peraturan larangan ekspor ore (bijih) nikel yang diterapkan sejak tanggal 1 Januari 2020 lalu. Bertahun-tahun lamanya, Indonesia hanya fokus mengekspor nikel mentah, tanpa melakukan pengolahan yang lebih lanjut.

Read More

Terbukti dengan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2019 tentang ekspor bijih nikel yang mencapai 30 juta ton di tahun 2019.

“Ekspor nikel 30.000.193 (30 juta) ton, tidak melebihi (kuota),” ujar Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba, Yunus Saefulhak pada Januari 2020 lalu, dikutip dari CNN Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2018 yang berada di sekitar 22 juta ton. Jika mengekspor bijih nikel saja, lama-kelamaan perekonomian Indonesia hanya disitu-situ saja, tidak ada kemajuan. Itulah mengapa presiden Jokowi berjuang selama 3,5 tahun lamanya berusaha untuk merebut mayoritas saham PT Freeport Indonesia sebesar 51 persen dari Amerika Serikat.

Saham Freeport sudah berhasil ditangani, larangan ekspor nikel digalakkan, tetap saja ada rakyat yang kontra dengan upaya pemerintah. Lalu, upaya apa yang dilakukan Jokowi beserta jajaran pemerintah terkait prioritas 5 tahun kedepan pada industri hilirisasi nikel?

Untuk 5 tahun kedepan, Jokowi dan jajaran pemerintah akan memberikan prioritas pada industri hilir bijih nikel. Dirinya ingin Indonesia bisa menjadi pemain di pasar mobil listrik dan ponsel dengan memanfaatkan kekayaan nikel yang dimiliki negeri. Menurut Jokowi, Indonesia punya modal besar. Cadangan nikel dunia sebesar 25 persen atau setara dengan 21 juta ton nikel ada di sini. 30 persen produksi nikel dunia saat ini juga dikuasai oleh Indonesia. Kini, Indonesia sudah mengolah bijih nikel menjadi nickel pig iron, feronikel dan baja tahan karat.

“Kita ingin memasuki fase berikutnya untuk memasuki produksi baterai lithium sebagai komponen utama kendaraan listrik yang ke depan ini merupakan sebuah kesempatan yang besar bagi kita,” ungkap Jokowi saat memberi sambutan pada HUT ke-48 PDI Perjuangan yang digelar virtual, pada Minggu (10/1).

Related posts