Trending! Inilah Energi Baru Pengganti Bahan Bakar Fosil

  • Whatsapp
Energi baru pengganti bahan bakar fosil
Energi baru pengganti bahan bakar fosil

Selama berpuluh-puluh tahun, dunia telah menggunakan bahan bakar fosil sebagai energi utama dari kendaraan bermotor. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa cadangan dari energi bahan bakar fosil mulai menipis? Ya, inilah sebabnya diperlukan energi baru pengganti bahan bakar fosil.

Selain membutuhkan energi baru pengganti bahan bakar fosil karena cadangan mulai menipis, isu kurangnya ramah lingkungan atas penggunaan bahan bakar fosil mulai diperhatikan. Maka dari itu, salah satu energi baru pengganti bahan bakar fosil yakni nikel menjadi prospek ’empuk’ bagi produsen olahan nikel yang ternyata merupakan bahan baku utama dari baterai mobil listrik.

Read More

Menurut CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Alexander Barus, lima tahun sebelumnya komoditas nikel memang belum gemilang. Namun mulai tahun ini hingga 2025, harga nikel akan mengangkasa dengan gemilang. 

Pada tahun 2025 mendatang, diperkirakan harga nikel dapat mencapai US$25.000 per ton. Dan, 2030 mendekati US$30.000 per metrik ton.

Meroketnya harga nikel akan bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan baterai mobil listrik. Layaknya simbiosis mutualisme. Meningkatnya produksi serta penggunaan mobil listrik kedepannya, maka akan berdampak pada permintaan nikel yang tinggi. 

Namun, naiknya permintaan pada nikel ini tidak diimbangi dengan meningkatnya pasokan. Alexander menjelaskan, nikel di masa depan akan menjadi bagian dari ekonomi Indonesia yang perlu dijaga dengan baik. Sebab, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

Mengenai permintaan produk olahan nikel sebagai energi baru pengganti bahan bakar fosil, salah satu produsen mobil listrik kelas dunia yakni Tesla telah berencana membangun pabrik baterai di Indonesia tepatnya di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah.

Melihat potensi harga nikel akan merangkak naik, hal ini menjadi kabar positif bagi Indonesia. Pasalnya, bukan tidak mungkin di masa depan Indonesia semakin sejahtera dan makmur berkat nikel. Bila potensi nikel ini benar-benar dikelola dengan baik, maka kegemilangan nikel akan terus berpendar dan bermanfaat bagi bangsa sekaligus negara. 

Namun patut diingat, seperti kata Alexander Barus, bahwa komoditas nikel harus dijaga dengan baik. Pasalnya, menurut Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yunus Saefulhak, cadangan nikel Indonesia mencapai 1,08 miliar ton dan hanya dapat bertahan sekitar 9 tahun. Sedangkan cadangan nikel Indonesia diprediksikan mencapai 4,5 miliar ton hingga produksi 39 tahun ke depan. 

Oleh sebab itu, pemerintah melakukan kebijakan untuk menyetop ekspor nikel ore. Pelarangan ekspor ini hanya untuk bijih nikel, karena kedepannya pemerintah mendorong ekspor produk hilir nikel sehingga nilai jual menjadi lebih tinggi. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan nilai tambah pada bijih nikel, contohnya adalah nikel yang kemudian diolah menjadi stainless steel slab dan bahan baku baterai lithium.

Related posts